by bambang oeban
–
Ada sebuah telepon
yang sampai hari ini
masih tinggal di sudut ingatan.
Bukan telepon dari istana.
Bukan dari gedung megah.
Bukan pula dari seseorang
yang sedang mencari penyair
untuk diberi penghargaan.
Baca juga: Tim Putri SMK Negeri 1 Pariwisata Biak Sabet Juara I Gerak Jalan HUT ke-81 RI
Tahun 2016.
Telepon itu datang
dengan suara seorang sahabat.
Herman Deru.
Waktu itu, belum menjadi
Gubernur Sumatera Selatan.
Ia meneleponku
dan berkata kira-kira begini:
“Kak, kalau ada acara baca puisi,
saya mau ikut.”
Aku menyambutnya
dengan hati yang senang.
Tentu saja senang.
Karena bagiku
puisi bukan sekadar
rangkaian kata.
Puisi adalah
sebuah pertemuan.
Pertemuan manusia
dengan manusia.
Pertemuan hati
dengan hati.
Pertemuan kegelisahan
dengan kegelisahan.
Dan ketika seorang calon pejabat
mau berdiri membaca puisi,
aku melihat sesuatu yang indah:
bahwa seorang manusia
masih mau duduk
di hadapan kata-kata.
Masih mau mendengarkan
suara hati.
Masih mau membuka
pintu keheningan.





