Minggu, 30 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KOMPOL DIAN NOVITA PIETERSZ, S.I.K.

Menenun Keamanan dari Hati: “Polri Tanpa Masyarakat Bagaikan Butir dan Debu”

Paulus Laratmase| Penulis

Baca juga: Ketika "Omon-Omon" Menjadi Karnaval Perlawanan

BOVEN DIGOEL, PAPUA SELATAN —SUARA ANAK NEGERI| Ada kalimat yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Kalimat itu keluar dari seorang perempuan yang kini dipercaya memimpin Kepolisian Resor Boven Digoel.

“Polri tanpa masyarakat bagaikan butir dan debu.”

Kompol Dian Novita Pietersz, S.I.K. mengucapkan kalimat itu dalam sebuah kunjungan ke Polsek Jair, salah satu jajaran Polres Boven Digoel. Bagi Dian, keamanan bukanlah sesuatu yang dapat dibangun hanya dengan seragam, senjata, dan kewenangan. Keamanan justru tumbuh dari kepercayaan, komunikasi, dan kedekatan antara polisi dan masyarakat.

Baca juga: Uji Kompetensi Penata Pertanahan Batch 1 2026, Langkah Strategis Memperkuat Profesionalisme ASN Pertanahan

Di Tanah Digoel, pemikiran itu menemukan ruangnya.

Boven Digoel bukan sekadar hamparan wilayah administratif. Ia adalah tanah yang menyimpan sejarah, keragaman masyarakat, adat, agama, dan dinamika kehidupan perbatasan. Di wilayah seperti inilah seorang pemimpin kepolisian dituntut bukan hanya mampu berdiri tegak sebagai penegak hukum, tetapi juga sanggup berjalan bersama masyarakat.

Dan di situlah sosok Kompol Dian Novita Pietersz hadir.

Perempuan Papua Selatan di Tubuh Institusi Bhayangkara

Kompol Dian Novita Pietersz, S.I.K. merupakan perwira menengah Polri yang dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolres Boven Digoel. Ia merupakan putri asal Merauke, Papua Selatan, yang tumbuh dan mengenal denyut kehidupan tanah Papua sejak masa kanak-kanak.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 2009 A, yang tergabung dalam Batalyon Ananta Hira, Dian menapaki perjalanan pengabdian melalui berbagai tugas kepolisian.

Namanya tidak lahir dari ruang yang kosong. Sebelum dipercaya memimpin Polres Boven Digoel, ia telah melewati sejumlah penugasan strategis di Papua, antara lain sebagai Kasat Lantas Polres Jayapura Kota ketika masih berpangkat AKP dan kemudian Wakapolres Merauke.

Perjalanan itu menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk karakter kepemimpinannya.

Namun ada satu capaian yang memberi warna tersendiri dalam perjalanan kariernya.

Pada Upacara Penutupan Pendidikan (Tupdik) November 2025, Dian meraih penghargaan sebagai Siswa Berprestasi Penulis Taskap (Kertas Karya Perorangan) Terbaik kategori Pasis (Perwira Siswa) Tamu.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Prestasi itu menjadi catatan penting. Seorang perwira Polwan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan operasional dan kepemimpinan, tetapi juga kemampuan berpikir, menulis, menganalisis, dan menawarkan gagasan bagi institusi serta bangsa.

Dari Ruang Komando ke Jalan-Jalan Kampung

Sejak resmi mengemban amanah sebagai Kapolres Boven Digoel pada Agustus 2026, Dian memilih untuk tidak terlalu lama berada di balik meja.

Ia turun ke lapangan.

Polsek demi Polsek dikunjungi. Dari Asiki, Jair, Mindiptana hingga Waropko, perjalanan itu menjadi cara Dian mengenali wilayah sekaligus menyapa personel dan masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan.

Bagi seorang Kapolres, kunjungan kerja menjadi ruang untuk mendengar.

Ia berdialog dengan warga lokal. Menyapa tokoh masyarakat. Mendekati tokoh adat, agama, perempuan, dan pemuda. Bahkan tali asih diberikan kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan kehadiran negara.

Sebab baginya, polisi tidak boleh hanya hadir ketika masalah telah terjadi.

Polisi harus hadir sebelum masalah datang.

Polisi harus mendengar sebelum masyarakat berteriak.

Polisi harus berjalan bersama masyarakat sebelum jarak antara aparat dan rakyat berubah menjadi tembok.

“Mulai dari Nol”: Membenahi Rumah Sendiri

Kepemimpinan Dian tidak hanya diarahkan ke luar institusi. Ia terlebih dahulu menata rumah sendiri.

Dalam arahannya kepada para Pejabat Utama dan personel Polres Boven Digoel, ia mengajak seluruh jajaran menyelaraskan visi, memperkuat soliditas, dan membangun kembali semangat pengabdian.

Ia memperkenalkan semangat “mulai dari nol.”

Bukan berarti melupakan pengalaman, melainkan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran tanpa membiarkannya menjadi beban.

Dari titik nol itu, Dian ingin membangun pelayanan kepolisian yang lebih responsif, berkualitas, dan humanis.

Sebab seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras ia memberi perintah, tetapi juga oleh seberapa kuat ia mampu menghidupkan semangat orang-orang yang dipimpinnya.

Ketika Miras Menjadi Musuh Kamtibmas

Di tengah pendekatan humanis, Dian juga menunjukkan wajah ketegasan.

Peredaran minuman keras ilegal menjadi salah satu perhatian serius. Ia menginstruksikan jajaran Satresnarkoba untuk melakukan penertiban terhadap produksi dan peredaran miras ilegal, termasuk penggerebekan rumah produksi sopi lokal di kawasan Mandobo.

Kebijakannya memperlihatkan bahwa pendekatan humanis tidak berarti lunak terhadap pelanggaran hukum.

Humanisme dan ketegasan justru harus berjalan beriringan.

Masyarakat perlu dirangkul, tetapi penyakit sosial yang mengancam keamanan juga harus ditertibkan.

Di sinilah wajah kepemimpinan Dian menemukan keseimbangannya: mendekat kepada masyarakat, tetapi tetap tegas terhadap segala sesuatu yang mengganggu keamanan dan ketertiban.

Forkopimda: Keamanan Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Bagi Dian, Polres Boven Digoel tidak mungkin bekerja sendirian.

Keamanan daerah merupakan pekerjaan bersama.

Karena itu, sinergi dengan Forkopimda, TNI, pemerintah daerah, DPRK, Satpol PP, tokoh masyarakat, lembaga adat, organisasi sosial, dan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting dari strategi kepemimpinannya.

Momentum penyambutan dirinya di Bandara Tanah Merah kemudian dilanjutkan dengan acara Kenal Pamit,  menjadi ruang konsolidasi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, dan berbagai unsur masyarakat.

Kerja sama dengan Kodim 1711/BVD dan Satpol PP juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan, terutama pada titik-titik yang dianggap rawan di wilayah distrik maupun kawasan perbatasan.

Dalam perspektif Dian, pembangunan dan keamanan tidak boleh berjalan di jalan yang berbeda.

Keduanya harus saling menopang.

Jalan yang dibangun membutuhkan rasa aman. Aktivitas ekonomi membutuhkan kepastian. Masyarakat membutuhkan perlindungan. Pemerintah membutuhkan stabilitas.

Dan seluruhnya bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan masyarakat.

Menjembatani Polisi, Pemerintah dan Masyarakat

Dian juga membangun komunikasi dengan DPRK Boven Digoel dan Pemerintah Daerah.

Baginya, lembaga-lembaga negara bukanlah ruang yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing memiliki kewenangan, tetapi seluruhnya memiliki tanggung jawab yang sama terhadap rakyat.

Karena itu, komunikasi lintas lembaga menjadi penting untuk memastikan pembangunan sosial dan infrastruktur berjalan seiring dengan jaminan keamanan.

Bahkan jejaring kerja diperluas dengan melibatkan LSM dan kelompok masyarakat sipil. Kolaborasi semacam ini diharapkan mampu memperkuat program pemberdayaan ekonomi dan bantuan sosial, khususnya bagi masyarakat rentan di wilayah perbatasan.

Polisi dan Data untuk Masa Depan Daerah

Kehadiran Polres Boven Digoel juga diarahkan untuk mendukung program-program strategis pemerintah.

Salah satunya adalah dukungan terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi.

Pendataan ekonomi bukan pekerjaan kecil. Di balik angka-angka terdapat wajah para pedagang, pelaku usaha, petani, nelayan, pekerja, dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada roda ekonomi daerah.

Karena itu, keamanan dan kelancaran proses pendataan menjadi bagian penting agar data yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat.

Di sini terlihat bahwa peran kepolisian tidak semata-mata menjaga keamanan di jalan, pasar, kampung, dan perbatasan.

Polisi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem pembangunan.

Perempuan yang Memimpin dengan Ketegasan dan Sentuhan Hati

Kehadiran Kompol Dian Novita Pietersz sebagai Kapolres Boven Digoel membawa cerita tersendiri.

Ia adalah perempuan Papua Selatan yang berada di garis depan institusi kepolisian. Namun jabatan baginya bukanlah mahkota. Jabatan adalah amanah.

Karena itu, langkahnya tampak diarahkan pada satu prinsip sederhana: polisi harus dekat dengan rakyat.

Di tanah yang dialiri Sungai Digoel, di antara kampung-kampung yang terbentang luas dan wilayah perbatasan yang menyimpan tantangan tersendiri, tugas seorang Kapolres bukan hanya menjaga hukum tetap tegak.

Ia juga harus menjaga agar harapan masyarakat tidak padam.

Ketika seorang Kapolres turun dari kendaraan dinas dan memilih berbicara langsung dengan warga, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya komunikasi.

Yang sedang dibangun adalah kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan telah tumbuh, hukum tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh. Negara tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang asing.

Negara hadir melalui manusia-manusia yang mau mendengar.

“Polri Tanpa Masyarakat Bagaikan Butir dan Debu”

Pada akhirnya, kalimat Dian Novita Pietersz tentang “Polri tanpa masyarakat bagaikan butir dan debu” bukan sekadar ungkapan.

Ia adalah filosofi kepemimpinan.

Polisi membutuhkan masyarakat untuk menjaga keamanan. Masyarakat membutuhkan polisi untuk mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum.

Keduanya bukan dua dunia yang berbeda.

Keduanya adalah dua sisi dari satu kehidupan sosial.

Di Boven Digoel, Kompol Dian Novita Pietersz sedang menapaki jalan itu: membangun keamanan dari kedekatan, menegakkan hukum dengan ketegasan, dan merawat masyarakat dengan sentuhan kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, seragam polisi akan menjadi lebih bermakna ketika di baliknya ada hati yang mau mendengar.

Dan sebuah wilayah akan terasa aman bukan semata-mata karena banyaknya aparat yang berjaga, melainkan karena masyarakat merasa bahwa polisi adalah bagian dari mereka.

Di Tanah Digoel, keamanan sedang ditenun dari kepercayaan.

Dari masyarakat untuk masyarakat.

Dan Polri hadir bukan untuk berdiri jauh dari rakyat, tetapi berjalan bersama mereka.

 

Kategori:
Tags:

Terkini