Era Nurza
–
Pagi datang membawa selimut kelabu
Bukan embun, bukan kabut sawah
Ini racun, ini hantu tanpa pintu
Menyusup ke rumah, ke dada, ke sekolah
Dari mana bara ini menyala
Tak ada jawaban, hanya pekat
Langit biru kini jadi cerita
Tersisa perih, sesak, penat
Baca juga: A Bilingual Poetry Collection by Wulandari - Translated by Leni Marlina: "THE LITTLE BOAT"
Paru-paru kota mengerang pelan
Setiap helaan jadi taruhan
Batuk bersahutan sepanjang malam
Nafas pendek, hidup tertekan
Lihatlah jendela kelas tertutup rapat
Papan tulis sepi tanpa suara
Anak-anak menatap langit berkarat
Tawa hilang, ilmu pun hampa
Buku terbuka, mata pedih menatap
Kapur tak lagi menari lincah
Guru berbisik lewat masker pengap
Sementara asap makin merajalela, memuncak
Luar rumah bukan lagi ruang bebas
Taman sepi, lapangan terkunci debu
Sepeda terparkir, bola tak lepas
Semua tunduk pada kabut semu
Kembalikan biru itu
Kembalikan tawa jernih itu
Padamkan api liar itu
Sebelum nafas terakhir jadi debu
Padang, 16 Oktober 2026
Penulis
Edrawati, M.Pd. dengan nama pena Era Nurza, merupakan guru inspiratif yang meyakini mendidik bukan sekadar mengajar, melainkan membentuk karakter dan menyalakan semangat belajar. Ia membimbing murid berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya bermakna. Telah melahirkan enam buku tunggal dan lebih dari lima puluh antologi fiksi maupun nonfiksi. Aktif di berbagai komunitas literasi nasional, kiprahnya meluas hingga kancah internasional melalui kolaborasi produktif bersama komunitas literasi Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Australia, Turki, dan Jepang untuk menggerakkan literasi dunia dengan hati tulus.



