Senin, 20 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pastor Pius Heljanan, MSC: Bukalah Hati dan Bersyukurlah

Oleh: joko

http://suaraanaknegeri.com | Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku | Senin, 20 Juli 2026 –
Iman yang Tidak Bergantung pada Bukti
Dalam perjalanan hidup beriman, manusia kerap berada pada persimpangan antara percaya dan ragu. Tidak jarang, seseorang baru bersedia percaya setelah melihat tanda, menyaksikan bukti, atau mengalami sendiri sesuatu yang dianggap sebagai campur tangan Tuhan.

Namun, iman sejati justru mengajak manusia untuk melangkah lebih jauh. Percaya bukan semata-mata karena apa yang terlihat oleh mata, melainkan karena hati yang terbuka untuk mengenali kehadiran Tuhan dalam setiap pengalaman hidup.

Baca juga: Bertahun-tahun Rusak, Warga BTN Saumlaki Menanti Perbaikan

Pesan reflektif itu disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Dalam renungannya yang berangkat dari Injil Matius 12:38-42, Pastor Pius mengajak umat untuk membangun iman yang tidak menjadikan tanda dan bukti sebagai syarat utama untuk percaya kepada Yesus. “Sungguh yg ada di sini lebih dari Yunus dan Salomo.”

Ketika Hati Tertutup oleh Tuntutan
Menurut Pastor Pius, kisah orang Farisi dan ahli Taurat menjadi cermin bagi manusia beriman masa kini. Mereka telah melihat berbagai tanda dan perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus, tetapi hati mereka tetap belum terbuka untuk menerima-Nya sebagai Tuhan dan Penyelamat.

Baca juga: Lautan Jamaah di Alun-alun Situbondo dalam "Haul Masyayikh Se-Indonesia" 

“Saudaraku, org Farisi dan ahli Taurat belum puas dan percaya pada Yesus walaupun sudah melakukan tanda-tanda heran,” demikian pesan Pastor Pius.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa persoalan iman tidak selalu terletak pada kurangnya tanda. Kadang-kadang, persoalannya justru berada di dalam hati manusia yang telah lebih dahulu tertutup oleh keinginan, tuntutan, dan kepentingan pribadi.

Bahkan ketika tanda telah hadir, manusia masih dapat mencari alasan untuk kembali meragukan. Ketika bukti telah diberikan, hati masih dapat menuntut bukti berikutnya.

Karena itu, iman tidak seharusnya dibangun di atas tuntutan agar Tuhan selalu membuktikan kuasa-Nya sesuai dengan keinginan manusia.

Tuhan Hadir dalam Kesederhanaan Hidup
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali menunggu sesuatu yang besar untuk menyadari bahwa Tuhan hadir. Padahal, kasih Tuhan dapat ditemukan melalui hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan.

Masih diberi kesempatan untuk hidup. Masih dapat menjalankan aktivitas. Masih dapat merasakan kebahagiaan. Masih memiliki keluarga, sahabat, dan orang-orang yang dicintai.

Semua itu, dalam refleksi Pastor Pius, merupakan tanda kasih Tuhan yang sering kali luput dari kesadaran manusia.
“Terkadang dlm hidup beriman, kita menuntut Tuhan menunjukkan kuasa sebagai bukti utk bertobat dan percaya padaNya,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi sebuah ajakan untuk melihat kembali cara manusia menjalani kehidupan beriman. Jangan sampai iman hanya tumbuh ketika doa dikabulkan, ketika persoalan terselesaikan, atau ketika sebuah mukjizat terjadi.

Sebab, jika iman hanya bergantung pada apa yang diinginkan, maka hubungan manusia dengan Tuhan berisiko berubah menjadi hubungan transaksional: manusia meminta, Tuhan dituntut memberi; manusia baru percaya ketika keinginannya terpenuhi.

Belajar Berhenti Memaksa Tuhan
Pastor Pius mengajak umat untuk melakukan pertobatan yang lebih mendalam. Pertobatan bukan hanya meninggalkan kesalahan moral, tetapi juga melepaskan kebiasaan memaksakan kehendak pribadi kepada Tuhan.

“Sadarilah, sampai saat ini kita masih hidup, melakukan aktivitas, bahagia dgn org yg kita cintai, merupakan tanda cinta Tuhan bagimu,” pesannya.
Kesadaran semacam itu mengajak manusia untuk memandang kehidupan dengan perspektif yang berbeda. Napas yang masih berhembus, kesempatan untuk bekerja, keluarga yang masih bersama, serta kemampuan untuk mencintai dan dicintai, bukan sekadar rutinitas yang berjalan begitu saja. Di balik semua itu, ada kasih Tuhan yang bekerja dalam keheningan.

Manusia mungkin tidak selalu menyadarinya karena terlalu sibuk menunggu sesuatu yang luar biasa. Padahal, bisa jadi mukjizat terbesar justru adalah kehidupan itu sendiri, kesempatan untuk bangun setiap pagi, memperbaiki kesalahan, mengasihi sesama, dan kembali mendekat kepada Tuhan.

Membuka Hati dan Bersyukur
Pada akhirnya, iman mengajak manusia untuk membuka hati. Bukan hanya membuka mata untuk melihat tanda, tetapi juga membuka batin untuk mengenali kasih Tuhan yang hadir dalam berbagai bentuk.

“Bertobatlah dari kebiasaan memaksa Tuhan mengikuti keinginan diri. Buka hatimu, bersyukurlah,” kata Pastor Pius.

Ajakan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki makna rohani yang dalam. Manusia tidak dipanggil untuk menjadikan Tuhan sebagai pemenuh seluruh keinginan pribadi, melainkan belajar menemukan kehendak-Nya dalam setiap perjalanan kehidupan.

Rasa syukur menjadi salah satu jalan untuk mengubah cara pandang. Dengan bersyukur, manusia belajar melihat bahwa hidup tidak hanya diukur dari apa yang belum dimiliki, tetapi juga dari begitu banyak berkat yang telah diterima.

Hidup sebagai Tanda Kasih Tuhan
Refleksi Pastor Pius kemudian bermuara pada sebuah kesadaran penting: bahwa keberadaan manusia hingga hari ini merupakan tanda kasih Tuhan. “Hidupmu saat ini merupakan tanda kasih Tuhan bagimu dan sesama.”

Pesan ini sekaligus menjadi undangan untuk menghayati iman secara lebih dewasa. Percaya kepada Yesus tidak harus selalu menunggu bukti yang spektakuler.

Sebab, Tuhan dapat hadir melalui kehidupan yang sederhana, melalui orang-orang yang mencintai kita, melalui kesempatan untuk berbuat baik, dan bahkan melalui pengalaman sulit yang perlahan membentuk kedewasaan iman.

Dalam terang Injil Matius 12:38-42, manusia diajak untuk tidak mengulangi sikap orang Farisi dan ahli Taurat yang terus menuntut tanda, tetapi tidak mampu mengenali siapa yang hadir di hadapan mereka.

Yesus tidak hanya menawarkan tanda untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Ia mengundang setiap orang untuk percaya, bertobat, membuka hati, dan menghidupi kasih dalam keseharian.

Di tengah dunia yang semakin terbiasa meminta bukti sebelum percaya, pesan Pastor Pius Heljanan, MSC, menjadi sebuah refleksi yang relevan.

Barangkali yang perlu diubah bukanlah cara Tuhan menunjukkan kasih-Nya, melainkan cara manusia membuka hati untuk menyadari bahwa kasih itu sebenarnya telah hadir sejak lama.

Kategori:
Tags:

Terkini