JAKARTA, SUARA ANAK NEGERI-Diskusi buku Arung Jeram Pernikahan karya Anggota DPD RI asal Maluku, Anna Ruswan Latuconsina, tidak hanya menghadirkan perbincangan akademis mengenai keluarga dan kekerasan terhadap perempuan, Anna Latuconsina yang dikenal juga sebagai pemerhati masalah perempuan dan anak dan aktif di berbagai organisasi perempuan juga sangat mengapresiasi dunia sastra dan literasi dalam hal ini puisi.
Selain itu Ibu dari lima orang anak dan enam belas cucu ini yang pernah menjadi Kepala Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Maluku ini memberi ruang bagi sastra sebagai medium refleksi. Maka melalui pembacaan puisi oleh penyair Nuyang Jaimee, forum tersebut diajak memasuki suasana yang lebih hening, kontemplatif, sekaligus menggugah kesadaran tentang pentingnya memuliakan martabat perempuan.
Kegiatan yang berlangsung di Lobi Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026), mengangkat tema “Suara Perempuan, Suara Perubahan: Hapus Stigma dan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan” Acara diselenggarakan atas kolaborasi Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Yayasan Jantung Hati.
Dalam forum tersebut hadir Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Komisioner Bawaslu RI Lolly Suhenty, Komisioner KPU RI Dr. Betty Epsilon Idrus, Ketua Kaukus Perempuan Parlemen RI, para Anggota DPD RI, Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia Dr. Free Hearty, M.Hum., serta akademisi, pegiat organisasi perempuan dan pemerhati isu perempuan dan anak serta komunitas literasi sei dan sastra sejabodetabek.
Diskusi dipandu oleh Dra. Rita Sri Hastuti, M.I.Kom. dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Haryatie Abdurrahman dari Selangor University, Malaysia, Dr. Maria Josephine Kumaat Mantik, S.S., M.Hum. dari Universitas Indonesia, serta penulis buku Anna Ruswan Latuconsina. Ketiganya mengulas persoalan keluarga, relasi yang setara dalam rumah tangga, serta pentingnya menghentikan normalisasi kekerasan terhadap perempuan.
Setelah sesi diskusi, Nuyang Jaimee, yang juga bertindak sebagai Master of Ceremony, membacakan sebuah puisi bertema perempuan. Pembacaan puisi itu menjadi jembatan emosional menuju dialog, menghadirkan suasana yang mengajak peserta tidak hanya memahami persoalan melalui data dan teori, tetapi juga merasakan luka, harapan, dan keteguhan perempuan melalui bahasa sastra.
Baca juga: SUARA PEREMPUAN
Bagi Nuyang Jaimee, puisi bukan sekadar karya estetika, melainkan ruang kemanusiaan yang mampu menyampaikan suara-suara yang kerap tidak terdengar. Melalui pilihan diksi yang simbolik dan reflektif, ia menghadirkan sastra sebagai bahasa empati yang mempertemukan pengalaman batin dengan kesadaran sosial.
Puisi berjudul Suara Perempuan yang ditulis satu hari menjelang acara ini, mengisahkan tentang perjuangan dan kehendak perempuan dan anak-anak yang selama ini menjadi korban kekerasan namun masih terbungkam. Dalam salah satu bait puisinya Nuyang mengatakan:
“Keluarga adalah rahim yang melahirkan peradaban
tak ada agama, adat, hukum bahkan kekuasaan yang layak
jika masih ada perempuan dan seorang anak yang tidur
dalam jerit dan ketakutan”
Nuyang Jaimee dikenal sebagai penyair, penulis puisi, esai, opini, features, cerpen dan naskah drama, sutradara teater, monolog, kurator, pelatih teater dan penulisan sastra. Karya-karyanya, puisi dan cerpen dimuat di berbagai media cetak dan majalah sastra, juga lolos kuratorial dalam antologi di berbagai festival dan event sastra di Indonesia dan luar negeri. Beberapa esainya dimuat diberbagai portal online.
Selain aktif sebagai penggerak literasi, ia juga dipercaya menjadi kurator festival sastra nasional, moderator forum kebudayaan, dan pembicara dalam berbagai kegiatan yang mengangkat tema sastra, perempuan, serta kemanusiaan. Dalam organisasi Ia sebagai pendiri Lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI) dan Keluarga Besar Penyair Seksih (KBPS) juga Kampung Seni Jakarta (KSJ). Nuyang aktif juga dalam menginisiasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan festival sastra, pertunjukan teater puisi, diskusi kebudayaan di Jakarta dan berbagai daerah serta luar negeri.
Dalam kepenyairannya, Nuyang dikenal mengembangkan gaya yang simbolik, teatrikal, dan kontemplatif. Karya-karyanya banyak berbicara tentang tubuh, ingatan, ketidakadilan sosial, cinta, dan pergulatan batin manusia. Baginya, puisi bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dihadirkan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan bersama oleh pembaca maupun penonton.
Keberadaan pembacaan puisi di tengah diskusi buku memperlihatkan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik. Jika diskusi menghadirkan argumentasi dan pemikiran, maka puisi menghadirkan empati. Keduanya saling melengkapi dalam mengajak masyarakat melihat persoalan kekerasan terhadap perempuan sebagai persoalan kemanusiaan yang harus dihadapi secara bersama.
Melalui bincang buku tersebut, Arung Jeram Pernikahan tidak hanya menjadi sebuah buku yang dibedah, tetapi juga menjadi titik temu antara literasi, seni, dan gerakan sosial. Di ruang itulah sastra menemukan fungsinya: tidak berhenti sebagai karya, melainkan berubah menjadi suara yang menggerakkan kesadaran.
(Chris Rumaropen)





