Sabtu, 18 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Bincang Buku “Arung Jeram Pernikahan”, Anna Ruswan Latuconsina Ajak Publik Merawat Keluarga Melalui Dialog

JAKARTA, SUARA ANAK NEGERI– 14 Juli 2026 Suasana hangat dan penuh refleksi mewarnai acara bincang buku “Arung Jeram Pernikahan” karya Anna Ruswan Latuconsina SH. M.I.Kom., anggota DPD RI asal Maluku, yang digelar pada Selasa (14/7). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Wanita Penulis Indonesia (WPI) bekerja sama dengan Yayasan Jantung Hati itu berlangsung di Lobi Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Buku ini menjadi ruang dialog publik mengenai pentingnya membangun keluarga yang sehat sekaligus menghapus stigma dan normalisasi kekerasan terhadap perempuan. Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog yang mempertemukan dunia literasi dengan kepedulian terhadap penguatan institusi keluarga di Indonesia.

Acara bincang buku ini mengusung tema “Suara Perempuan, Suara Perubahan: Hapus Stigma dan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan”, acara dihadiri berbagai tokoh masyarakat, kalangan akademisi, aktivis serta organisasi/komunitas pemerhati isu perempuan dan anak, komunitas dan pegiat literasi sejabodetabek. Pengurus Pusat Al-Hidayah, serta ibu-ibu majelis taklim serta undangan dari berbagai kalangan yang memberikan apresiasi terhadap lahirnya buku tersebut.

Baca juga: Kapolda Papua Tekankan Sportivitas dan Pembinaan Karakter dalam Amanat Pembukaan Kapolda Cup U-19 2026

Tamu penting yang hadir antara lain Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Komisioner Bawaslu RI Lolly Suhenty, Komisioner KPU RI Dr. Betty Epsilon Idrus, Ketua Kaukus Perempuan Parlemen RI, para Anggota DPD RI, Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia Dr. Free Hearty, M.Hum., unsur Sekretariat Jenderal MPR/DPR RI dan Dharma Wanita Setjen DPD RI.

Dalam sambutannya, Anna Ruswan Latuconsina menyampaikan bahwa buku “Arung Jeram Pernikahan” lahir dari pergulatan pengalaman, pengamatan, dan kepeduliannya terhadap pentingnya membangun keluarga yang kokoh melalui komunikasi, saling menghormati dan komitmen menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “Tidak ada pernikahan tanpa tantangan, tetapi setiap keluarga berhak hidup tanpa kekerasan,” demikian pesan utama yang disampaikan penulis melalui kutipannya.

Turut memberikan sambutan, Ketua Umum WPI, Dr. Free Hearty, M.Hum. menyampaikan apresiasinya terhadap keberanian Anna mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan melalui sebuah buku yang berisikan suara-suara perempuan yang selama ini menjadi korban namun terbungkam. Menurutnya, literasi mampu menjadi media advokasi yang menyentuh nurani masyarakat dan membangun kesadaran sosial.

Sementara itu Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas dalam sambutannya menekankan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan pentingnya membangun keluarga yang sehat sebagai fondasi terciptanya masyarakat yang beradab. Ratu Hemas juga memberi apresiasi kepada Anna Latuconsina yang tak lelah berjuang dan patah semangat dalam menyuarakan dan memperhatikan isu kekerasan perempuan dan anak selama empat periode menjadi Anggota DPD RI untuk Maluku.

Baca juga: SUARA PEREMPUAN

Sesi bincang buku berlangsung interaktif dengan dipandu moderator Dra. Rita Sri Hastuti, M.I.Kom, seorang wartawan dan penulis senior. Hadir sebagai narasumber Prof. DR. Haryatie Abdurrahman, akademisi dan peneliti dari Selangor University Malaysia, serta DR. Maria Josephine Kumaat Mantik, S.S., M.Hum., akademisi Universitas Indonesia yang menekuni kajian gender dan sastra. Bersama penulis, para narasumber mengulas buku ini dari berbagai perspektif, mulai dari keluarga, psikologi, sosial, hingga nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menilai bahwa buku tersebut tidak hanya berbicara tentang relasi suami-istri, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai kesabaran, keteguhan, dan kemampuan pasangan dalam menghadapi “jeram” kehidupan secara bersama.

Diskusi berlangsung interaktif ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman. Berbagai pandangan muncul mengenai pentingnya membangun keluarga yang sehat sebagai fondasi masyarakat yang kuat. Peserta dari berbagai organisasi dan komunitas aktif mengajukan pertanyaan mengenai upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan keluarga, serta pentingnya membangun relasi yang setara antara suami dan istri.

Menjelang akhir diskusi, Anna Ruswan Latuconsina menyampaikan tanggapannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi menganggap kekerasan sebagai persoalan privat, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus dicegah bersama. Anna juga menyampaikan harapannya agar buku Arung Jeram Pernikahan dapat menjadi inspirasi bagi pasangan, keluarga muda, maupun masyarakat luas dalam memandang pernikahan sebagai proses panjang yang membutuhkan cinta, pengertian, dan kerja sama, bukan sekadar ikatan formal.

Acara diakhiri dengan pemberian plakat atau cinderamata dari penulis kepada dua narasumber. Pemberian hadiah kepada peserta yang aktif dalam sesi tanya jawab, penandatanganan buku dan sesi foto bersama kemudian pembacaan puisi dan ramah tamah sambil menikmati kudapan dan diiringi musik dan lagu.

Suasana acara semakin hidup ketika penyair Nuyang Jaimee yang saat itu juga bertugas sebagai Master of Ceremony, membacakan puisi berjudul Suara Perempuan mengawali acara ramah tamah. Pembacaan puisi tersebut menjadi jembatan emosional yang memperkuat pesan bahwa sastra tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi suara bagi mereka (perempuan dan anak-anak) yang selama ini dibungkam oleh kekerasan.

Bincang buku Arung Jeram Pernikahan bukan sekadar membicarakan sebuah karya, tetapi menjadi ruang refleksi bersama bahwa keluarga yang harmonis hanya dapat dibangun melalui penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.

( Kontributor : Nuyang Jaime )

 

Kategori:
Tags:

Terkini