BIAK-PAPUA| SUARA ANAK NEGERI – Sebuah simfoni keagungan tercipta di ujung timur Indonesia, saat ratusan mata tertuju pada pesona Kepulauan Padaido dalam rangkaian Tour Wisata Padaido Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026. Jumat (3/7/2026), Tanjung Sauw Andar di Kampung Yendakam, Pulau OwI, berubah menjadi kanvas hidup yang memukau, memperlihatkan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang terhampar luas. Di bawah langit biru yang jernih, dua wisatawan mancanegara asal Jerman dan Selandia Baru turut larut dalam kekaguman, menyaksikan harmoni sempurna antara kemegahan bahari tropis dan jejak sejarah monumental.

Hikmat di Balik Ombak: Refleksi Iryani Rawar atas Keindahan Ciptaan-Nya
Koordinator Tour Padaido sekaligus Kepala Bidang Sarana Prasarana Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Iryani Rawar, tidak sekadar memaparkan data operasional, melainkan mengajak seluruh peserta untuk meresapi hikmat di balik setiap hembusan angin dan deburan ombak. Baginya, perjalanan dari Venue Utama Lapangan Cenderawasih menuju titik embarkasi TT Dive di Bosnik, hingga mengarungi lautan selama 25 menit menuju Tanjung Sauw Andar, adalah sebuah ziarah spiritual menuju karya seni Tuhan yang tak ternilai.
Baca juga: Wisatawan Internasional Apresiasi Tour Padaido dan Tema "Elok Alamku, Pesona Budayaku" di FBMW 2026
“Ketika perahu membelah ombak, kita disuguhi gradasi warna biru laut yang begitu menenangkan jiwa. Ini bukan sekadar pemandangan, tetapi bukti nyata betapa Maha Indahnya sang Pencipta dalam merancang ekosistem ini. Setiap helai pasir putih dan setiap rimbunnya pepohonan di Tanjung Sauw Andar adalah surat cinta alam kepada manusia yang mau berhenti sejenak untuk bersyukur,” ungkap Iryani dengan nada penuh khidmat dan terpesona.

Ia menambahkan bahwa aktivitas napak tilas di landasan pacu peninggalan Jenderal MacArthur menjadi momen refleksi yang mendalam; bagaimana sejarah perang kini berdamai dengan keindahan alam yang lestari. Namun, Iryani menekankan bahwa keindahan ini tidak akan berarti tanpa adanya sinergi kemanusiaan.
Baca juga: Wisatawan Internasional Apresiasi Tour Padaido dan Tema "Elok Alamku, Pesona Budayaku" di FBMW 2026
“Kesuksesan Tour Wisata Padaido ini bukan hanya karena alamnya yang indah, tetapi karena gotong royong kita semua. Saya mengajak seluruh pihak—pemerintah, masyarakat kampung, pelaku wisata, dan media—untuk terus menjalin kerjasama yang erat dan tulus. Hanya dengan kolaborasi yang baik, kita dapat menjaga anugerah Tuhan ini tetap lestari dan sukses menarik dunia untuk datang ke Biak Numfor,” tutup Iryani dengan semangat persatuan.

Bahasa Tubuh Alam dan Keramahtamahan yang Menghipnotis
Bagi wisatawan internasional, Pulau OwI bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah entitas suci yang berkomunikasi melalui keindahan alamnya. Kehadiran dua wisatawan asing tersebut menjadi saksi bisu bagaimana daya tarik eksotis Biak mampu menembus batas geografis dan budaya. Mereka tampak terpukau, hampir tak percaya, melihat kejernihan air dan keputihan pasir yang seolah diciptakan khusus untuk memanjakan mata.
Interaksi sosial dengan warga Kampung Yendakam menambah kedalaman pengalaman ini. Senyuman hangat dan bantuan spontan dari masyarakat lokal menjadi “bahasa tubuh” universal yang paling diingat para pelancong. Bagi mereka, keramahtamahan ini adalah cerminan ketulusan hati manusia Papua yang hidup berdampingan secara harmonis dengan alam, menciptakan suasana kekeluargaan yang tulus tanpa sekat transaksional.

Dampak Ekonomi Nyata: Berkah bagi Warga Pesisir
Di balik pesona visual yang membius, terdapat aliran berkah ekonomi yang menghidupkan denyut nadi masyarakat lokal. Kepala Kampung Yendakam, Iyan Nielson Rumansara, mengungkapkan rasa syukur atas dampak positif kegiatan ini. Ia mencatat adanya peningkatan kesejahteraan warga melalui jasa transportasi perahu (speedboat) dan penyediaan fasilitas pendukung, sebuah peluang ekonomi yang menjadi berkah tambahan di luar aktivitas melaut harian.
“Ini adalah suntikan ekonomi langsung yang sangat membantu warga,” ungkap Iyan dengan nada bangga. Ia juga menyoroti kesiapan infrastruktur dasar buatan warga, seperti toilet bersih dan musala sederhana, sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap tamu yang datang dari jauh. Harapan besarnya adalah agar model integrasi antara festival budaya (Munara Wampasi) dan wisata alam (Tour Padaido) dapat dipertahankan, sehingga berkah ini terus mengalir ke kampung-kampung tetangga seperti Wasori, OwI, dan Saredi.
Apresiasi Pemerintah: Menjaga Anugerah untuk Generasi Global
Plh. Kepala Distrik Biak Timur, Markus Yaranga, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada empat kampung di Pulau OwI atas partisipasi aktif mereka. Menurutnya, kegiatan ini adalah jendela promosi terbaik yang menampilkan “wajah asli” Biak Timur: sejuk, indah, dan kaya sejarah sebagai warisan peradaban.
“Mudah-mudahan tempat ini menjadi perhatian serius pemerintah untuk dirawat dan dikembangkan. Kami berharap wisatawan dari berbagai belahan dunia akan terus berdatangan, tertarik oleh kombinasi unik antara seni budaya dan warisan sejarah perang yang tak ternilai,” harap Markus.
Melalui sinergi antara keeksotisan alam yang merupakan anugerah Tuhan, kedalaman sejarah, dan keramahtamahan manusiawi, Tour Padaido FBMW 2026 telah membuktikan bahwa Biak Numfor memiliki potensi kelas dunia. Kini, tantangan terbesar adalah mengemas keajaiban ciptaan-Nya ini ke dalam sistem informasi digital yang global, agar pesona Tanjung Sauw Andar dan sekitarnya dapat terus memikat hati penjelajah dari seluruh penjuru bumi untuk datang, melihat, dan bersujud dalam kekaguman.
✍️: Anis Rumaropen





