Sabtu, 18 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Bahlil Akhiri Penantian 28 Tahun, LNG Abadi Masela Resmi Masuk Tahap Pembangunan

Oleh: joko

http://suaraanaknegeri.com | Kawasan LNG, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku | Kamis, 16 Juli 2026 –
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut dimulainya groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela sebagai momentum bersejarah yang mengakhiri penantian selama 28 tahun terhadap salah satu proyek migas terbesar di Indonesia.

Proyek yang ditemukan sejak 1998 itu, menurutnya, telah melewati enam periode pemerintahan sebelum akhirnya memasuki tahap pembangunan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga: Ketua KNPI Tanimbar Alex Belay: Groundbreaking Blok Masela Awal Kebangkitan Ekonomi

Dalam laporannya kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang meresmikan groundbreaking melalui konferensi video dari Istana Kepresidenan, Bahlil mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil percepatan kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai hambatan yang selama bertahun-tahun menghalangi investasi.

“Hari ini kita menandai babak baru Proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu. Sudah enam presiden, Presiden Prabowo Subianto-lah yang bisa mengeksekusi hari ini,” kata Bahlil.

Baca juga: Kapolda Papua Tiba di Biak Numfor, Siap Buka Kejuaraan Bola Voli Indoor dan Pantai U-19 Kapolda Cup 2026 di GOR Petrus Kafiar

Mengurai Simpul Persoalan yang Tertunda Puluhan Tahun
Di hadapan Presiden, jajaran kabinet, pimpinan SKK Migas, INPEX, Petronas, Pertamina, pemerintah daerah serta tokoh masyarakat Maluku, Bahlil mengakui perjalanan proyek Masela dipenuhi perdebatan panjang, mulai dari konsep pembangunan kilang di laut (offshore) atau di darat (onshore), hingga penyelesaian berbagai aspek perizinan.

Menurutnya, seluruh persoalan tersebut baru menemukan titik terang setelah Presiden Prabowo memberikan instruksi agar proyek-proyek migas yang telah mengantongi izin namun belum berjalan segera dieksekusi.

“Atas bimbingan, arahan dan perintah Presiden kepada kami sebagai pembantu Presiden untuk segera mengeksekusi seluruh konsepsi-konsepsi perizinan minyak dan gas yang sudah selesai tetapi belum bisa dilaksanakan, maka kami mengambil langkah percepatan. Surat peringatan pertama kepada INPEX kami layangkan dan Alhamdulillah hari ini kita melakukan groundbreaking,” ujarnya.

Bahlil juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kementerian, lembaga, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, SKK Migas, serta seluruh pemangku kepentingan yang dinilai berhasil menyelesaikan berbagai hambatan proyek.

Investasi Harus Menghadirkan Keadilan
Bagi Bahlil, keberhasilan pembangunan proyek tidak hanya diukur dari nilai investasi maupun besarnya produksi gas, tetapi juga dari manfaat yang diterima masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Karena itu, ia menegaskan pemerintah tidak ingin pembangunan berlangsung dengan mengorbankan hak masyarakat yang selama ini mengelola lahan secara turun-temurun.

“Sekalipun tanah yang dipakai adalah kawasan hutan, namun masyarakat sudah berkebun secara turun-temurun. Karena itu saya membuat kebijakan agar mereka diberikan bukan sekadar ganti rugi, tetapi ganti untung,” tegasnya.

Ia menilai investasi harus menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan.
“Investasi masuk itu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana investasi memberikan kontribusi terbaik bagi kesejahteraan masyarakat di daerah tempat investasi itu berada,” kata Bahlil.

Proyek Bernilai Hampir Rp390 Triliun
Dalam laporannya, Bahlil menjelaskan pembangunan LNG Abadi Masela akan menyerap investasi sekitar US$20,9 miliar, atau setara hampir Rp390 triliun.

Proyek tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, disertai produksi kondensat sekitar 35 ribu barel per hari, yang akan menjadi salah satu penopang ketahanan energi nasional.

Sebanyak 60 persen produksi gas diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, sementara maksimal 40 persen akan dialokasikan untuk pasar ekspor.

Gas domestik tersebut akan mendukung program hilirisasi nasional melalui pasokan bagi industri pupuk, pembangkit listrik PLN, PGN, hingga berbagai sektor industri lainnya.

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Selain memperkuat ketahanan energi, pemerintah memperkirakan proyek LNG Abadi Masela akan memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan.

Bahlil menyebut proyek tersebut berpotensi menghasilkan penerimaan negara sekitar US$37,8 miliar, dengan kontribusi perpajakan sekitar US$6,43 miliar sepanjang masa konstruksi dan operasi.

Menurutnya, proyek juga akan menciptakan sekitar 12 ribu lapangan kerja langsung selama masa konstruksi serta 800 hingga 1.000 tenaga kerja saat memasuki tahap operasi.

Efek berganda dari investasi tersebut diyakini akan meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku maupun Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sekaligus menggerakkan perekonomian kawasan timur Indonesia.

Putra Daerah Menjadi Prioritas
Salah satu pesan yang paling ditekankan Bahlil adalah keberpihakan terhadap masyarakat lokal.

Ia mengungkapkan Kementerian ESDM telah menyiapkan putra-putri Maluku melalui pendidikan di Akademi Migas Cepu agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri migas.

“Anak-anak yang sudah kami kirim belajar di Akademi Migas Cepu akan diprioritaskan bekerja di proyek Blok Masela. Selama ada tenaga kerja profesional dari daerah ini, pakai dulu mereka,” tegasnya.

Ia juga meminta INPEX, Petronas dan Pertamina membuka kesempatan seluas-luasnya bagi tenaga kerja lokal.

Selain tenaga kerja, Bahlil meminta agar kontrak-kontrak pekerjaan yang dapat dikerjakan di daerah diberikan kepada pelaku usaha lokal.

“Pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh pengusaha di wilayah ini harus diprioritaskan kepada pengusaha lokal. Teman-teman daerah harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar penonton,” katanya.

Peringatan Keras Soal KKN
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga mengingatkan pemerintah daerah agar pelaksanaan proyek tetap menjunjung profesionalisme.

Ia secara terbuka meminta agar proyek tidak dijadikan ruang bagi praktik kolusi, korupsi maupun nepotisme.

“Saya meminta kepada gubernur dan bupati, proyek ini harus profesional. Jangan main KKN. Jangan karena tim sukses lalu semua didorong. Tidak boleh, harus profesional,” tegasnya.

Bahlil mengatakan keberanian menyampaikan hal tersebut didasari kedekatannya dengan Maluku sebagai daerah kelahirannya.

“Saya berani bicara begini karena saya bagian dari warga Maluku. Saya lahir di Provinsi Maluku ini,” ujarnya.

Menjaga Investasi, Menjaga Kepercayaan
Menutup laporannya kepada Presiden, Bahlil meminta seluruh unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh adat dan masyarakat bersama-sama menjaga keberlangsungan proyek.

Ia menegaskan keamanan investasi harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat.

“Tolong jaga proyek ini. Komunikasikan baik-baik dengan rakyat, karena rakyat adalah aset terpenting negara. Tujuan pembangunan adalah bagaimana mendorong mereka menjadi lebih sejahtera,” katanya.

Groundbreaking LNG Abadi Masela menjadi titik awal dimulainya pembangunan fisik proyek energi nasional yang selama hampir tiga dekade hanya berada dalam tahap perencanaan.

Pemerintah berharap proyek bernilai ratusan triliun rupiah itu tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur dengan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Provinsi Maluku.

Kategori:
Tags:

Terkini