Rabu, 09 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Membincang Sound Horeg

Secangkir Kopi Cak Mus  – 09.09.26

SURABAYA – SUARA ANAK NEGERI| Di Kencong Jember, 11-12 September mendatang ada sound horeg. Parade di jalan, tentu saja. Ada penikmat? Tentu. Ada penolak? Iya. Ada “kebaikan” versi pendukung, ho-oh. Ada madarat? pasti, pasti dan pasti.

Baca juga: SUKA-SUKA KAU LAH

Sikap saya sejak awal jelas dan tanpa tedeng aling-aling: tidak setuju adanya parade beginian. Santai saja, anda punya hak, saya juga. Demikian juga masyarakat lain.

Tenang saja, disikapi santai, ini cara “rakjat djelata” menikmati hiburan! Kata mereka. Sik, sik, sik, ini “rakjat djelata” yang mana? Bukankah yang terganggu dan risih juga dari kalangan rakjat djelata juga? Yang terganggu dengan polusi suara, risih dan tak berdaya “ditarik” urunan, juga khawatir terhadap dampak negatif lain. Itu yang terakhir, catat ya, bukan hanya “rakjat djelata”.

Yang lucu, di threads, ada pendukung sound horeg pasang video: koreografi dancer horeg dengan kostum hitam kompak menari dengan bertopi koboi. Di tangannya ada sabit rumput/gandum yang identik dengan penggambaran malaikat maut versi Eropa. Diiringi kendaraan memuat sound bertumpuk dan suara musik menghentak. Ini penampilan di Malang, kayaknya,

Baca juga: "HAPPY FEET": Poem (Nursery Rhymes) Collection by Leni Marlina

Lalu, pemilik akun memberi narasi: “Jika SDM tinggi menghujat sound horeg adalah hama, lantas apakah SDM tinggi mampu membuat acara seperti ini dan berkarya agar kekompakan pemuda dan masyarakat menjadi satu!”

Ramai-lah postingan itu diserbu kubu anti-sound horeg yang sudah muak. Komennya lucu-lucu tapi menarik. Yang pasti, 13 ribu komentar menampilkan sisi yang asyik: banyak alternatif kesenian dan atas nama “tradisi”, budaya Jawa, capaian inovasi seni yang dilakukan para komentator, dan yang pasti benar-benar “tidak mengganggu khalayak”: dari reog Ponorogo, panggung kolosal sendratari yang megah, pelestari langgam Jawa yang mengkombinasikannya dengan orkestrasi biola, parade jalanan di Bali dengan atraksi ogoh-ogohnya yang eksotik dan sakral itu, atau teatrikal jalanan di Surabaya yang menampilkan secara kolosal episode pertempuran 10 November 45. Banyak banget reply-an kolom komentar dalam bentuk video atraksi yang apik dan LAYAK DINIKMATI serta tidak mengganggu!

Bukankah sound horeg ini bagian kebebasan berekspresi, wahai orang yang sok suci? Tentu, wahai orang yang sok kotor. Tapi jangan lupa orang lain juga punya hak dan kebebasan berekspresi. Bebas memiliki ketenangan agar tidak terganggu dengan suara bising yang menggelegar. Intinya, jangan memindah diskotik di jalanan umum. Ini nggak baik.

Jangan lupa, ada banyak keluarga yang sebenarnya tidak rela dan tidak ikhlas ditarik urunan puluhan hingga ratusan ribu hanya untuk nanggap suara menggelegar, tapi mereka tidak berdaya dan tidak berani bersuara. Khawatir dikucilkan tetangganya. Ini orang-orang yang “suaranya terbungkam”. Minimal dengan menyuarakan hal ini di medsos, kita menampilkan keberpihakan kepada mereka, sesama “rakjat djelata” yang tak mampu bersuara lantang menolak.

Kalau saya pribadi sih sudah siap dijauhi pendukung sound horeg, toh saya nggak merasa berhutang 3 hal ini kepada mereka: hutang budi, hutang duwit, dan hutang ilmu. Kenapa harus peduli pada sikap mereka yang menjauhi kita? Sesederhana itu.

Apakah saya introvert akut? Tidak. Saya ekstrovert, suka kumpul-kumpul, tapi anti berisik yang mengganggu orang lain. Ini prinsip hati dan kupingku rek!

Saya suka musik? Ya, musik cadas, bahkan. Paling favorit ya Metallica, Guns n Roses dan Dream Theatre. Termasuk karya-karya Linkin Park dan hiphopnya Eninem, Snoop Dog, 50 Cent, hingga Dr Dre dan yang lawas si Tupac Shakur. Tapi ketika saya menikmatinya cukup pakai earphone. Dijejalkan ke telingaku saja. Tolol ya juga konyol kalau saya nyetel musik kesukaan saya di depan warga kampung, diarak pula. Kalau mau menikmati lebih dahsyat ya bawa sound ke sawah sambil menikmati tanduran. Setel kenceng-kenceng pula, biar burung pipit yang menikmatinya. Yang terakhir nggak saya lakukan. Go blog po piye?

Kita punya lisan, orang lain juga punya. Yang paling elegan menahan lisan agar tidak menyakiti orang lain. Kita punya sepasang telinga dan hasrat musik yang berbeda. Jika hendak menikmati, ya nikmati saja sendirian, atau di tempat terbatas, tanpa secara extravagan menyetelnya keras-keras dengan dentuman musik yang bisa menggetarkan jendela dan mengganggu pemilik telinga lain.

“Ini hakku, kok. Mau apa kamu? Aku dapat izin juga dari aparat!”

“Oh oke, jika seleramu house music atau koplo yang disetel dengan kekuatan maksimal, dan kamu menikmatinya, aku juga bisa memutar lagu-lagunya Slipknot, Slaughter to Prevail, atau Sepultura sekalian!”

“(Grup) Musik apa itu?”

“Nah, berarti ini soal selera musik yang dipaksa dengarkan ke telinga orang lain, bukan semata klaim soal hak.”

“Ya tetap hak dong.”

“Hak kita terbatasi oleh hak orang lain, mas. Kita berhak merayakan kebebasan seni atau KESENANGAN, tapi orang lain juga punya kebebasan merayakan KETENANGAN.”

*
Ingat lho ya, ingat, adakalanya kesulitan dan keruwetan hidup yang kita alami hari ini atau di masa depan, adalah dari doa orang orang yang terdzalimi oleh perbuatan kita. Ati ati rek!

Saya juga khawatir, sekali saya bersikap mendukung parade sound horeg, apapun motifnya, kelak anak keturunan saya ditakdirkan menjadi penggeraknya. Saya khawatir, saya khawatir, saya khawatir. Entah dengan anda.

Saya berlindung kepada Allah dari hal hal begini. Wallahul Musta’an!
——

Salam.
Rijal Mumazziq Z, 42 tahun: penikmat musik menggelegar, gitar melengking, suara tetabuhan berisik, jeritan vokalis musik cadas, tapi UNTUK SEPASANG KUPING SENDIRI.

Kategori:
Tags:

Terkini