MALANG – SUARA ANAK NEGERI|Peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang ikrar 28 Oktober 1928. Lebih dari itu, momentum bersejarah ini mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang berintegritas, berkarakter, dan berani menghadapi tantangan zaman.
Semangat tersebut terasa dalam Forum Jagorama (Jagongan Rabu Malam) Sesi 6 di Gedung Juang DHC 45 Kota Batu, 29 Oktober 2026. Mengusung tema Menyibak Serat Kalatidha, Merawat Eling lan Waspada, forum ini mengajak masyarakat merenungkan pemikiran Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam menghadapi kemerosotan moral dan krisis keteladanan.
Tembang Sinom, pencak silat, atraksi Bantengan, dan musikalisasi puisi yang mewarnai kegiatan tersebut membuktikan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang pendidikan karakter. Tradisi tidak hanya dikenang sebagai warisan leluhur, tetapi juga dihidupkan melalui kreativitas generasi muda.
Baca juga: Musda SatuPena Sumbar Sukses Digelar: Yozarwardi Resmi Pimpin Periode 2026–2031
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, keterlibatan anak-anak muda dalam memainkan dan menjaga musik tradisional merupakan pemandangan yang membanggakan.
Ki Sentot Ariwahyudi, S.Sos., M.M., menyambut kegiatan tersebut dengan senang dan bangga. Baginya, potensi anak muda merupakan aset Kota Batu yang harus dirawat dan dikembangkan.
Pandangan ini patut mendapat perhatian. Sebab, sebuah kota tidak cukup hanya membanggakan keindahan alam dan kemajuan pembangunan fisiknya. Kota juga membutuhkan generasi penerus yang memahami akar budayanya, memiliki karakter kuat, serta mampu mengukir prestasi.
Baca juga: SELAMATKAN KAMI DARI PARA PENYELAMAT
Eling lan Waspada: Kompas Moral Generasi Muda
Serat Kalatidha mengingatkan manusia agar tidak kehilangan pegangan moral ketika menghadapi zaman yang penuh ketidakpastian. Pesan eling lan waspada mengajak kita senantiasa mengingat nilai kebenaran, menjaga hati nurani, dan berhati-hati agar tidak terseret arus perilaku yang merusak.
Dalam kehidupan generasi muda, pesan tersebut memiliki relevansi yang kuat. Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi memberikan banyak peluang, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam membentuk karakter.
Kecerdasan tanpa integritas dapat kehilangan arah. Popularitas tanpa tanggung jawab dapat melahirkan kesombongan. Prestasi tanpa sportivitas dapat merusak makna kemenangan.
Karena itu, pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan pengembangan bakat dan kemampuan. Anak muda perlu dibimbing agar tidak hanya menjadi generasi yang cakap, tetapi juga generasi yang memiliki kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
JAGORAMA menjadi salah satu ruang untuk menanamkan kesadaran tersebut melalui dialog kebudayaan. Ketika seni tradisional dipertemukan dengan pemikiran kritis, warisan leluhur memperoleh kehidupan baru dalam kesadaran generasi penerus.
Sistem Among: Mengasuh Potensi, Bukan Sekadar Menuntut Prestasi
Ki Hadjar Dewantara mewariskan sistem among yang menekankan keteladanan, pendampingan, dan penghormatan terhadap potensi anak.
Prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani mengandung pesan bahwa pemimpin harus mampu memberikan teladan, membangun semangat bersama, dan mendorong orang lain berkembang secara mandiri.
Semangat inilah yang perlu diterapkan dalam pembinaan generasi muda Kota Batu.
Anak-anak yang mencintai musik tradisional membutuhkan panggung untuk tampil. Mereka membutuhkan guru, pelatih, dan komunitas yang bersedia mendampingi. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas tanpa kehilangan akar kebudayaannya.
Hal serupa berlaku dalam olahraga. Anak muda yang memiliki bakat atletik membutuhkan pembinaan terencana, fasilitas memadai, pelatih berkualitas, dan kompetisi berjenjang.
Mereka tidak cukup hanya disebut sebagai aset daerah. Potensi tersebut harus dirawat melalui kebijakan dan program yang nyata.
Sistem among mengajarkan bahwa keberhasilan pembinaan bukan semata-mata diukur dari hasil akhir, melainkan juga dari proses pembentukan manusia yang mandiri, bertanggung jawab, dan berkarakter.
Ki Sentot Ariwahyudi dan Tantangan Prestasi Olahraga
Sebagai Ketua KONI Kota Batu, Ki Sentot Ariwahyudi memiliki tanggung jawab strategis dalam mengembangkan prestasi olahraga daerah. Amanah tersebut menuntut kesinambungan pembinaan, penguatan organisasi cabang olahraga, serta perhatian terhadap masa depan atlet.
Prestasi olahraga tidak lahir secara instan. Di balik setiap kemenangan terdapat kerja keras atlet, dedikasi pelatih, dukungan keluarga, dan tata kelola organisasi yang baik.
Oleh sebab itu, keberhasilan kepemimpinan olahraga tidak semestinya hanya diukur dari medali yang diraih dalam suatu kompetisi. Keberhasilan juga perlu dilihat dari kualitas pembinaan atlet usia dini, regenerasi, peningkatan kapasitas pelatih, pemerataan kesempatan berlatih, dan keberlanjutan program.
Kota Batu membutuhkan sistem pembinaan yang memungkinkan atlet berkembang secara konsisten. Evaluasi berkala, target yang terukur, transparansi pengelolaan, serta kolaborasi dengan sekolah dan masyarakat merupakan bagian penting dari upaya tersebut.
Dalam kerangka ini, harapan agar Ki Sentot terus mengembangkan kepemimpinan KONI Kota Batu secara berkelanjutan merupakan harapan yang wajar. Namun, keberlanjutan itu perlu ditopang oleh kinerja yang dapat dievaluasi, prestasi yang terukur, dan program yang memberikan manfaat nyata bagi atlet.
Kepemimpinan yang kuat bukan hanya mampu mempertahankan capaian, melainkan juga menyiapkan generasi penerus untuk melampauinya.
Literasi, Kebudayaan, dan Olahraga dalam Satu Gerakan
Keterlibatan Ki Sentot sebagai Dewan Etik SATUPENA Jawa Timur juga menempatkannya dalam lingkungan pengabdian yang berkaitan dengan literasi dan kebudayaan.
Ketiga bidang ini sesungguhnya memiliki tujuan yang saling melengkapi.
Literasi mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Kebudayaan memperkuat identitas dan kepekaan sosial. Olahraga membentuk kedisiplinan, ketangguhan, dan sportivitas.
Apabila ketiganya dikembangkan secara bersamaan, Kota Batu memiliki peluang untuk membangun generasi yang tidak hanya unggul dalam keterampilan, tetapi juga matang dalam kepribadian.
Bayangkan generasi muda yang mampu memainkan gamelan atau musik tradisional, memahami nilai-nilai luhur dalam Serat Kalatidha, membaca dan menulis dengan baik, sekaligus berprestasi dalam bidang olahraga.
Mereka adalah generasi yang berakar pada kebudayaan sendiri, tetapi terbuka terhadap kemajuan dunia.
Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, organisasi olahraga, organisasi literasi, dan keluarga. Setiap unsur masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak muda.
Kota Batu: Membangun Manusia, Bukan Sekadar Membangun Kota
Kota Batu memiliki kekayaan alam dan kebudayaan yang menjadi sumber kebanggaan masyarakatnya. Namun, kekayaan tersebut akan semakin bermakna apabila disertai peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Gedung Juang 45, dalam kegiatan JAGORAMA, memperlihatkan bagaimana ruang bersejarah dapat menjadi tempat perjumpaan antargenerasi. Di sana, seni tradisional, pemikiran kebudayaan, dan suara generasi muda bertemu dalam satu ruang dialog.
Tantangan berikutnya adalah menjaga agar kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Perlu ada kesinambungan kegiatan, pendokumentasian seni tradisional, regenerasi pelaku budaya, dan ruang ekspresi yang lebih luas bagi anak muda.
Demikian pula pembinaan olahraga harus terus diperkuat melalui perencanaan jangka panjang dan evaluasi yang objektif.
Kita membutuhkan pemimpin yang mampu merawat proses, menghargai kerja kolektif, serta memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang.
Ki Sentot Ariwahyudi patut diapresiasi atas kebanggaannya terhadap keterlibatan anak-anak muda dalam menjaga musik tradisional. Harapan agar kepemimpinannya di bidang olahraga terus memberikan kontribusi bagi prestasi Kota Batu juga perlu diwujudkan melalui kerja nyata dan tata kelola yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya kedudukan yang diembannya, melainkan juga manfaat yang dirasakan masyarakat dan kesempatan yang terbuka bagi generasi berikutnya.
Budaya yang terawat melahirkan identitas. Pendidikan yang baik menumbuhkan integritas. Olahraga yang terbina melahirkan prestasi. Ketiganya membutuhkan kepemimpinan yang berketeladanan dan berkelanjutan.
Semangat Sumpah Pemuda harus terus hidup dalam tindakan nyata. Pesan eling lan waspada harus hadir dalam perilaku sehari-hari. Sistem among harus menjadi inspirasi dalam mengasuh potensi generasi penerus.
Dengan demikian, Kota Batu tidak hanya tumbuh sebagai kota wisata, tetapi juga berkembang sebagai kota literasi, kota budaya, dan kota yang membanggakan karena prestasi generasi mudanya.
Merawat budaya, mengasuh pemuda, mengangkat prestasi. Itulah jalan membangun masa depan Kota Batu.
Salam Literasi! Salam Budaya! Salam Prestasi!
Akaha Taufan Aminudin



