Minggu, 30 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ruang Batin dan Ruang Medis

Secangkir Kopi Cak Mus – 30.08.26
Oleh: Aguk Irawan MN

Baca juga: Ketika Bupati Menjemput Masa Depan Anak Waropen

Satu setengah bulan ini, hidup saya diringkas di antara dinding-dinding putih, bau antiseptik yang khas, dan derit roda brankar yang bersahutan. Keluar masuk rumah sakit telah mengubah cara saya memandang waktu. Waktu tidak lagi dihitung dengan jam dinding, melainkan dengan tetesan cairan infus dan detak kecemasan yang mencoba diredam oleh zikir.

Setelah operasi laser batu ginjal kanan yang pertama selesai, saya mengira badai telah reda. Namun, takdir berkata lain. Garis hidup menuntun saya ke selasar Rumah Sakit Sardjito. Di sana, sebuah babak baru harus dimulai: operasi kedua. Prosedur yang ketat bergulir bagai rangkaian ujian kesabaran.

Tubuh ini harus menyerah pada rangkaian cek laboratorium, USG, hingga radiologi. Setiap ruangan yang saya masuki adalah ruang kepasrahan, tempat di mana keangkuhan manusia perlahan-lahan dilucuti oleh selembar kertas hasil diagnosis.

Baca juga: Hakka Ngiau

Titik balik kebatinan saya memuncak saat mengantre di Poli Pre-Operasi. Di sela-sela ketegangan menanti giliran, gusti Allah mempertemukan saya dengan beberapa kawan lama. Pertemuan yang di luar rencana, di tempat yang tak pernah kami duga. Namun, reuni ini bukan tentang tawa masa lalu, melainkan tentang pembacaan atas rahasia ujian hidup.

Saya mendengarkan kisah mereka dengan dada yang sesak. Ada kawan yang diuji dengan penurunan usus, bahkan ada yang sedang bertaruh nyawa melawan kanker stadium lanjut. MasyaAllah, ujian mereka begitu berat. Di sanalah ego saya runtuh. Sakit ginjal yang saya derita dengan keluhan, seketika terasa sangat kecil di hadapan ketabahan mereka.

Selasar rumah sakit itu menjelma menjadi madrasah kehidupan. Saya tersadar dengan pencerahan yang teramat bening: siapapun bisa sakit, dan kapanpun takdir itu bisa mengetuk pintu rumah kita. Sehat, yang selama ini kita hirup gratis tanpa berpikir, adalah nikmat yang teramat mewah. Ia adalah mahkota di kepala orang-orang sehat, yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang sedang terbaring sakit.

Di dalam rumah sakit Sardjito, atmosfernya begitu hikmat sekaligus mencekam. Ribuan orang dari berbagai latar belakang hanya membicarakan satu hal yang seragam: tindakan medis, kesembuhan, dan harapan untuk esok hari. Dunia di sini mengecil, menyusut hanya pada urusan tarikan napas dan fungsi organ tubuh. Semua identitas duniawi—pangkat, harta, kasta—menguap begitu saja di depan meja operasi.

Namun, kontras yang tajam terjadi ketika saya sesekali membuka ponsel dan berselancar di media sosial. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Di luar sana, di dunia orang-orang sehat, manusia sibuk bertengkar untuk hal-hal yang entah apa subtansinya. Berita dipenuhi oleh mereka yang tega berbuat jahat, melakukan korupsi, hingga tindakan kriminal yang nirmoral.

Saya merenung, mungkin seperti itu pula ketika kemarin saya dengan kondisi fisik bugar. Salah, khilaf dan berdebat, serta sok ini itu demi ego itu mudah sekali terjadi. Pikiran saya kemudian tertambat pada sebuah berita viral tentang seorang dokter yang mengaku agnostik dan sering mencibir makna “kesalehan”. Dadaku bergemuruh merenungkannya.

Bagaimana mungkin seseorang yang setiap hari berdiri di batas tipis antara hidup dan mati, yang menyaksikan embusan napas terakhir manusia, yang menyentuh langsung rapuhnya daging dan tulang, masih bisa meragukan Sang Pencipta? Bukankah di rumah sakit ini, batasan antara kepunahan dan keberadaan begitu nyata? Di sana, ilmu pengetahuan bersujud pasrah ketika takdir kematian telah digariskan.

Perjalanan satu setengah bulan ini adalah ziarah batin yang paling berharga dalam hidup saya. Saya dibawa ke titik nadir untuk menyadari satu kebenaran hakiki: kehidupan ini adalah amanah yang sangat singkat.
Manusia pada hakikatnya bukanlah siapa-siapa.

Kita tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan atau diandalkan. Tubuh yang gagah bisa lunglai dalam satu malam. Harta yang melimpah tak bisa membeli satu miligram fungsi ginjal yang rusak. Jabatan yang tinggi tak mampu menahan malaikat maut jika saatnya tiba.

Ketika hari kemarin saya melangkah keluar dari gedung Indraprasta 2 RS Sardjito berkat kemurahan-Nya, saya tahu saya bukan lagi orang yang sama. Di ujung ikhtiar ini, hanya ada satu keyakinan yang tersisa dalam dada: di hadapan Allah, kita telanjang dan fakir. Tidak ada penyangga yang kokoh di dunia dan akhirat, kecuali untaian amalan saleh dan ketulusan hati yang kita persembahkan kepada-Nya.

Sekali lagi ingat, sehat adalah mahkota yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sakit. Terimahkasih atas doa-doa baiknya kawan-kawan semuanya untuk saya. Semoga kita sehat wal afiyat dan diberi umur panjang yang manfaat dan barokah. Amin

Kategori:
Tags:

Terkini