Sharing Dr. Rafles Ngilamele, S.TP.,M.Si
–
Ada manusia yang dikenang karena jabatan yang pernah disandang. Ada pula yang dikenang karena kekayaan yang sempat dimiliki. Namun ada manusia-manusia istimewa yang tetap hidup dalam ingatan banyak orang karena nilai-nilai yang mereka tanamkan di hati sesamanya. Almarhum Joel Lololuan, BA adalah salah satu dari manusia seperti itu.
Baca juga: Menafsir Metafora Bunga dalam Sajak Francisco Munoz Soler di Teater Mini Perpustakaan Bung Hatta
Melalui ungkapan penuh haru yang disampaikan keponakannya, Rafles Ngilanmele, terbentang sebuah kisah tentang seorang lelaki sederhana yang menjadikan rumahnya sebagai sekolah kehidupan, meja makannya sebagai ruang pendidikan karakter, dan keteladanannya sebagai kitab yang dibaca setiap hari oleh anak-anak yang tumbuh di sekelilingnya.
Bagi banyak orang, kenangan masa muda sering dihiasi cerita tentang kebebasan dan kemanjaan. Namun di bawah atap rumah Joel Lololuan, kemudahan bukanlah hadiah yang diberikan begitu saja. Di sana, setiap pagi dimulai dengan disiplin. Bahkan sebelum matahari sepenuhnya membuka matanya, sang tuan rumah telah lebih dahulu bangkit dan bekerja.
Dalam ingatan sang keponakan, ada satu pemandangan yang tidak pernah hilang: aroma pisang goreng yang menguar di udara subuh. Aroma sederhana itu tanda sarapan akan segera tersedia. Ia adalah simbol dari sebuah pendidikan kehidupan.
Di tangan Joel Lololuan, pisang goreng berubah menjadi pelajaran tentang tanggung jawab. Mencuci piring menjadi latihan kemandirian. Memasak air panas menjadi sekolah ketekunan. Menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke sekolah menjadi latihan menghadapi kerasnya kehidupan.
Saat masih remaja, semua itu mungkin terasa seperti hukuman. Ada keluhan yang tak terucapkan. Ada keinginan untuk tidur lebih lama. Ada rasa iri melihat teman-teman yang hidup lebih santai.
Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk menjelaskan makna.
Kini, di hadapan jenazah sang paman, kenangan-kenangan itu menjelma menjadi rasa syukur yang mendalam. Apa yang dahulu dianggap beban ternyata adalah fondasi. Apa yang dahulu terasa keras ternyata adalah bentuk kasih yang paling jujur.
Joel Lololuan tidak sedang menghukum anak-anak yang hidup bersamanya. Ia sedang membangun manusia.
Ia memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak orang tua zaman sekarang: bahwa kehidupan tidak akan pernah selalu ramah. Karena itu, anak-anak harus dipersiapkan bukan dengan kenyamanan berlebihan, melainkan dengan karakter yang kokoh.
Menariknya, ia tidak pernah mengajarkan teori kepemimpinan. Tidak ada seminar. Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada buku panduan.
Namun setiap gerak hidupnya adalah pelajaran.
Ia memimpin bukan melalui kata-kata, tetapi melalui teladan.
Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah orang yang bangun lebih pagi daripada orang lain. Orang yang bekerja lebih dahulu daripada memerintah. Orang yang memberi contoh sebelum meminta orang lain melakukannya.
Di rumah itu pula tumbuh sebuah tradisi yang hari ini terasa semakin langka. Sebuah tradisi yang menyimpan nilai kemanusiaan yang luar biasa luhur.
Tidak seorang pun boleh makan sendirian.
Makan siang dan makan malam adalah peristiwa keluarga. Semua harus menunggu. Semua harus duduk bersama. Semua harus menikmati hidangan yang sama.
Tidak ada perbedaan antara anggota keluarga, tamu, maupun asisten rumah tangga.
Di meja makan itu, Joel Lololuan sedang mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar etika keluarga.
Ia sedang mengajarkan kesetaraan.
Ia sedang mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia.
Ia sedang memperlihatkan bahwa kasih tidak mengenal kelas sosial.
Meja makan itu menjadi mimbar sunyi tempat nilai-nilai kemanusiaan dipraktikkan setiap hari. Di sana tidak ada pidato tentang keadilan sosial. Namun keadilan sosial hadir dalam bentuk yang paling nyata: duduk bersama, makan bersama, dan saling menghargai sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Karena itulah, ketika perjalanan hidupnya direnungkan, tampak jelas bahwa Joel Lololuan telah mencapai tingkatan kepemimpinan yang paling tinggi.
Bukan kepemimpinan karena jabatan.
Bukan kepemimpinan karena kekuasaan.
Melainkan kepemimpinan karena pengaruh moral.
Ia tidak hanya memimpin manusia. Ia melahirkan manusia-manusia baru yang kemudian mampu berdiri sendiri dan memimpin kehidupannya masing-masing.
Warisan terbesar yang ditinggalkannya bukanlah bangunan, bukan pula harta benda.
Warisan terbesarnya adalah karakter yang tertanam dalam diri orang-orang yang pernah hidup bersamanya.
Karakter pekerja keras.
Karakter pantang menyerah.
Karakter yang rela berkorban demi sesama.
Karakter yang melihat kebahagiaan orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan diri sendiri.
Sepanjang hidupnya, ia membuka pintu bagi banyak orang. Ia memperjuangkan masa depan mereka. Ia membantu mereka memperoleh pekerjaan dan kesempatan hidup yang lebih baik. Ia tidak pernah menikmati keberhasilan seorang diri.
Kebahagiaannya justru lahir ketika melihat orang lain berhasil.
Jejak hidupnya pun tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Dari Tanimbar dan Selaru, banyak orang datang ke Biak melalui uluran tangan dan perhatian yang ia berikan. Mereka kemudian bertumbuh, berkeluarga, memiliki anak cucu, dan menjadi bagian dari sejarah tanah Papua.
Apa yang dilakukan Joel Lololuan sesungguhnya adalah menanam pohon-pohon kehidupan.
Hari ini mungkin sang penanam telah pergi.
Namun pohon-pohon itu terus bertumbuh.
Mereka hidup dalam wajah anak-anak dan cucu-cucu yang pernah disentuh kebaikannya. Mereka hidup dalam keberhasilan orang-orang yang pernah dibantunya. Mereka hidup dalam nilai-nilai yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagai pelayan Tuhan, ia juga mengabdikan dirinya dalam kehidupan gereja. Dalam berbagai pelayanan jemaat, ia menunjukkan bahwa iman bukan hanya sesuatu yang diucapkan di mimbar, melainkan sesuatu yang harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Dan kini, ketika tubuhnya telah kembali ke tanah, warisannya tetap berjalan melintasi waktu.
Aroma pisang goreng di subuh hari itu mungkin telah lama menghilang dari dapur rumahnya.
Namun nilai yang terkandung di dalamnya tidak pernah hilang.
Ia hidup dalam kedisiplinan yang diwariskan.
Ia hidup dalam kerja keras yang diteladankan.
Ia hidup dalam kasih yang dibagikan.
Ia hidup dalam setiap manusia yang pernah disentuh oleh tangannya.
Sebab sesungguhnya, manusia tidak benar-benar mati ketika napas terakhirnya berhenti. Ia tetap hidup selama nilai-nilai yang ditanamkannya terus bertumbuh di dalam kehidupan orang lain.
Dan dalam pengertian itulah, Joel Lololuan masih berjalan bersama mereka yang pernah mengenalnya. Masih hadir dalam cerita-cerita keluarga. Masih berbicara melalui teladan hidupnya.
Sebuah kehidupan yang telah selesai dijalani, tetapi sebuah warisan yang tidak akan pernah berakhir.





