Senin, 12 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Lembah Harau ke Panggung Dunia: Prof. Edi Syafri Bawa PPNP Masuk Daftar Top 2% Ilmuwan Dunia

Laporan Leni Marlina| Redaktur SAN

–

Tiga dosen politeknik Indonesia yang masuk daftar World’s Top 2% Scientists 2026: Prof. Dr. Dwi Suhartanto (Politeknik Negeri Bandung), Prof. Dr. Arridina Susan Silitonga (Politeknik Negeri Medan), dan Prof. Dr. Edi Syafri (Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh). (Dok. Green Engineering Society)

Baca juga: Boat “UNP Berdampak” Hadir di Danau Atas Alahan Panjang, UNP Dorong Wisata Air Berbasis Masyarakat

PAYAKUMBUH – SUARA ANAK NEGERI| Kabar membanggakan datang dari kaki Bukit Barisan. Guru Besar Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP), Prof. Dr. Edi Syafri, tercatat sebagai salah satu ilmuwan Indonesia yang masuk daftar World’s Top 2% Scientists 2026, daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia yang disusun tim Prof. John P.A. Ioannidis dari Stanford University bersama penerbit ilmiah Elsevier.

Prestasi ini istimewa karena dunia politeknik jarang muncul di daftar tersebut. Dari 272 penulis berafiliasi Indonesia pada kategori dampak sitasi satu tahun (single-year) 2025, yang datanya dirilis Agustus 2026, hanya tiga orang yang berasal dari politeknik. Selain Prof. Edi, dua lainnya adalah Prof. Dr. Dwi Suhartanto dari Politeknik Negeri Bandung (Polban) dan Prof. Dr. Arridina Susan Silitonga dari Politeknik Negeri Medan (Polmed).

Prof. Dwi Suhartanto, pakar manajemen pariwisata dan pemasaran, bahkan menempati urutan kelima nasional dengan peringkat dunia 19.691. Prof. Arridina Susan Silitonga, peneliti energi terbarukan dan biodiesel, berada di urutan ke-35 nasional dengan peringkat dunia 70.717. Sementara Prof. Edi Syafri berada di urutan ke-193 nasional dengan peringkat dunia 267.954 (tanpa sitasi diri).

Baca juga: Dosa

Capaian ini juga menjadikan PPNP satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Sumatera Barat yang dosennya masuk daftar tahun ini. Di provinsi yang sama, nama lain yang tercatat berasal dari Universitas Andalas (tiga orang, termasuk Prof. Dr.-Ing. Hairul Abral) dan Universitas Negeri Padang (tiga orang).

Tiga Dosen Politeknik di Daftar Top 2% (data single-year 2025)

Nama Institusi Urutan
Nasional
Peringkat Dunia
(tanpa sitasi diri)
Publikasi Sitasi 2025
Prof. Dr. Dwi Suhartanto Polban 5 19.691 115 893
Prof. Dr. Arridina Susan Silitonga Polmed 35 70.717 122 1.318
Prof. Dr. Edi Syafri PPNP 193 267.954 72 588

Sumber: Ioannidis J.P.A., Elsevier, Table 1 Authors single-year 2025 (data Agustus 2026). Jumlah publikasi dihitung hingga 2025.

Apa Itu Daftar Top 2% dan Bagaimana Syaratnya?

Daftar yang populer disebut “Top 2% Stanford” ini pertama kali dipublikasikan pada 2019 dan diperbarui setiap tahun. Basis datanya adalah Scopus, pangkalan data publikasi ilmiah milik Elsevier yang memuat jutaan peneliti dari seluruh dunia. Penilaian tidak dilakukan lewat pendaftaran atau pengusulan; seorang ilmuwan masuk daftar murni karena rekam jejak publikasi dan sitasinya.

Peringkat disusun berdasarkan skor komposit (c-score) yang menggabungkan enam indikator: jumlah sitasi, h-index, hm-index (h-index yang disesuaikan dengan jumlah penulis bersama), serta sitasi pada artikel yang ditulis sebagai penulis tunggal, penulis pertama, dan penulis terakhir. Dengan cara ini, yang dinilai bukan sekadar banyaknya karya, melainkan seberapa besar karya itu dipakai dan dirujuk ilmuwan lain, serta seberapa besar peran sang peneliti dalam karya tersebut.

Seluruh ilmuwan dikelompokkan ke dalam 22 bidang dan 174 subbidang ilmu. Seorang peneliti dinyatakan masuk daftar jika berada di 100.000 besar dunia berdasarkan skor komposit, atau berada di 2 persen teratas dalam subbidangnya. Syarat kedua inilah yang membuat daftar ini adil bagi bidang dengan budaya sitasi berbeda, misalnya ilmu material dibandingkan kedokteran. Peringkat resmi juga dihitung tanpa sitasi diri, sehingga peneliti tidak bisa mendongkrak posisinya dengan mengutip karyanya sendiri.

Ada dua kategori: dampak sepanjang karier (career-long) dan dampak satu tahun (single-year). Ketiga dosen politeknik di atas tercatat pada kategori satu tahun, yang mengukur seberapa besar pengaruh karya mereka dalam setahun terakhir. Artinya, riset mereka bukan hanya pernah terbit, tetapi sedang aktif dibaca dan dirujuk komunitas ilmiah internasional.

Mengubah Limbah dan Serat Lokal Menjadi Material Masa Depan

Prof. Edi Syafri dikenal sebagai peneliti serat alam, nanoselulosa, bionanokomposit, dan bioplastik, bagian dari rumpun ilmu material. Benang merah risetnya adalah mengolah tanaman dan limbah pertanian yang sering dianggap tak bernilai menjadi material ramah lingkungan pengganti plastik dan serat sintetis.

Sejumlah tanaman lokal telah ia teliti, di antaranya serat Agave gigantea, kapuk (Ceiba pentandra), sembukan (Paederia foetida), pandan duri (Pandanus tectorius), kulit durian, tangkai bunga kelapa merah, batang tembakau, hingga akar wangi (Chrysopogon zizanioides). Dari bahan-bahan itu, timnya mengekstraksi selulosa berukuran mikro hingga nano untuk memperkuat komposit dan film bioplastik.

Beberapa topik riset terbarunya meliputi:

  1. Film bioplastik dari pati singkong dan mocaf yang diperkuat nanoselulosa serat kapuk, kandidat kemasan ramah lingkungan.
  2. Film nanokomposit PVA yang diperkuat nanoselulosa, dengan kekuatan mekanik, ketahanan panas, dan kemampuan menahan sinar UV yang lebih baik.
  3. Nanoselulosa dari limbah lada (Piper nigrum) dan selulosa sebagai bahan perban luka serta tekstil medis.
  4. Kristal nanoselulosa dan hidrogel berbasis bahan hayati untuk menyerap polutan pada pengolahan air limbah.
  5. Pengaruh kalsinasi lempung alam sebagai pengisi komposit poliester yang lebih tahan panas dan kuat (2025–2026).
  6. Riset terapan pertanian, seperti mesin penggiling cangkang telur dan kerang untuk pakan ternak serta kajian bibliometrik pembangunan pertanian Asia Tenggara.

Data Elsevier mencatat Prof. Edi telah menghasilkan 72 publikasi terindeks Scopus sejak 2017, dengan 588 sitasi sepanjang 2025 dan h-index 14. Banyak karyanya lahir dari kolaborasi lintas negara, antara lain dengan peneliti King Abdulaziz University (Arab Saudi) dan India yang terbit di jurnal Crystals, serta makalah di Journal of Natural Fibers (Q1). Di dalam negeri, ia lama berkolaborasi dengan laboratorium Prof. Hairul Abral di Universitas Andalas, yang tahun ini juga masuk daftar yang sama.

Selain meneliti, Prof. Edi menjabat Pemimpin Redaksi (Editor in Chief) Journal of Fibers and Polymer Composites (JFPC) dan Direktur Green Engineering Society (GES), perkumpulan ilmiah yang menaungi sejumlah jurnal dan pada 10 Oktober 2026 merilis ucapan selamat bagi delapan ilmuwan Indonesia yang masuk daftar Top 2% tahun ini.

Jalan Berliku Menuju Guru Besar

Pencapaian ini tidak datang dengan mudah. Dalam catatan reflektif berjudul Jalan Panjang dan Berliku Menuju Guru Besar, Prof. Edi mengisahkan bagaimana pengajuan guru besarnya sempat terganjal persoalan linearitas keilmuan dan permohonan pindah ke perguruan tinggi lain ditolak. Ia lalu memetakan ulang hubungan antara bidang risetnya dan mata kuliah yang diampunya hingga menemukan benang merah di bidang ilmu material.

Berkas guru besarnya diajukan pada 11 Mei 2023 dan Surat Keputusan Penetapan Angka Kredit ditandatangani 31 Agustus 2023. Kepada rekan-rekannya, ia menutup kisah itu dengan pepatah Jepang yang menjadi pegangannya:

“Nana korobi yaoki. Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Jangan menyerah! Allah melihat!”

Apa Artinya bagi PPNP?

Masuknya seorang dosen ke daftar Top 2% membawa dampak nyata bagi institusi. Pertama, nama PPNP kini tercatat dalam basis data ilmuwan berpengaruh dunia yang dirujuk universitas, lembaga donor, dan mitra industri. Ini menjadi bukti bahwa kampus vokasi di daerah mampu menghasilkan riset berkelas global.

Kedua, rekognisi internasional dosen merupakan salah satu indikator kinerja yang dinilai pemerintah bagi perguruan tinggi negeri, sekaligus memperkuat penilaian akreditasi institusi dan program studi pada aspek penelitian dan publikasi. Ketiga, reputasi ini membuka pintu kolaborasi riset dan hibah, baik nasional maupun internasional, yang pada gilirannya melibatkan mahasiswa dalam riset bertaraf dunia.

Keempat, riset Prof. Edi berangkat dari bahan baku pertanian lokal seperti kapuk, singkong, dan limbah perkebunan. Hilirisasi riset semacam ini sejalan dengan misi PPNP sebagai politeknik pertanian, yaitu menambah nilai komoditas petani dan membuka peluang usaha baru berbasis material hijau. Kelima, capaian ini menjadi teladan bagi dosen muda bahwa publikasi bereputasi dapat diraih dari kampus mana pun, selama ada ketekunan dan jejaring kolaborasi.

Dengan masuknya Prof. Edi Syafri bersama Prof. Dwi Suhartanto dan Prof. Arridina Susan Silitonga, pendidikan vokasi Indonesia mengirim pesan yang jelas: politeknik bukan hanya tempat mencetak tenaga terampil, tetapi juga rumah bagi ilmuwan yang karyanya diperhitungkan dunia.

 

Kategori:
Tags:

Terkini