Rabu, 23 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “PELANGI YANG DITELAN JEREBU”

Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “PELANGI YANG DITELAN JEREBU”

/1/

PELANGI YANG DITELAN JEREBU

Baca juga: Kumpulan puisi Sebelum Langit Lupa Cara Biru

Puisi: Leni Marlina

Engkau tiba ketika hutan kehilangan dengung,
serangga menyimpan sayap di bawah arang murung;
langit meneteskan cahaya dari pori-pori bingung,
tujuh warna lahir
namun bumi menutup hidung.

Baca juga: SANG KAMASAN SOWEK

Engkau melengkung di atas kota demam,
membawa spektrum tipis dari rahim awan kelam;
warna-warna berdenyut di antara kaca dan makam,
seolah cahaya sedang mencari tubuhnya yang terpendam.

Lalu jerebu naik dari tanah menghitam,
ia hanya datang perlahan dan diam;
abu daun berpindah ke langit,
menjadi semacam makam,
sementara akar kehilangan alamat di ruang terdalam.

Merahmu disentuhnya
merahmu menjadi bara,
jinggamu digerogoti sampai kehilangan udara;
kuning bergetar di kaca-kaca kota,
hampir bicara,
hijau menyimpan hutan terakhir di belakang mata.

Hijau paling lama bertahan di tubuhmu yang tipis,
sebutir klorofil terakhir menolak habis;
ia bersembunyi di matamu,
menjadi denyut lirih,
sementara peta melipat hutan hingga tak lagi berselisih.

Jerebu tak tergesa
ia memiliki kesabaran tua,
menyusup ke sela spektrum,
mengubah cahaya menjadi luka;
ia mengaburkan jarak,
mengeruhkan nama dan udara,
hingga namamu sendiri tinggal angka jarak pandang semata.

Di bawahmu,
truk-truk mengangkut tanah tanpa akar,
bukit sedikit demi sedikit dipotong perlahan,
lalu dibawa ke luar;
di atasmu,
burung mengubah arah sebelum sempat bertanya,
siapa menyewakan langit, dan siapa menerima bayarnya?

Engkau masih tersenyum di ambang petang asing,
atau hanya cahaya lupa cara berpaling;
wajahmu menyimpan warna bening,
sementara asap menulis namanya pada paru-paru hening.

Petang menanggalkan warna terakhir dari tubuhmu,
spektrum dikunyah sampai tinggal getir di udara kelu;
merah menjadi debu,
hijau menjadi rahasia bisu,
langit menelan kembali apa yang pernah diberikannya kepadamu.

Engkau masih di sana:
sebuah kromosom cahaya yang salah alamat di musim,
terlempar ke dalam paru-paru dari udara makin asing;
sepotong prisma kehilangan sisi beningnya,
menjadi dingin,
dan warna yang dipanggil tak lagi pulang sebagai angin.

Ia menjawab dengan batuk merambat dari rumah ke rumah setiap pagi;
jendela-jendela tertutup menyimpan napas di balik sunyi,
sementara hutan terus mengirimkan sesuatu
yang tak pernah diberi nama dalam bahasa kami.

Dan ketika malam akhirnya mengambil seluruh warna,
kami tak tahu
apakah engkau telah lenyap atau justru
masuk terlalu dalam ke tubuh kami
hingga jerebu menemukan
tujuh warnamu di dalam darah ini.

Padang, Sumbar, September 2026

——

/2/

SETAJAM TATAPANMU

Puisi: Leni Marlina

Setajam tatapanmu, garam kehilangan laut,
bukit menyimpan denyut di bawah kulit kusut;
kabut mengusap luka yang belum sempat disebut,
sementara akar menghitung tanah surut.

Kau menatapku diam, tapi begitu tajam,
seperti tanah mengenali cangkul sebelum terbenam;
tak ada jerit terdengar dari lembah kelam,
hanya satu bukit berkurang dari bentang alam.

Di bawah peta, sungai mengubah urat,
garis merah menjalar, pelan-pelan mengikat;
nadi bumi dipindahkan menjadi koordinat,
dan hutan dibaca sebagai angka tercatat.

Pagi menggigit bukit dengan rahang besi,
batu keluar dari tulang, berkilau, lalu pergi;
kilau masuk neraca, debu tinggal di pori,
gunung menjadi tonase sebelum sempat berkata: “Aku di sini!”

Truk-truk beriring membawa lereng dan musim,
mengangkut warna tanah, mengangkut ingatan yang lirih;
rumah tinggal alamat, sungai kehilangan bening,
pulang berubah menjadi sesuatu yang sulit dikirim.

Di gudang, mineral kehilangan nama,
menjadi kadar, menjadi tonase, menjadi harga;
yang dahulu berkilau di rahim bumi tanpa suara,
kini gemerlap di layar jauh dari mata air dan doa.

Di kampung, air keruh tidur dalam tempayan,
anak-anak menunggu ikan yang tak kembali ke halaman;
solar merembes ke sungai, hitam dan perlahan,
menjadikan air mengeja sebuah kehilangan.

Namun kau menatapku selembut hujan yang terlambat,
seolah tanganmu tak pernah mengenal berat;
sementara gunung dipotong, sedikit demi sedikit terangkat,
masuk ke perut pabrik
menjadi sesuatu yang tak lagi dapat disebut dekat.

Di tepi jalan, papan berdiri tanpa ragu:
“KAWASAN PRODUKSI”:
dua kata, satu palu;
sayap, akar, lumut, sarang, dan bisu
mendadak tak memiliki bahasa selain angka dan laju.

Burung pergi; dahan menahan sisa,
musim kehilangan kalender, kabut kehilangan nama;
hutan tak tumbang dengan satu suara,
ia susut perlahan, seperti napas yang dipinjam tanpa jeda.

Kau menggenggam tanganku cukup hangat,
Namun telapak tanganmu menyimpan sesuatu yang lebih pekat:
sebidang tanah dengan nomor tercetak rapat,
sebelum sempat memiliki nama, ia telah menjadi rahasia pekat.

Selembut tatapanmu, bukit masih tinggal di mata,
tetapi akar telah diberi garis, sungai diberi batas;
batu yang belum lahir dari rahim tanah
telah lebih dahulu mempunyai harga.

Mesin menyala; malam bergetar di antara tebing,
sungai mengecil,
seutas urat semakin asing;
kalimat bumi dipotong sebelum selesai dibaca,
dan sunyi mengambil alih tempat kata-kata.

Daun terakhir hanyut menyentuh wajah kita,
dua pantulan bertemu sebentar di permukaan luka;
satu riak menghapus batas antara aku dan kau,
satu tangan masih menggenggam,
entah cinta,
entah sesuatu yang lain di sana.

Aku hampir bertanya: siapa yang sedang kita selamatkan?
Namun kata selamat terdengar terlalu bening di tanah yang demikian;
maka kubiarkan pertanyaan itu turun bersama hujan,
menjadi sesuatu yang tak selesai disebutkan.

Kita diam.
Dan ketika tanganmu perlahan membuka,
tak ada akar, tak ada luka, tak ada apa-apa,
hanya satu garis merah melingkar di telapak tangan kita,
entah batas tanah, entah tanda harga,
entah sesuatu yang sejak awal
mengira tubuh kita
sebidang tanah yang hilang di peta.

Padang, Sumbar, September 2026

—–

/3/

KAU TELAH PERGI

Puisi: Leni Marlina

Aku tahu kau telah pergi
jauh sebelum pintu belajar menutup;
yang tertinggal bukan langkahmu,
melainkan waktu yang tersangkut di engsel
berkarat,
namun masih berdenyut
setiap kali aku hendak lupa.

Aku tak lagi begitu percaya pada jam.
Ia terlalu pandai
membuat kehilangan
terlihat seperti perjalanan.

Di luar jendela,
pelangi mencoba tumbuh
di antara atap dan langit,
tetapi jerebu datang
dengan mulut kelabu
dan menelan warna
sebelum sempat menjadi petang.

Barangkali begitulah rindu:
sesuatu yang ingin berwarna
ketika udara
tak lagi bening
untuk menerimanya.

Aku tak memanggilmu.
Aku membuka jendela
dan membiarkan namamu
bercampur dengan udara.
warna
seperti memiliki paru-paru.
Merah menahan batuk.
Kuning menguning di balik kabut.
Hijau menggigil pada daun.
Biru mengendap
di tempat mata
tak lagi sampai.

Cemburu datang tanpa langkah.
Ia hanya menggeser kursi
sedikit lebih dekat ke jendela,
lalu diam-diam menunggu
siapa yang pertama mengaku melihat.

Aku tak bertanya dari mana kau pulang.
Aku memperhatikan sebutir debu di bahumu,
entah bagaimana ia mengetahui jalan
yang tak kutempuh.
Mungkin bahagia
hanyalah kaca untuk sesaat
berhenti bertanya:
siapa yang berdiri di hadapannya.

Pelangi ditelan jerebu.
Namun entah mengapa
aku masih melihat sisa warnanya
di antara napas kita.
Jangan bicara tentang kesetiaan.
Kata itu terlalu licin
untuk tangan gemetar ketika memilih.

Ada sesuatu dalam diriku
yang selalu ingin menjadi pintu:
dibuka dan ditutup olehmu,
lalu diam-diam berharap
engkau lupa membawa kuncinya.
Tetapi malam
tak pernah benar-benar gelap
ketika langit menyimpan
warna yang gagal dilahirkan.

Aku memandang kaki sendiri.
Dua bayangan berdiri di lantai.
Yang satu milikku.
Yang satu lagi seperti hendak pergi,
tetapi tertahan oleh udara.
Lalu kau memanggil namaku begitu pelan
hingga jam di dinding seolah
kehilangan satu detik.
Aku menoleh
Tak ada siapa-siapa
Hanya tujuh warna
yang perlahan turun dari kaca
ke ambang jendela.

Pagi mulai bergerak, seekor ngengat
hinggap di sana
dan tiba-tiba
salah satu warna menempel di sayapnya.
Ia terbang
Aku tidak tahu
apakah ia membawa pelangi,
atau membawa sesuatu
yang seharusnya tetap tinggal di sini.

Padang, Sumbar, September 2026

——

Tentang Penulis – Leni Marlina

Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.

Sejak tahun 2006, Leni mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.

Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).

Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id | Wattpad: @lenimarlina_write | Instagram: @lenimarlina_starmoonsun

Kategori:
Tags:

Terkini