Selasa, 22 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

SANG KAMASAN SOWEK

Elegi untuk Prof. Dr. Oscar Oswald Octavianus Wambrauw, S.E., M.Ec.

Rektor Universitas Cenderawasih

Oleh: Albert Rumbekwan
Dibacakan oleh: Dr. Risamasu, S.E., M.Ec.
Pada Upacara Penghormatan Jenazah Rektor Universitas Cenderawasih
Auditorium Universitas Cenderawasih, Senin, 21 September 2026

Baca juga: Sastra Hidup Lagi Di Senen: 70 Pelajar Jakarta Pusat Ambil Estafet dalam Festival Komunitas 2026

Kampungku adalah Kampung Sowek.
Negeri yang berdiri di atas laut,
di mana aibon menjadi penjaga pantai,
ikan-ikan menari di bawah rumah,
dan samudra menjadi halaman kehidupan.

Di teluk yang teduh,
suara kamasan bergema.

Baca juga: Mancing di Belakang Rumah

Besi dibakar dalam bara,
dipukul, ditempa,
diasah dengan kesabaran,
hingga menjadi parang
yang berguna bagi kehidupan.

Dari kamasan itulah
seorang anak Sowek belajar tentang kehidupan.

Bahwa hidup tidak dibentuk oleh kemudahan,
melainkan oleh ketekunan,
kesabaran,
kerja keras,
dan pengabdian.

Layar Waiman Susu terkembang.

Angin Wambrau berembus kencang,
mengantar sebuah perahu meninggalkan Sowek.

Di dalam perahu itu
ada doa seorang ibu,
ada harapan sebuah keluarga,
dan ada cita-cita sebuah kampung.

Perahu itu akhirnya merapat di Jayapura.

Jauh dari keluarga,
ia menapaki kehidupan baru.

Ia tinggal di Asrama Sakura
Universitas Cenderawasih.

Di sana,
ia diterima oleh buku.
Ia ditempa oleh buku.
Ia bertumbuh melalui diskusi,
tugas, ujian,
dan pergumulan panjang mencari ilmu.

Ia belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Cenderawasih pada masa itu.

Namun perjalanan ilmunya
tidak berhenti di Jayapura.

Ia melangkah ke Bogor,
kemudian menyeberangi batas negeri
hingga sampai ke Jerman.

Di sana ia mendalami agribisnis dan ekonomi,
ilmu tentang kekuatan bersama,
ilmu tentang kesejahteraan,
ilmu yang kelak diabdikan
bagi kehidupan manusia dan tanah Papua.

Kemudian ia kembali.

Kembali ke tanah leluhur.
Kembali kepada Papua.
Kembali kepada Universitas Cenderawasih.

Ia hadir sebagai pengajar,
sebagai penuntun,
sebagai guru kehidupan.

Ia menempa anak-anak negeri
dari gunung,
dari lembah,
dari pesisir,
dan dari pulau-pulau
agar berani menatap masa depan.

Tahun-tahun pengabdian
mengantarkannya pada sebuah amanat besar.

Ia dipercaya menjadi
Rektor Universitas Cenderawasih.

Sebagai Rektor,
ia menjaga api pengetahuan,
menguatkan pendidikan,
dan membuka jalan
bagi generasi Papua.

Ia bukan hanya seorang akademisi.
Ia adalah guru.
Ia adalah pemimpin.
Ia adalah orang tua
bagi banyak anak negeri.

Namun,
pada Kamis, 17 September 2026,
ketika fajar hendak menyingsing
di ufuk Port Numbay,

Tuhan memanggilmu pulang.

Palu itu kini terdiam.

Rumah kamasan berduka.

Hati kami terluka.
Mata kami sembab.
Air mata membasahi wajah kami.

Kami kehilangan
Prof. Dr. Oscar Oswald Octavianus Wambrauw, S.E., M.Ec.

Seorang Rektor.
Seorang dosen.
Seorang guru.
Seorang pemimpin.
Seorang orang tua.

Dan bagi kami,
engkau adalah
Sang Kamasan Sowek.

Terima kasih.

Terima kasih atas pengabdianmu.
Terima kasih atas ilmu yang engkau wariskan.
Terima kasih atas keteladananmu.
Terima kasih atas kelembutanmu.
Terima kasih atas semangatmu
untuk membangun Universitas Cenderawasih.

Ilmu dan keteladananmu
tidak akan berhenti bersama kepergianmu.

Keduanya akan tetap hidup
dalam ingatan kami,
dalam ruang-ruang kuliah,
dalam buku-buku,
dalam langkah para mahasiswa,
dan dalam perjalanan Universitas Cenderawasih.

Kini,
palu itu telah engkau serahkan kepada kami.

Api kamasan itu
akan terus kami jaga.

Tongkat estafet pengabdianmu
akan kami lanjutkan.

Kami akan terus membangun
Universitas Cenderawasih
sebagai rumah ilmu,
rumah pengharapan,
dan rumah masa depan
bagi manusia Papua di tanah Papua.

Biarlah ombak Sowek
menyanyikan perjalananmu.

Biarlah aibon
menjaga kenanganmu.

Biarlah angin Wamrau
membawa namamu
menyeberangi samudra.

Dan biarlah layar Waiman Susu
mengantarmu
menuju pelabuhan keabadian.

Selamat jalan, Bapak Rektor.

Selamat jalan, Guru kami.

Selamat jalan, Pemimpin kami.

Selamat jalan,
Sang Kamasan Sowek.

Palu telah terdiam,
tetapi karya tidak akan berhenti.

Api telah engkau wariskan,
tetapi cahayanya tidak akan padam.

Cahayanya akan terus menerangi
jalan anak-anak Cenderawasih
menuju Papua yang maju,
bermartabat,
adil,
dan penuh harapan.

Selamat jalan, Prof. Oscar O. Wambrauw.

Beristirahatlah dalam damai
di rumah Bapa di Surga.

Sampai kita berjumpa
di pelabuhan keabadian.

Abepura, 18 September 2026
Albert Rumbekwan

 

Kategori:
Tags:

Terkini