Sabtu, 18 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Polda Papua Ungkap Fakta Forensik Ledakan Bom WWII di Biak: Gesekan Gergaji Picu TNT, 5 Tersangka Meninggal Dunia

Polda Papua Ungkap Fakta Forensik Ledakan Bom WWII di Biak

SUARA ANAK NEGERI|BIAK–PAPUA -Kepolisian Daerah (Polda) Papua secara resmi mengungkap hasil penyelidikan ilmiah terkait penyebab ledakan bom sisa Perang Dunia II yang terjadi di Kompleks Perikanan, Jalan Wolter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, pada Minggu (31/5/2026). Berdasarkan konferensi pers yang digelar di Mapolres Biak, Rabu (15/7/2026), terungkap bahwa ledakan dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir menggunakan gergaji besi yang mengaktifkan detonator bahan peledak TNT (Trinitrotoluene). Kapolda Papua, yang diwakili oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua, menyampaikan hasil investigasi ini didampingi oleh jajaran pejabat utama, termasuk Direktur Reserse Kriminal Umum, Tim Laboratorium Forensik (Labfor), Tim Disaster Victim Identification (DVI), serta Kapolres Biak Numfor.

Baca juga: Ketua KNPI Tanimbar Alex Belay: Groundbreaking Blok Masela Awal Kebangkitan Ekonomi

 

 

Temuan Ilmiah: Mekanisme Ledakan dan Identifikasi Korban

Baca juga: Kapolda Papua Tiba di Biak Numfor, Siap Buka Kejuaraan Bola Voli Indoor dan Pantai U-19 Kapolda Cup 2026 di GOR Petrus Kafiar

Kabid Humas Polda Papua menjelaskan bahwa proses penyelidikan dilakukan melalui pendekatan scientific investigation. Hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) menunjukkan pusat ledakan berada di kolong rumah milik Yulianus Raubaba, membentuk kawah berdiameter 3,6 meter dengan kedalaman 80 sentimeter. Pemeriksaan laboratorium forensik memastikan bahan peledak yang meledak adalah TNT berkekuatan tinggi (high explosive).

“Ledakan terjadi akibat gesekan pada bagian pemicu (fuse) mortir saat dipotong menggunakan gergaji besi. Panas dari gesekan tersebut mengaktifkan detonator dan memicu ledakan utama,” ujar Kabid Humas.

Tragedi ini mengakibatkan 9 orang meninggal dunia (8 di lokasi, 1 di rumah sakit) dan 6 orang luka-luka. Tim DVI Polda Papua berhasil mengidentifikasi tiga korban yang tidak dapat dikenali secara visual melalui pemeriksaan DNA di Jakarta. Ketiga korban tersebut adalah Yohannes Marandof, Laini, dan Yulianus Raubaba. Selain korban jiwa, 10 bangunan warga dan satu rumah ibadah mengalami kerusakan akibat gelombang kejut dan serpihan logam.

Motif Ekonomi dan Penghentian Penyidikan (SP3)

Berdasarkan pemeriksaan terhadap 25 saksi dan pengamanan 111 barang bukti—termasuk serpihan casing bom, alat potong, serta peralatan penangkapan ikan seperti perahu fiber dan selang sepanjang 99 meter—penyidik menyimpulkan motif pelaku adalah kepentingan ekonomi. Kelima tersangka diduga memotong mortir untuk mengambil isi bahan peledaknya guna digunakan sebagai bahan pembuatan bom ikan (dopis).

Karena kelima tersangka turut meninggal dunia dalam insiden tersebut, Polresta Biak Numfor akan menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Namun, penyelidikan tetap terbuka apabila ditemukan alat bukti baru atau keterlibatan pihak lain di masa depan.

Sinergi Penanganan dan Imbauan Keselamatan Publik

Kapolda Papua melalui Kabid Humas mengapresiasi sinergi antara Polri, TNI, Basarnas, tenaga kesehatan, tokoh adat, dan masyarakat dalam penanganan musibah ini. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga telah menetapkan status penanganan darurat dan menyediakan bantuan bagi keluarga korban.

Menutup konferensi pers, Polda Papua memberikan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak mengambil, memindahkan, memotong, atau membongkar benda yang diduga merupakan amunisi sisa Perang Dunia II. Masyarakat diminta segera melaporkan temuan benda mencurigakan kepada kepolisian untuk ditangani oleh Tim Penjinak Bom (Jibom) demi mencegah terulangnya tragedi serupa.

 

(AR)

Kategori:
Tags:

Terkini