Oleh: Rizal Tanjung
–
Membaca Secara Kritis “Sebuah Puisi Esai” Denny JA
Baca juga: Puisi - Puisi Karya Leni Marlina dan Zulkifli Abdy
Ada sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak kita hindari ketika sebuah karya diberi nama “puisi esai”:
> Di manakah esainya?
Pertanyaan itu bukan penghinaan terhadap puisi. Bukan pula penolakan terhadap kemungkinan lahirnya genre hibrida. Justru sebaliknya, pertanyaan itu penting agar istilah puisi esai tidak menjadi semacam jubah yang cukup dikenakan pada puisi agar tampak lebih faktual, lebih intelektual, dan lebih sosial.
Baca juga: DARI SUARA ANAK NEGERI KE PANGGUNG ASEAN
Sebab sastra bukan perkara nama.
Sebuah karya tidak menjadi puisi esai hanya karena pengarang menuliskan tanggal, tempat, angka magnitudo, korban bencana, lalu menyelimutinya dengan metafora.
Genre bukan papan nama yang dipasang di depan rumah. Genre adalah arsitektur yang harus tampak di dalam rumah itu sendiri.
—
I. PUISI DAN ESAI: DUA SUNGAI YANG BERBEDA
Puisi dan esai sama-sama menggunakan bahasa, tetapi mereka tidak berjalan dengan cara yang sama.
Puisi adalah bahasa yang mengalami pemadatan.
Ia tidak selalu ingin menjelaskan.
Ia ingin menyarankan.
Ia tidak selalu memberi jawaban.
Ia sering meninggalkan gema.
Ia bekerja melalui:
citraan,
metafora,
simbol,
irama,
bunyi,
repetisi,
enjambemen,
ambiguitas,
paradoks,
dan ruang sunyi di antara kata-kata.
Puisi tidak berkata:
> Ibu sangat mencintai anaknya.
Ia dapat mengatakan:
> Dadanya menjadi rumah terakhir.
Satu kalimat itu tidak menerangkan cinta.
Ia membuat kita melihat cinta.
—
Sedangkan esai adalah bahasa yang berpikir.
Esai membutuhkan:
gagasan,
argumentasi,
observasi,
fakta,
analisis,
refleksi,
hubungan sebab-akibat,
dan sikap intelektual terhadap persoalan.
Esai bertanya:
> Mengapa rumah itu runtuh?
> Mengapa masyarakat tetap tinggal di bangunan yang rentan?
> Apakah korban bencana semata-mata korban alam?
> Apakah kemiskinan memperbesar risiko kematian?
> Bagaimana negara mengantisipasi gempa?
> Di mana tanggung jawab manusia ketika alam bergerak?
Puisi mungkin membuat kita menangis.
Esai membuat kita bertanya mengapa kita menangis.
Puisi mengguncang hati.
Esai mengguncang pikiran.
Dan karya yang hebat dapat melakukan keduanya.
—
II. LALU, PUISI ESAI ITU APA?
Di sinilah wilayah perdebatan sebenarnya.
Apakah puisi esai adalah:
> esai yang dibuat puitis?
Atau:
> puisi yang dimasuki unsur esai?
Menurut saya, keduanya terlalu sederhana.
Puisi esai seharusnya bukan sekadar esai yang memakai bunga bahasa, dan bukan pula puisi yang ditempeli fakta sebagai ornamen.
Ia seharusnya menjadi ruang pertemuan antara:
> fakta dan imajinasi,
individu dan masyarakat,
emosi dan pikiran,
kisah personal dan problem sosial.
Kalau digambarkan:
Puisi biasa:
> pengalaman → imaji → metafora → pengalaman batin
Esai:
> fakta → persoalan → argumentasi → analisis → kesimpulan
Sedangkan puisi esai idealnya:
> fakta → manusia → konflik → pengalaman batin → persoalan sosial → refleksi → bahasa puitik.
Di sinilah letak persoalannya ketika kita membaca karya Denny JA.
—
III. “MARIA” DAN “DAVID”: FAKTA ATAU REKAAN?
Pada bagian pembuka, pengarang sudah memberikan semacam pagar:
> “Maria, David, percakapan, dan detail kehidupan mereka dalam puisi ini adalah rekaan puitik.”
Ini sebuah pengakuan yang penting.
Artinya kita tidak boleh membaca Maria dan David sebagai dokumentasi jurnalistik.
Mereka adalah tokoh rekaan yang terinspirasi oleh sebuah peristiwa nyata.
Tidak ada masalah dengan itu.
Sastra memiliki hak untuk mengolah kenyataan.
Tetapi justru karena tokohnya rekaan, muncul pertanyaan yang lebih berat:
> Apa yang membuat teks ini menjadi esai?
Tanggal dan magnitudo gempa adalah fakta.
Tetapi Maria adalah rekaan.
David adalah rekaan.
Percakapannya rekaan.
Detail rumahnya rekaan.
Demam David rekaan.
Dialog ibu dan anak rekaan.
Adegan kematian rekaan.
Adegan penyelamatan rekaan.
Dengan demikian, sebagian besar tubuh naratifnya justru dibangun oleh imajinasi.
Ini menjadikan karya tersebut sah sebagai fiksi puitik.
Tetapi belum otomatis menjadikannya puisi esai.
—
IV. FAKTA BUKAN ESAI
Inilah persoalan yang paling sering disalahpahami.
Fakta tidak sama dengan esai.
Menulis:
> 15 Agustus 2026.
adalah fakta.
Menulis:
> Magnitudo 7,7.
adalah fakta.
Menulis tentang korban adalah fakta atau informasi.
Tetapi fakta baru menjadi bagian dari pemikiran esai ketika fakta tersebut diolah menjadi pertanyaan, persoalan, analisis, atau refleksi.
Kalau saya menulis:
> Gempa terjadi. Magnitudonya 7,7. Rumah runtuh.
Saya belum menulis esai.
Saya baru memberikan informasi.
Esai baru mulai berdenyut ketika saya bertanya:
> Mengapa sebuah gempa alam harus berubah menjadi bencana sosial?
Di situlah pikiran memasuki puisi.
—
V. GEMPA DALAM KARYA INI: SUBJEK ATAU SEKADAR PANGGUNG?
Menurut saya, inilah titik paling lemah karya tersebut.
Gempa tidak benar-benar menjadi objek pemikiran utama.
Gempa lebih banyak menjadi mesin dramatik.
Bumi bergerak.
Rumah runtuh.
Maria memeluk David.
Maria mati.
Penyelamat datang.
Pelukan tetap utuh.
Pembaca menangis.
Dengan kata lain:
> Gempa digunakan untuk menguji cinta seorang ibu.
Bukan:
> Cinta seorang ibu digunakan untuk membuka persoalan sosial tentang gempa.
Perbedaan itu sangat besar.
Dalam teks ini, tragedi alam terutama menjadi panggung bagi tragedi keibuan.
Flores menjadi latar.
Gempa menjadi katalis.
Maria menjadi simbol.
Dan cinta ibu menjadi pusat gravitasi.
Maka pertanyaan kritisnya:
> Jika gempa itu dihilangkan dan diganti dengan kecelakaan, kebakaran, atau bencana lain, apakah struktur emosional puisi ini masih bekerja?
Kemungkinan besar iya.
Dan kalau demikian, berarti gempa belum menjadi persoalan substantif karya; ia hanya menjadi kendaraan tragedi.
—
VI. METAFORA: INDAH, TETAPI TERLALU RAJIN
Karya ini kaya metafora.
Misalnya:
> “dua lengan Ibu sebagai pantainya”
> “detak jantung … mercusuar”
> “Lima jarinya menjadi akar-akar kecil”
> “telapak seorang ibu adalah jembatan”
> “tubuh Ibu lebih besar untuk menanggungnya”
> “tubuhnya menjadi doa”
> “dadanya menjadi rumah terakhir”
> “Debu naik seperti ribuan doa”
Secara permukaan, semuanya puitis.
Tetapi puisi tidak menjadi dalam hanya karena metaforanya banyak.
Ada bahaya ketika metafora datang terlalu berurutan:
lengan menjadi pantai,
jantung menjadi mercusuar,
jari menjadi akar,
telapak menjadi jembatan,
tubuh menjadi doa,
dada menjadi rumah.
Metafora-metafora tersebut terus menerus mengatakan hal yang sama:
> ibu adalah tempat perlindungan.
Karena terlalu sering diterangkan, metafora akhirnya tidak lagi membuka banyak kemungkinan makna.
Ia justru mengunci pembaca pada satu kesimpulan emosional.
Puisi yang kuat kadang hanya membutuhkan satu metafora yang tepat, lalu membiarkan pembaca bekerja di dalamnya.
—
VII. KETIKA METAFORA BERUBAH MENJADI KALIMAT POSTER
Ada beberapa bagian yang sangat mudah menjadi kutipan media sosial:
> “Angka yang begitu pendek untuk kesedihan begitu panjang.”
> “Satu angka, seribu retakan.”
> “Kematian hanya mengetahui cara menghentikan darah, bukan cinta.”
Kalimat-kalimat ini terdengar indah.
Tetapi justru karena terlalu “siap kutip”, kita perlu berhati-hati.
Puisi bukan pabrik kalimat mutiara.
Kalimat yang terdengar indah belum tentu mengandung penemuan puitik.
Kadang kalimat seperti:
> “Kematian hanya mengetahui cara menghentikan darah, bukan cinta.”
lebih dekat kepada aforisme sentimental daripada puisi yang menyisakan ambiguitas.
Ia sudah memberikan kesimpulan kepada pembaca.
Tidak ada ruang untuk menafsir.
Tidak ada luka yang dibiarkan terbuka.
Pengarang sendiri yang datang membawa perban dan mengatakan:
> “Inilah maknanya.”
—
VIII. DIALOG YANG TERLALU BIJAK UNTUK MANUSIA BIASA
Contohnya:
> “Ibu, apakah rumah cuma dinding?”
Lalu Maria menjawab:
> “Rumah adalah hati yang membuka pintu, bahkan ketika seluruh dunia menutupnya.”
Secara retoris memang cantik.
Tetapi apakah seorang anak dalam situasi tersebut benar-benar berbicara seperti itu?
Persoalannya bukan realisme semata.
Persoalannya adalah suara karakter.
Maria terlalu sering berbicara sebagai juru bicara filsafat pengarang.
Ia bukan lagi sepenuhnya Maria.
Ia menjadi:
> “Ibu Kebijaksanaan.”
Begitu juga ketika:
> “Berikan demammu kepada Ibu, David.”
dan:
> “Tidak. Semuanya saja.”
Dialog tersebut dirancang untuk mengiris hati.
Namun karena terlalu sadar akan efek emosionalnya, ia berisiko menjadi sentimental.
Sastra yang kuat tidak selalu perlu memeras air mata pembaca.
Kadang justru kalimat sederhana lebih menghancurkan:
> “David, jangan tidur dulu.”
Dan selesai.
Pembaca sendirilah yang menyelesaikan tragedinya.
—
IX. TOKOH MARIA: MANUSIA ATAU MONUMEN?
Maria hampir tidak mempunyai cacat.
Ia ibu.
Ia lembut.
Ia penyayang.
Ia rela berkorban.
Ia berjaga.
Ia memeluk.
Ia mati demi anak.
Secara moral ia nyaris sempurna.
Tetapi sastra tidak selalu membutuhkan manusia sempurna.
Sastra membutuhkan manusia yang retak.
Bayangkan jika Maria sebelum gempa sempat marah kepada David.
Atau bertengkar dengan suaminya.
Atau menyesali kemiskinan.
Atau takut mati.
Atau pernah berpikir menyelamatkan dirinya sendiri.
Lalu ketika gempa datang, ia tetap memilih anaknya.
Bukankah pengorbanannya akan menjadi jauh lebih manusiawi?
Sekarang Maria hadir terutama sebagai simbol cinta ibu.
Ia menjadi patung.
Dan patung memang indah.
Tetapi manusia lebih menarik karena memiliki retakan.
—
X. BAGIAN AKHIR BARU MENCARI “ESAI”
Kemudian muncullah kalimat:
> “Jangan salahkan bumi seluruhnya.”
dan:
> “Kita telah lama tahu Flores berdiri di atas luka, tetapi masih membangun rumah…”
Nah!
Di sinilah akhirnya esai mengetuk pintu.
Ada kritik sosial.
Ada persoalan manusia.
Ada pertanyaan tentang pembangunan.
Ada kemungkinan kritik terhadap mitigasi bencana.
Tetapi persoalannya:
> Mengapa gagasan ini baru muncul di ujung?
Ia terasa seperti seseorang yang setelah selesai bercerita tiba-tiba berdiri di depan panggung dan berkata:
> “Saudara-saudara, jangan lupa, ada persoalan sosial di balik semua ini.”
Akibatnya, unsur esai terasa seperti epilog moral, bukan tulang punggung karya.
Esai bukan tempelan di akhir puisi.
Esai harus berdenyut sejak awal.
—
XI. PUISI INI TERLALU CEPAT MEMBERIKAN KESIMPULAN
Puisi yang kuat memberi pembaca luka.
Puisi yang lebih kuat memberi pembaca luka tanpa langsung menjelaskan bagaimana luka itu harus dirasakan.
Dalam karya ini hampir semua hal sudah diberi nama:
Cinta disebut cinta.
Rumah disebut hati.
Tubuh disebut doa.
Kematian dikontraskan dengan cinta.
Gempa dikontraskan dengan penderitaan.
Pelukan dijadikan simbol keabadian.
Semua pintu interpretasi seolah sudah dibukakan oleh pengarang.
Akibatnya pembaca kurang diberi kesempatan menjadi penafsir.
Pembaca hanya menjadi penerima emosi.
—
XII. APAKAH INI BERARTI KARYANYA BURUK?
Tidak.
Dan kritik yang baik harus adil.
Karya ini mempunyai kekuatan.
Ia komunikatif.
Narasinya mudah diikuti.
Citraannya mudah dibayangkan.
Emosinya langsung.
Metaforanya mudah ditangkap.
Tokohnya mudah dikenali.
Bagi pembaca umum, karya ini sangat mungkin menyentuh.
Tetapi komunikatif tidak identik dengan eksperimental.
Mengharukan tidak otomatis mendalam.
Puitis tidak otomatis memiliki kedalaman pemikiran.
Dan:
> menyebut sebuah karya “puisi esai” tidak otomatis membuatnya memiliki kualitas esai.
—
XIII. PUISI ESAI BUKAN ESAY YANG DIBERI BEDAK PUISI
Jika hendak menjawab pertanyaan Anda secara langsung:
Apakah puisi esai adalah esai yang puitis?
Bukan semata-mata.
Kalau sebuah esai tetap berjalan dengan logika argumentasi, hanya bahasanya dibuat indah dan metaforis, itu lebih tepat disebut esai puitis atau esai liris.
Apakah puisi esai adalah puisi yang memiliki unsur esai?
Lebih mendekati itu, tetapi juga belum cukup.
Sebab bukan hanya memasukkan data dan fakta.
Puisi esai harus membuat fakta menjadi problem, problem menjadi pengalaman manusia, pengalaman menjadi pertanyaan, dan pertanyaan menjadi perenungan sosial.
Jadi ia bukan:
> Esai + bahasa indah.
Dan bukan:
> Puisi + catatan kaki.
Melainkan:
> Puisi yang memiliki tubuh emosional sekaligus kesadaran intelektual terhadap kenyataan.
—
XIV. LALU, DI MANA POSISI KARYA DENNY JA?
Kalau saya harus menempatkannya secara kritis, saya akan mengatakan:
> “Sebuah Puisi Esai” Denny JA lebih dekat kepada puisi naratif-tragis yang menggunakan peristiwa faktual sebagai titik keberangkatan dan dibangun dengan bahasa metaforis yang sentimental, sementara unsur esainya belum menjadi struktur pemikiran yang dominan.”
Ia memiliki fakta, tetapi fakta belum menjadi analisis.
Ia memiliki tokoh, tetapi tokoh lebih menjadi simbol daripada subjek sosial.
Ia memiliki tragedi, tetapi tragedi terutama digunakan untuk menghidupkan emosi.
Ia memiliki kritik sosial, tetapi kritik itu baru menguat di ujung.
Ia memiliki metafora, tetapi metafora sering bekerja untuk mempertebal haru, bukan membuka lapisan makna baru.
Karena itu, problem utamanya bukan:
> “Apakah ini puisi?”
Ya, ia menggunakan perangkat puitik.
Bukan pula:
> “Apakah ini indah?”
Banyak bagian memang indah.
Pertanyaan yang lebih serius adalah:
> “Apakah struktur karya ini benar-benar membutuhkan kata ‘esai’ di belakang kata ‘puisi’?”
Dan di sinilah perdebatan menjadi sah.
—
XV. KRITIK PALING TAJAM
Saya akan merumuskannya dalam satu metafora:
> Karya ini seperti sebuah rumah yang dipenuhi bunga, tetapi kita datang untuk mencari perpustakaan.
Metaforanya banyak.
Kesedihannya banyak.
Air matanya banyak.
Pelukannya banyak.
Doanya banyak.
Tetapi ketika kita mencari:
gagasan,
data sosial,
konflik struktural,
pertanyaan tentang negara,
kemiskinan,
mitigasi bencana,
kualitas bangunan,
ketimpangan,
dan tanggung jawab manusia,
kita menemukan ruang yang relatif sempit.
Maka ada kemungkinan bahwa yang kita sebut “esai” di sini lebih merupakan klaim bentuk daripada kekuatan struktural karya.
Dan sastra yang kuat tidak seharusnya bergantung pada label.
Biarkan karya membuktikan dirinya.
—
XVI. PADA AKHIRNYA, YANG PALING PENTING BUKAN NAMANYA
Saya kira perdebatan tentang puisi esai tidak perlu berhenti pada persoalan:
> “Ini puisi atau bukan?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
> Apakah karya tersebut membuat bahasa menjadi lebih tajam?
> Apakah ia membuat pengalaman manusia menjadi lebih dalam?
> Apakah ia membuat fakta menjadi pertanyaan?
> Apakah ia membuat pembaca bukan hanya menangis, tetapi berpikir?
> Apakah setelah halaman terakhir ditutup, persoalan sosialnya masih menghantui kepala pembaca?
Sebab pada akhirnya:
> Puisi yang hanya membuat kita menangis akan selesai bersama air mata.
Tetapi:
> Puisi yang membuat kita menangis sekaligus mempertanyakan dunia akan tinggal lebih lama di dalam kesadaran.
Dan mungkin di situlah batas yang perlu terus kita jaga:
> Puisi bukan esai yang memakai bunga bahasa.
Esai bukan puisi yang memakai angka.
Dan puisi esai bukan sekadar perkawinan dua label.
Ia adalah pertemuan antara darah manusia dan pikiran manusia—antara luka yang dirasakan dan kenyataan yang dipertanyakan.
Jika hanya ada luka tanpa pertanyaan, ia menjadi ratapan.
Jika hanya ada pertanyaan tanpa luka, ia menjadi esai.
Tetapi ketika luka melahirkan pertanyaan, dan pertanyaan menemukan bentuk puitiknya, di sanalah puisi esai mulai benar-benar bernapas.
Dan terhadap karya Denny JA ini, pertanyaan yang masih pantas kita tinggalkan di meja kritik adalah:
> Apakah kita sedang membaca sebuah puisi esai—atau sebuah puisi yang kebetulan memakai jas esai?
Sebab jas boleh diberi nama apa pun. Tetapi tubuh di dalamnya tetap harus membuktikan siapa dirinya.
—–
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.


