/1/
BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU
Puisi: Leni Marlina
–
Wahai engkau yang di sana.
Meskipun pagi belum sepenuhnya membuka mata,
Kubangunkan engkau dengan suara embun.
Di antara dua gumpal embun,
seekor burung sedang mengasah suaranya
pada tulang cahaya.
Aku menyebut namamu.
Tidak keras.
Hanya seperti akar
yang menukar garam dengan tanah.
Baca juga: KEMBANG KANGKUNG
Namamu bergerak perlahan
ke dalam tenggorokan burung itu,
lalu berubah menjadi sesuatu
yang tidak lagi menyerupai bahasa:
Sebutir aroma.
Warna yang belum ditemukan mata.
Suhu tipis pada batu
setelah sungai berpindah usia.
Burung itu terbang.
Bukan ke arahmu.
Langit tidak mengenal arah.
Ia terbang ke dalam jarak
yang terus menumbuhkan dirinya sendiri.
Di bawahnya,
sawah-sawah sedang menghafal bentuk hujan yang akan datang.
Kabut menggembalakan kehilangan
dari bukit ke bukit.
Dan waktu—
waktu duduk di tunggul pohon
mengupas kulitnya sendiri.
Aku menunggumu seperti lumut
pada sisi utara batu.
Menunggumu seperti biji-biji liar
di bawah lidah musim kemarau.
Menunggumu seperti cahaya
yang terperangkap bertahun-tahun
di dalam getah.
Maka aku menyimak
dari hal-hal yang tidak bergerak.
Dari batang bambu
yang menyimpan suara hujan
tanpa pernah mengucapkannya.
Dari tanah
yang merahasiakan ribuan akar
namun tetap mengangkat hutan.
Dari embun
yang setiap pagi mati
tanpa kehilangan keyakinan
kepada matahari.
Burung yang membawa namamu masih terbang.
Kini sayapnya dipenuhi
serbuk-serbuk fajar.
Paruhnya berbau daun muda.
Matanya menyimpan pantulan
sesuatu yang belum terjadi.
Aku tidak tahu
kapan ia akan tiba.
Tetapi pagi yang sama
yang menumbuhkan suaranya
di antara dua gumpal embun,
sedang tumbuh juga
di dalam darahmu.
Dan barangkali itulah sebabnya
ketika seekor burung bernyanyi,
udara di sekitarku
seakan membuka sebuah jendela tak terlihat,
sementara jauh di sana,
tanpa kita ketahui,
sesuatu yang lama terpisah
sedang mengganti kulitnya
menjadi satu musim untuk kita.
–
Padang, Sumbar, 2026
—-
/2/
BURUNG YANG MENYIMPAN MUSIM DI PARUHNYA
Puisi: Leni Marlina
–
Kau mungkin masih tertidur di sana.
Pagi datang dengan kantong-kantong kabut yang belum selesai dijahit angin.
Seekor burung hinggap di dahan tertinggi cahaya.
Paruhnya tertutup rapat,
seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku mengira itu biji.
Atau serpihan langit yang jatuh saat malam berganti kulit.
Tetapi ketika ia mengepakkan sayap,
aku melihat musim-musim keluar dari sela bulunya:
musim hujan yang masih basah oleh bau tanah,
musim kemarau yang menyimpan suara retak pada punggung sungai,
dan musim kehilangan yang selalu tumbuh lebih cepat dari rerumputan.
Burung itu tidak bernyanyi.
Ia hanya terbang melintasi lembah-lembah waktu.
Di bawahnya,
pepohonan membuka daun seperti membuka surat lama.
Gunung-gunung menundukkan kepala.
Batu-batu tua menggeser ingatan mereka beberapa sentimeter lebih dekat kepada lumut.
Aku mengikuti bayangannya.
Tetapi bayangan ternyata tidak pernah tinggal di tempat yang sama.
Ia berpindah dari tanah ke air, dari air ke awan,
dari awan ke sesuatu yang bahkan belum memiliki nama.
Menjelang senja,
burung itu menghilang,
seperti dirimu yang menghilang sejak lama.
Namun udara masih dipenuhi aroma musim yang tertinggal.
Dan aku mengerti:
beberapa perjumpaan tidak datang untuk menetap.
Ia datang agar dunia mengingat kembali cara berubah.
–
Padang, Sumbar, 2026
—-
/3/
SARANG YANG DITINGGALKAN ANGIN
Puisi: Leni Marlina
Lihatlah!
Di cabang terakhir pohon tua, sebuah sarang menggantung.
Tidak kosong.
Di dalamnya masih ada sisa hangat bulu,
bau hujan yang telah berlalu,
dan sebutir pagi yang gagal menetas.
Rasakanlah!
Angin datang setiap hari.
Ia mengelus tepi sarang itu seperti seseorang yang belum selesai mengucapkan selamat tinggal.
Daun-daun gugur satu demi satu.
Musim berpindah rumah.
Bahkan langit mengganti warna matanya.
Tetapi sarang itu tetap tinggal.
Bukan karena kuat.
Melainkan karena tahu:
ada hal-hal yang tidak bisa dibawa pergi,
bahkan oleh waktu.
Pagi ini,
seekor burung muda hinggap.
Ia tidak mengenal siapa yang pernah tinggal di sana.
Tidak mengenal nyanyian yang pernah mengisi ranting-rantingnya.
Namun ia membawa sehelai rumput baru.
Lalu sehelai lagi.
Dan sehelai lagi.
Aku melihatnya bekerja sampai matahari tumbuh penuh.
Saat itulah kita mengerti:
alam tidak pernah menghapus kehilangan.
Ia hanya menanam kehidupan di tempat yang sama hingga luka belajar menjadi rumah.
–
Padang, Sumbar 2026
—–
/4/
KETIKA LANGIT BELAJAR MENJADI SUNGAI
Puisi: Leni Marlina
–
Suatu pagi
langit lupa bahwa dirinya langit.
Ia mengalir.
Mula-mula sebagai garis tipis cahaya di sela dedaunan.
Lalu sebagai desir biru yang merambat di punggung bukit.
Awan-awan hanyut.
Matahari menjadi ikan emas yang berenang perlahan di antara arus udara.
Burung-burung mengangkat sayap mereka seperti perahu kecil.
Aku berdiri di tepi hari.
Melihat waktu mengapung bersama daun-daun.
Melihat kenangan berputar seperti pusaran yang tidak menuju mana-mana.
Jauh di hulu,
sebuah gunung sedang mencair menjadi doa.
Jauh di muara,
laut membuka kedua tangannya untuk menerima segala yang pergi.
Tidak ada yang tenggelam.
Tidak ada yang tiba.
Semuanya hanya berubah bentuk.
Termasuk aku.
Termasuk engkau.
Kita semuanya.
Termasuk nama-nama yang selama ini kita kira lebih kekal daripada air.
–
Padang, Sumbar, 2026
—–
/5/
POHON YANG MENUMBUHKAN BAYANGAN
Puisi: Leni Marlina
–
Tahukah dirimu?
Di halaman yang jarang dikunjungi musim,
tumbuh sebuah pohon.
Batangnya tua.
Akarnya memasuki tanah lebih dalam daripada ingatan.
Setiap pagi ia menumbuhkan bayangan.
Bukan daun.
Bukan bunga.
Melainkan bayangan.
Bayangan yang memanjang ke jalan-jalan sunyi.
Bayangan yang menyentuh jendela rumah-rumah kosong.
Bayangan yang duduk diam di bahu orang-orang yang sedang menyembunyikan kesedihan.
Aku bertanya kepada pohon itu:
mengapa bukan buah?
Pohon itu tidak menjawab.
Anginlah yang berbicara
Katanya, buah memberi makan tubuh.
Tetapi bayangan memberi tempat beristirahat bagi jiwa yang kelelahan.
Sejak hari itu,
aku sering duduk di bawahnya.
Melihat matahari memahat bentuk-bentuk sementara.
Melihat waktu jatuh perlahan dari cabang ke cabang.
Dan ketika senja datang,
aku menemukan sesuatu yang selama ini kucari:
tidak semua kehidupan harus berbunga untuk menjadi berguna.
–
Padang, Sumbar, 2026
—-
/6/
KETIKA BURUNG MEMINJAM TULANG PAGI
Puisi: Leni Marlina
–
Pagi masih tidur di bawah kelopak rawa.
Seekor burung membongkar tulang-tulang cahaya yang semalam dikuburkan kabut.
Paruhnya berlumur warna kuning yang berbau akar basah.
Ia mematuki matahari kecil yang tumbuh di bawah kuku rumput.
Dari luka itu,
langit mengeluarkan suara.
Suara yang berbulu.
Suara yang setiap helainya menyimpan sisa hujan dari abad yang telah lapuk.
Di kejauhan, sungai sedang menyisir rambutnya dengan sisir dari sisik ikan.
Batu-batu tua mengunyah bayangan sendiri.
Bukit membuka punggungnya, memperlihatkan ruas-ruas kenangan yang selama ini disembunyikan tanah.
Aku melihat waktu.
Ia duduk di atas tunggul.
Tubuhnya penuh bekas gigitan musim.
Sesekali ia mencabut kulitnya lalu menjemurnya di jemuran angin.
Tidak ada yang aneh.
Di negeri ini,
kesedihan memang biasa tumbuh seperti jamur di sela gigi matahari.
Sementara burung itu terus terbang.
Sayapnya mengibaskan debu-debu umur.
Dan setiap kepakannya,
satu pohon kehilangan ingatan,
satu awan menggugurkan mimpi,
satu embun belajar cara menjadi laut.
–
Padang, Sumbar 2026
—–
/7/
KETIKA KAMI MENJAHIT LANGITMU YANG ROBEK
Puisi: Leni Marlina
–
Kami menemukan namamu
tersangkut pada duri angin
di punggung musim.
Saat itu
langit sedang mencabut paku-paku karat
dari dadanya.
Burung-burung melintas rendah,
membawa serpihan tawa anak-anak
yang tercecer
di jalan tanah kampung.
Sungai menggendongnya
ke muara.
Airnya mulai lupa
rasa lumpur
yang dahulu membesarkannya.
Kami melihat padi-padi kurus
berjalan dari sawah ke lumbung.
Tetapi lumbung sibuk
menghitung emas
di balik dinding perutnya.
Di rumah-rumah tertentu
beras menumpuk seperti musim panen.
Di rumah-rumah lain
periuk menggema kosong
sepanjang malam.
Maka hujan jatuh
di atap-atap seng
yang sudah basah.
Sementara tanah pecah
menjilati debu
dari mulut kemarau.
Kami mendengar uang.
Ia berdesis
di bawah kulit hutan.
Mengunyah meranti.
Memamah bukit.
Menelan sungai.
Malam demi malam
ia mengangkut kampung-kampung
ke dalam perut truk,
meninggalkan tunggul,
debu,
dan nama-nama yang kehilangan alamat.
Tetapi jauh di bawah tanah,
akar-akar masih bertukar kabar.
Benih-benih masih berunding.
Cacing-cacing menulis jalan pulang
pada kitab gelap bumi.
Dan padi muda
diam-diam mengasah keberanian
di ruas batangnya.
Sawah mulai melupakan
jejak laras.
Sungai kembali menghafal ikan.
Bakau merajut ulang
tepi laut yang koyak.
Anak-anak kampung
membesarkan tawa mereka
hingga lebih tinggi
daripada pagar-pagar ketakutan.
Dan keadilan—
seekor burung rangkong
yang lama diburu keserakahan.
Ia terbang
membawa biji-biji hutan
dari gunung yang terluka
ke tanah yang nyaris lupa
cara bertumbuh.
Jika langitmu robek lagi,
panggillah kami.
Kami akan datang
membawa jarum
dari tulang cahaya.
Membawa benang
yang dipintal dari
keringat petani,
dayung nelayan,
doa para ibu,
dan mimpi anak-anak
yang terus bertumbuh.
Lalu kita jahit kembali cakrawala.
Agar padi dan palawija
tidak asing bagi penanamnya.
Agar laut
tidak jauh dari nelayannya.
Agar hutan
tidak kehilangan nama pohonnya.
Agar hujan
tidak memilih alamat.
Dan agar tak ada lagi pagar
di antara lapar dan panen,
di antara sungai dan haus,
di antara tanah
dan pemiliknya.
–
Padang, Sumbar, 2026
—000—

Tentang Penulis – Leni Marlina
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.
Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.
Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).
Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.
Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
Wattpad: @lenimarlina_write
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun





