BPI Rancang Lima Klaster Industri, Serap Ribuan Tenaga Kerja
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Suasana hangat dan penuh nuansa kekeluargaan mewarnai kunjungan Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Saumlaki, Zaenal Arifin, ke kantor PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), yang berlokasi di Jalan Ir. Soekarno, Kelurahan Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jumat (29/5/2026).
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarlembaga, tetapi juga berkembang menjadi ruang diskusi strategis mengenai pengembangan sumber daya manusia, pengurangan angka pengangguran terbuka, kesiapan tenaga kerja lokal menghadapi investasi industri, hingga implikasi perpajakan yang akan muncul seiring bertumbuhnya aktivitas ekonomi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dalam kesempatan itu, Komisaris PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), Franky Noya mengungkapkan bahwa angka pengangguran terbuka di Tanimbar diperkirakan masih berada pada kisaran lima ribu orang.
Baca juga: Brimob Maluku Panen Jagung, Perkuat Ketahanan Pangan di Tanimbar
Karena itu, berbagai program pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja tengah disiapkan sebagai bagian dari upaya mengurai persoalan tersebut secara bertahap. “Kita sudah mapping sampai semaksimal mungkin. Kita mencoba mengurai angka pengangguran terbuka di Tanimbar dan kontraknya itu tiga tahun,” ujar Komisaris BPI.
Menurutnya, perhatian BPI tidak hanya tertuju pada kebutuhan tenaga kerja yang berkaitan langsung dengan pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela, tetapi juga pada sektor-sektor pendukung yang memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
Lima Klaster Industri Penopang Ekonomi
BPI, kata dia, telah merancang konsep pengembangan lima klaster industri yang diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.
Baca juga: Sat Samapta Polres Tanimbar Intensifkan Patroli Malam di Titik Rawan
Salah satu klaster yang disiapkan mencakup sektor pangan, peternakan, pertanian, dan perikanan yang nantinya akan menopang kebutuhan industri berskala besar yang berkembang di Tanimbar. “Kita sudah buat desain konsep ada lima klaster industri untuk multiplier effect. Salah satu contoh ada klaster pangan, peternakan, pertanian, perikanan. Di klaster ini juga dia menyerap sampai 500 sampai 1.000 orang,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan kapasitas tenaga kerja tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan proyek migas, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
Sertifikasi dari Tukang Taman hingga Manajer
Dalam diskusi tersebut, Kepala KP2KP Saumlaki turut menanyakan apakah program pelatihan yang disiapkan BPI mencakup berbagai sektor pekerjaan.
Menjawab pertanyaan itu, Komisaris BPI menegaskan bahwa program yang disusun mencakup seluruh lini pekerjaan, mulai dari tenaga teknis dasar hingga level manajerial.
“Itu termasuk semua. Ibaratnya dari tukang taman sampai level manajer di atas. Kita mau berdayakan orang lokal sekaligus memberikan sertifikasi untuk membuka peluang kerja bagi semuanya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa setiap peserta tidak hanya dibekali kompetensi teknis sesuai bidang pekerjaannya, tetapi juga pendidikan karakter dan kesiapan menghadapi budaya kerja industri modern. “Mulai dari yang punya sertifikat formal, kemudian pelatihan sertifikat kompetensi sesuai bidangnya. Setelah itu ada pembinaan karakter yang diberikan secara berjenjang,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan karakter menjadi penting karena tenaga kerja yang nantinya terlibat akan berasal dari latar belakang yang beragam sehingga perlu memiliki kesiapan menghadapi sistem kerja industri yang disiplin dan terstruktur.
Persiapan Jauh Sebelum Produksi Masela
Dalam pembicaraan tersebut, Kepala KP2KP Saumlaki sempat menanyakan apakah seluruh program yang dirancang hanya berfokus pada Blok Masela.
Komisaris BPI menegaskan bahwa program tersebut memiliki cakupan yang lebih luas dan tidak bergantung sepenuhnya pada dimulainya produksi migas. “Sama sekali tidak. Masela belum. Mungkin empat tahun lagi. Kita bicara kebutuhan yang lebih luas dari itu,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pada tahap konstruksi nantinya kebutuhan tenaga kerja memang akan meningkat signifikan, namun BPI memilih mempersiapkan masyarakat jauh sebelum fase tersebut dimulai.
Menurut proyeksi yang disampaikan, fase konstruksi besar diperkirakan mulai berlangsung menjelang akhir 2027 dan akan membuka peluang kerja dalam jumlah besar bagi tenaga kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Pajak, Investasi, dan Tumbuhnya Ekonomi Baru
Sementara itu, Kepala KP2KP Saumlaki, Zaenal Arifin, menyoroti aspek administrasi perpajakan yang akan muncul seiring bertambahnya jumlah tenaga kerja dan aktivitas ekonomi di daerah.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya ingin memperoleh gambaran yang utuh terkait pola rekrutmen dan model bisnis yang dikembangkan BPI agar dapat memberikan pendampingan perpajakan secara tepat. “Saya diperintahkan pimpinan, coba koordinasikan dengan BPI. Intinya supaya kami bisa mendapatkan informasi yang utuh,” kata Zaenal Arifin.
Menanggapi hal tersebut, Komisaris BPI menilai bahwa peningkatan aktivitas ekonomi akan berdampak positif terhadap penerimaan negara sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kewajiban administrasi dan perpajakan. “Nanti kalau sudah jalan, negara dapat pajak. Bayangkan ribuan orang yang sekarang harus ikut aturan negara yang selama ini mungkin belum mereka pahami,” ujarnya.
Menyiapkan Masa Depan Tanimbar
Bagi BPI, pengembangan sumber daya manusia bukan sekadar proyek pelatihan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Tanimbar.
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di industri migas nasional dan internasional, Komisaris BPI meyakini bahwa kesiapan tenaga kerja lokal akan menjadi faktor penting dalam menentukan sejauh mana masyarakat Tanimbar dapat menikmati manfaat dari berbagai investasi yang masuk ke daerah tersebut. “BPI adalah rekanan Kementerian ESDM. Seluruh Indonesia. Karena kita melihat praktik di industri migas dan Pak Bupati minta bantu, ya sudah saya bantu. Saya 35 tahun di migas,” ungkapnya.
Di tengah berbagai rencana investasi yang mulai bergerak menuju Tanimbar, pertemuan antara BPI dan KP2KP Saumlaki menjadi penanda bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang proyek dan infrastruktur, tetapi juga tentang menyiapkan manusia yang akan menjadi pelaku utama pembangunan itu sendiri.(rls:jk)





