Oleh : Nuyang Jaimee
Seorang perempuan
menggulung sanggulnya
dadanya koyak
matanya berkabut
kekerasan datang seperti api
rumah berubah jadi ruang eksekusi
Almanak tak pernah selesai
menghitung musim demi musim
kekejaman tak bergeming
setiap lebam adalah riwayat
tubuh perempuan jadi hikayat
jejak penyiksaan, kekuasaan
yang menjadi pengadilan
mengalahkan kuasa Tuhan
Cinta tumbuh menyesakkan
kesetiaan jadi doktrin kepatuhan
setiap maaf adalah pisau yang menunda kematian
hari demi hari mengumpulkan nyawa yang hilang
Anak-anak berhenti tertawa
ibu tak punya jarik untuk mengusap airmata
hentakan kaki datang menginjak harapan
mengubah malam semakin mencekam
setiap hari anak-anak memanen kebencian
keluarga adalah rahim yang melahirkan peradaban
tak ada agama, adat, hukum bahkan kekuasaan yang layak
jika masih ada perempuan dan seorang anak yang tidur
dalam jerit dan ketakutan
Hari ini aku ingin mengembalikan suara
kepada mereka yang dibungkam nestapa
ketika mata perempuan dipenuhi telaga
ketika kanak-kanak dipaksa memeras airmata
sebab luka dan ketakutan bukan warisan
sebab cinta tak melahirkan penindasan
sebab cinta tak seharusnya ditulis
dengan sejarah kelam
Jatiasih, 13.06.26/22.09
BIONARASI
NUYANG JAIMEE
Mengawali karir berkesenian melalui proses teater awal tahun 2000an. Lalu menulis cerpen dan puisi. Cerpen dan puisinya masuk di beberapa media massa di Jakarta, daerah dan majalah sastra di Indonesia. Masuk dalam antologi cerpen dan puisi bersama dalam dan luar negeri. Pendiri dan Direktur Pelaksana lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI), pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Bergabung di komunitas sastra Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ). Sampai saat ini aktif menginisiasi dan terlibat di berbagai pertemuan festival sastra dan event kesenian baik di Indonesia maupun di luar negeri. Sampai saat ini aktif sebagai entertainer, pemain teater, monolog, sutradara, pemerhati dan aktifis teater dan sastra. Sebagai penulis esai, features, cerpen, puisi, naskah drama, skenario dan sebagai pengajar/pelatih seni teater dan sastra di sekolah. Sebagai performer, pembaca puisi, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dalam acara ZKMUA. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa (lukisan) oleh Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya” terbit tahun 2023.





