Laporan Paulus Laratmase
–
PADANG — SUARA ANAK NEGERI|Dari sebuah jendela kaca, dunia kadang hanya terlihat sebagai bayang-bayang. Namun dari sebuah buku, dunia dapat dibuka selebar cakrawala.
Baca juga: "NEGARA BUKAN PANGGUNG"
Di tangan dua siswi SMP Negeri 2 Padang, Afika Karisa Makmur dan Afika Inaya Mallika, kata-kata tidak saja dibaca. Kata-kata diberi napas, diberi irama, lalu diterbangkan menjadi pesan yang mengetuk kesadaran.
Afika Karisa Makmur tercatat sebagai juara musikalisasi puisi tingkat nasional tahun 2026, sementara Afika Inaya Mallika menorehkan prestasi sebagai juara musikalisasi puisi tingkat Provinsi Sumatera Barat tahun 2025. Keduanya membawa nama SMP Negeri 2 Padang dalam perjalanan seni yang menjadikan puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan suara zaman.
Baca juga: SUKA-SUKA KAU LAH
Di panggung musikalisasi itu, suara mereka seperti mengetuk sebuah pintu yang lama tertutup.
“Kita kaya akan cerita.
Kaya akan sejarah.
Tapi mengapa
minat membaca
jujur menyerah?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menggema panjang.
Indonesia adalah negeri yang dibangun dari ribuan cerita. Dari sejarah yang diwariskan leluhur, dari lembar-lembar buku yang menyimpan ingatan, hingga kata-kata yang menunggu dibaca oleh generasi berikutnya.
Namun zaman bergerak begitu cepat.
Ribuan kata perlahan terbuang, digantikan suara bising yang riuh. Buku ditinggalkan. Halaman-halaman yang seharusnya menjadi jendela pengetahuan justru berdebu dalam sudut-sudut perpustakaan.
“Halaman buku menjelma jelaga,
dilewati, diabaikan.”
Melalui musikalisasi puisi, kedua siswi itu seolah mengajak generasinya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
Lihatlah sekelilingmu.
Masih ada jendela yang terbuka. Masih ada perpustakaan. Masih ada buku. Dan di antara lembar-lembar yang sunyi itu, tersimpan masa depan.
Buku, dalam narasi mereka, simbol kertas dan tinta.
Buku adalah pelita.
Pelita yang menerangi jalan ketika pikiran mulai kehilangan arah. Pelita yang menghidupkan imajinasi ketika dunia terasa terlalu bising. Pelita yang mengajarkan manusia bahwa masa depan tidak dibangun hanya dengan kecepatan, tetapi juga dengan kedalaman berpikir.
“Wahai jiwa-jiwa muda!
Lembar demi lembar,
kembalilah membaca.
Tuntutlah ilmu.”
Pesan itu menjadi jantung dari pertunjukan.
Mereka tidak sedang bercerita tentang buku semata. Mereka sedang berbicara tentang generasi muda yang berdiri di persimpangan zaman: antara layar dan halaman, antara kecepatan informasi dan kedalaman pengetahuan, antara budaya membaca dan budaya menggulir tanpa henti.
Karena itu, ajakan mereka terdengar seperti seruan kecil yang ingin menjadi gema besar:
Ayo membaca.
Ayo membuka literasi.
Jangan biarkan kemajuan zaman memenjarakan pikiran.
Musik menjadi denyut. Puisi menjadi suara. Dan panggung menjadi ruang perenungan.
Di sana, gitar tidak hanya memainkan nada. Jemari tidak hanya menari di atas senar. Setiap bait seakan membawa pesan bahwa ilmu pengetahuan harus diperjuangkan, bukan ditunggu.
“Dalamilah sang perang untuk esok hari,
lawan malasmu.”
Sebab perang terbesar generasi muda barangkali bukanlah perang dengan senjata, melainkan perang melawan kemalasan, ketidakpedulian, dan keengganan untuk menyelami makna.
Afika Karisa Makmur dan Afika Inaya Mallika memperlihatkan bahwa anak-anak muda dapat berbicara tentang masa depan dengan bahasa seni.
Prestasi mereka bukan hanya tentang piala dan gelar juara. Lebih jauh dari itu, prestasi tersebut menjadi pesan bahwa literasi masih memiliki tempat di tengah dunia yang semakin gaduh.
Dari SMP Negeri 2 Padang, dua suara muda itu seakan mengirimkan salam kepada Indonesia:
Jangan biarkan buku menjadi benda asing.
Jangan biarkan perpustakaan menjadi ruang yang sunyi.
Jangan biarkan ribuan kata mati tanpa pernah dibaca.
Bukalah satu halaman hari ini.
Karena mungkin, di balik halaman itulah, Indonesia sedang menunggu masa depannya.
Dan ketika halaman itu dibuka, sebuah jendela pun terbuka.
Jendela menuju dunia.
Jendela menuju pengetahuan.
Jendela menuju Indonesia yang lebih literat, demikian Puisi Eka Teresia, S.Pd.,M.M. yang dibacakan oleh dua srikandi dari SMP Negeri 2 Padang Sumatera Barat.


