Selasa, 28 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

MANFAAT LAPAR LIMBAH BUKU

oleh Reiner Emyot Ointoe

“Lagipula, sebagian besar kecintaan para pembaca yang antusias, dan tentu saja para kolektor, terhadap buku-buku mereka terkait dengan wujud fisik buku-buku tersebut… buku adalah artefak sejarah dan tempat penyimpanan kenangan.” — Allison Hoover Bartlett(47), The Man Who Loved Books Too Much (2009)

Baca juga: Kepala SMA Negeri 1 Biak Sosialisasikan Kurikulum dan Tata Tertib Sekolah kepada Orang Tua Siswa Baru

Cina, negara tirai bambu dan dunia baru superpower, tidak hanya jagoan di segala industri manufaktur dari jenis KW hingga ori.

Di Cina pula, kini negara paling kreatif mengelola nyaris seluruh kekayaan alam dan sainsteknya dengan sumber daya alam negara lainnya, punya cara lain kelola buku bekas.

Bukan sebagai limbah pengetahuan. Tapi, industri ekonomi kreatif daur ulang.

Baca juga: Komite SMA Negeri 1 Biak Ajak 508 Orang Tua Murid Bersinergi Tingkatkan Mutu Pendidikan

Pasalnya, buku-buku bekas di Cina ratusan konteiner dikirim secara gratis oleh para produsen ke berbagai universitas dan komunitas barang-barang bekas, khusus buku-buku.

Kelak, bisa didaur ulang secara selektif dan ditawarkan ulang ke pasar buku loak alias antiquariat di Cina.

Boleh dikata, “recicling books”(daur buku-buku) menemukan relevansinya, ketika kita menimbang bagaimana Cina mengelola buku bekas sebagai bagian dari industri kreatif.

Ratusan kontainer buku itu dikirim ke universitas dan komunitas, lalu dipilah untuk dijual kembali di pasar loak atau antiquariat.

Praktik ini menunjukkan bahwa buku tidak pernah benar‑benar mati.

Sebagai sumber pelbagai pengetahuan, buku-buku bisa hidup kembali dalam sirkulasi baru, menjadi objek koleksi, atau sekadar bahan bacaan murah bagi generasi lain.

Di sinilah “reusing of books” menjadi frase kunci: bukan sekadar daur ulang fisik, melainkan daur ulang makna.

Mengutip nover Hunger(Lapar,YOI 1993) Knut Hamsun(1859-1952) — peraih Nobel Sastra 1920 asal Norwegia — dikisahkan tokoh pengembara yang kelaparan di Kristiania justru menjadikan buku dan tulisan sebagai jalan keluar dari keterpurukan.

Hamsun menulis tentang, “the whisper of the blood and the pleading of the bone marrow” — “bisikan darah dan permohonan sumsum tulang” — boleh ditafsir sebagai sebuah metafora bahwa teks bisa lahir dari tubuh yang lapar dan pikiran yang gelisah.

Membaca ulang novel ini dalam konteks limbah buku memberi kesadaran bahwa buku yang lahir dari penderitaan bisa tetap relevan sepanjang masa.

Meski berabad‑abad kemudian — mirip industri alihwahana karya Odessey Homerus dari abad keenam SM, di tangan sinemator Christopher Nolan abad-21 — mendaur ulang karya kreatif berarti menjaga denyut pengalaman peradaban manusia.

Tentunya, pengalaman ini berkenaan dengan relasi baka buku, pengetahuan dan bagaimana manusia — dari aras dan alaf manapun — memaknainya dalam arus dan denyut sejarah kebudayaan.

Sementara itu, Allison Hoover Bartlett yang menulis novel “faksi”, The Man Who Loved Books Too Much: The True Story of a Thief, a Detective, and a World of Literary Obsession(2009), menyingkap obsesi seorang pencuri buku langka, John Gilkey.

Gilkey memburu dan mencuri buku bukan demi uang, melainkan demi cinta yang berlebihan pada buku.

Dikutip frasa pendeknya, “loved books too much” menjadi suatu ironi: cinta yang berlebihan bisa berubah menjadi kejahatan.

Namun, di balik frasa itu tersirat pesan bahwa buku bekas, buku langka, atau bahkan buku yang dianggap limbah tetap memiliki daya tarik emosional sekaligus ekonomi.

Mendaur ulang buku berarti mengalihkan obsesi itu ke jalur yang lebih segar dan sehat.

Hal itu, boleh dibilang memperpanjang umur teks, memberi akses pada pembaca baru, dan mengurangi beban limbah lingkungan.

Dengan merujuk kedua karya tersebut, kita melihat bahwa limbah buku bukan sekadar masalah material.

Ia adalah persoalan budaya: bagaimana masyarakat memperlakukan pengetahuan yang sudah usang.

Lagi-lagi, Cina memberi contoh bahwa buku bekas bisa menjadi komoditas kreatif.

Lain lagi, bagi Hamsun dan Bartlett yang mengingatkan bahwa buku adalah cermin dari lapar dan cinta manusia.

Dengan kata lain, manfaat daur ulang limbah buku, mengubah upaya kreatif untuk menyegarkan kembali hubungan kita dengan teks-teks pengetahuan.

Juga, upaya kreatif lain yang menjadikannya bukan semata sampah, melainkan membaharui sumber daya yang terus berputar.

#coversongs:
Lagu “Books” karya JJ Lin pertama kali dirilis pada tahun 2003 dalam albumnya “Music Voyager.”

Lagu ini secara kritis mengkaji tekanan sistem pendidikan berorientasi ujian di Asia dan konflik identitas diri remaja, menjadikannya salah satu karya awalnya yang jarang membahas isu-isu sosial.

Lagu ini tidak hanya membantu siswa melepaskan stres tetapi juga menjadi pertanda fenomena budaya selanjutnya seperti “involusi” dan “berbaring telentang.”

#credit foto diolah dari tayangan IG infounik_77.

Kategori:
Tags:

Terkini