Jumat, 07 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Sikap Kritis Menuju Penghayatan Iman: Refleksi Helida Cecilia Pasaribu tentang In Persona Christi

Redaksi Suara Anak Negeri

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, tidak semua tulisan lahir dari keinginan untuk berdebat. Ada pula tulisan yang tumbuh dari pengalaman iman, pergulatan batin, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa pemahaman seseorang dapat berubah seiring pendalaman ajaran Gereja.

Baca juga: TransJakarta: Membaca Perjalanan sebagai Ruang Alternatif, Berkarya dan Bertumbuh (Bagian 3)

Melalui refleksi yang diunggah di akun Facebook pribadinya, Helida Cecilia Pasaribu membagikan perjalanan imannya dalam memahami makna In Persona Christi, sebuah istilah teologis yang sering disalahpahami, bahkan oleh umat Katolik sendiri. Berawal dari sebuah pesan pribadi (direct message) yang memintanya membahas tema dimaksud, kemudian diperkaya oleh pengalaman menghadiri Misa Syukur HUT ke-30 WKRI Cabang Santo Arnoldus Janssen dan perjumpaan sederhana bersama Romo Sipri Cypri Wagung, ia merangkai sebuah kesaksian yang mengajak pembaca melihat kembali makna panggilan imamat menurut ajaran Gereja Katolik.

Tulisan ini bukanlah uraian teologi akademis, melainkan kesaksian iman yang sederhana namun mendalam. Di dalamnya, Helida mengisahkan bagaimana dahulu ia memandang penghormatan umat kepada imam sebagai sesuatu yang berlebihan. Namun, melalui pembelajaran Katekismus Gereja Katolik, khususnya ajaran mengenai In Persona Christi Capitis (KGK 1548), ia menemukan perspektif baru bahwa penghormatan kepada imam bukanlah pengultusan terhadap pribadi manusia, melainkan penghormatan kepada Kristus yang tetap berkarya melalui pelayanan imamat yang telah ditetapkan-Nya bagi Gereja.

-000-

Baca juga: TransJakarta: Transportasi Publik sebagai Ruang Istirahat di Tengah Kota (Bagian 2)

Berikut kami sajikan refleksi lengkap Helida Cecilia Pasaribu sebagaimana dibagikan kepada publik melalui media sosialnya.

“Kemarin saya menerima sebuah DM yang meminta saya membahas tentang In Persona Christi.

Malam harinya, saya mengikuti Misa Syukur HUT ke-30 WKRI Cabang St. Arnoldus Janssen. Setelah Misa, saya sempat berfoto bersama Romo Sipri Cypri Wagung.

Rasanya semua seperti saling terhubung.

Jadi, selain ingin memenuhi permintaan seorang teman di DM, foto ini juga menjadi kenangan indah yang ingin saya simpan di sini.

Apakah ini hanya kebetulan?

Bisa jadi.

Namun saya lebih suka percaya bahwa dalam hidup, banyak hal terjadi karena penyelenggaraan ilahi. Tuhan sering memakai peristiwa-peristiwa sederhana untuk mengingatkan kita akan sesuatu yang lebih besar.

Saya mau bercerita sedikit.

Kalau kalian sudah lama mengikuti tulisan saya, pasti tahu kalau saya ini orangnya cukup kritis.

Namun, saat itu alih-alih bersikap kritis, saya malah terkesan nyinyir.

Dulu, setiap kali melihat umat mengantre untuk berfoto bersama Romo setelah Misa, saya merasa mereka berlebihan.

Dalam hati saya berpikir,

“Bukankah Romo juga manusia biasa? Mengapa sampai segitunya?”

Setelah saya semakin belajar tentang iman Katolik, saya baru sadar bahwa saya belum memahami makna imamat seperti yang diajarkan Gereja.

Bahkan suatu hari, sebagai cerita kilas balik, saya pernah menceritakan pemikiran itu kepada Romo Sipri. Kami pun sempat tertawa mengingat cara berpikir saya dulu.

Hari ini?

Saya justru sering mengajak anak-anak saya berfoto bersama Romo setelah Misa.

Bukan karena saya mengidolakan pribadi Romonya.

Tetapi karena saya belajar menghormati panggilan imamat yang dipercayakan Kristus kepada Gereja.

Rasa penasaran itu membuat saya membuka Katekismus Gereja Katolik. Saya ingin tahu, sebenarnya apa yang diajarkan Gereja tentang In Persona Christi.

Di sana saya menemukan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak.

Ternyata Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa seorang imam menjadi Yesus Kristus.

Seorang imam tetaplah manusia biasa.

Ia tetap memiliki kelemahan, keterbatasan, dan tetap membutuhkan rahmat Allah seperti kita semua.

Yang diajarkan Gereja justru jauh lebih indah.

Melalui Sakramen Tahbisan, seorang imam bertindak In Persona Christi Capitis, yang berarti “dalam Pribadi Kristus Sang Kepala.” (KGK 1548).

Saya membaca kalimat itu berulang-ulang.

Lalu saya mulai mengerti.

Gereja tidak sedang mengatakan bahwa imam adalah Kristus.

Gereja juga tidak mengatakan bahwa imam menggantikan Kristus.

Sebaliknya, Gereja mengajarkan bahwa Kristus sendirilah yang memilih untuk berkarya melalui pelayanan imam yang telah ditahbiskan.

Saat itulah pertanyaan di awal tulisan ini akhirnya terjawab.

Apakah In Persona Christi berarti seorang imam menjadi Kristus?

Tidak.

Seorang imam tetaplah manusia biasa. Namun melalui Sakramen Tahbisan, Kristus sendiri memilih untuk berkarya melalui pelayanan imam. Itulah yang dimaksud Gereja dengan In Persona Christi.

Saat terus mencari jawabannya, saya kembali menemukan perkataan Yesus sendiri,

“Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku.” (Lukas 10:16)

Lalu setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata kepada para rasul,

“Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yohanes 20:21)

Perlahan semuanya mulai tersambung.

Ternyata sejak awal Yesus memang mempercayakan pelayanan itu kepada para rasul. Melalui Sakramen Tahbisan, pelayanan itu diteruskan oleh Gereja kepada para uskup dan imam sebagai penerus pelayanan apostolik.

Saat itulah saya sadar…

Yang selama ini perlu saya ubah bukanlah cara umat menghormati seorang imam.

Yang perlu saya ubah adalah cara saya memahami ajaran Gereja.

Hari ini, ketika saya melihat seorang Romo, saya tetap melihat seorang manusia biasa.

Namun dengan mata iman, saya juga belajar melihat Kristus yang tetap berkarya melalui pelayanan imamat yang telah Ia percayakan kepada Gereja.

Karena itu, ketika saya mengajak anak-anak saya berfoto bersama Romo setelah Misa, saya tidak sedang mengajarkan mereka untuk mengidolakan seorang manusia.

Saya ingin mereka sejak kecil belajar mencintai Gereja, menghormati panggilan imamat, dan belajar melihat Kristus yang tetap berkarya melalui Gereja-Nya.

Ternyata… menghormati seorang imam bukan berarti menempatkannya sebagai Kristus.

Melainkan menghormati Kristus yang tetap berkarya melalui pelayanan imamat yang telah Ia dirikan bagi Gereja-Nya.”

Perjalanan kecil memahami, menghidupi, dan merenungkan iman Katolik.

#Katolik #katolikindonesia #katolikkukeren #catatankatekesehelida

-000-

Refleksi Helida Cecilia Pasaribu mengingatkan bahwa pertumbuhan iman sering kali dimulai dari keberanian untuk mengakui keterbatasan pemahaman diri sendiri. Apa yang dahulu dipandang secara kritis, bahkan cenderung sinis, dapat berubah menjadi sikap hormat ketika seseorang semakin mengenal ajaran Gereja dan dasar-dasar iman Katolik.

Di tengah berbagai pandangan mengenai peran imam dalam Gereja, tulisan ini mengajak umat untuk membedakan antara penghormatan kepada pribadi seorang imam dengan penghormatan kepada Kristus yang berkarya melalui pelayanan sakramental yang diterimanya. Pemahaman inilah yang menjadi inti ajaran Gereja mengenai In Persona Christi.

Redaksi berharap refleksi sederhana ini dapat menjadi bahan permenungan bagi umat Katolik untuk semakin mencintai Gereja, menghargai panggilan imamat, serta terus memperdalam iman melalui Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik, dan kehidupan menggereja yang nyata. Pada akhirnya, setiap perjalanan iman adalah proses yang terus berlangsung, sebuah perjalanan untuk semakin mengenal Kristus dan semakin setia menghidupi ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kategori:
Tags:

Terkini