BIAK|SUARA ANAK NEGERI – Rangkaian kegiatan Tour Wisata Padaido dalam rangka Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 berhasil menghadirkan pengalaman wisata bahari dan sejarah yang berkesan bagi ratusan peserta, termasuk dua wisatawan mancanegara asal Jerman dan Selandia Baru. Meskipun mengakui adanya keterbatasan akses informasi digital sebelum kedatangan, para pelancong internasional ini memberikan apresiasi tinggi terhadap daya tarik alam Kepulauan Padaido dan Pulau OwI, serta keramahtamahan masyarakat lokal yang dinilai mampu menutupi defisit promosi tersebut.

Hal ini terungkap dari wawancara mendalam dengan Alistair McGregor (warga Selandia Baru yang bermukim di Australia) bersama rekan perjalanan mereka asal Jerman, saat mengikuti aktivitas di Tanjung Sauw andar, Kampung Yendakam, Pulau OwI, Kamis (3/7/2026). Kedua wisatawan tersebut menyatakan rasa senang dan bangga saat diwawancarai awak media, serta berharap festival serupa dapat terus digelar untuk menarik lebih banyak kunjungan wisatawan global di masa depan.
Baca juga: Dari Lahan Brimob ke Bulog, Jagung Ketahanan Pangan Resmi Didistribusikan
Apresiasi terhadap Inisiatif Pemda dan Harapan Promosi Global
Para wisatawan secara eksplisit menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Biak Numfor atas inisiatif menggelar FBMW sebagai wadah pelestarian budaya dan promosi daerah. “Kami sangat menghargai upaya Pemkab Biak Numfor dalam menggelar festival ini,” ujar perwakilan wisatawan.

Namun, mereka juga memberikan masukan strategis agar pemerintah daerah lebih agresif mempromosikan potensi wisata alam bahari Biak melalui kanal digital internasional. Langkah ini dinilai krusial untuk menarik minat tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara yang memiliki daya beli tinggi dan ketertarikan pada ekowisata. Dengan promosi yang lebih luas dan terintegrasi, diharapkan arus kunjungan ke Biak dapat meningkat signifikan di masa depan.
Pesona Padaido dan Keramahtamahan yang Autentik
Alistair McGregor, yang kini menjalani kunjungan ketiganya ke Biak, menyatakan kekagumannya terhadap keaslian ekosistem pasir putih di Padaido. Ia mendeskripsikan interaksi dengan masyarakat setempat sebagai sesuatu yang autentik dan tulus, bukan sekadar transaksi bisnis pariwisata.

“Ini adalah salah satu tempat paling ramah di dunia,” puji McGregor. Menurutnya, modal sosial berupa keramahtamahan warga menjadi aset kompetitif terbesar yang membedakan Biak dari destinasi wisata massal lainnya di dunia.
Menyaksikan Jejak Sejarah: Bukti Nyata Landasan Pacu Peninggalan Amerika
Pengalaman wisata mereka semakin lengkap saat mengunjungi Pulau OwI bersama rombongan Tour Wisata Padaido. Seorang wisatawan asal Selandia Baru, yang sebelumnya telah menghabiskan waktu dua tahun menjelajahi Australia, Bali, Kalimantan, dan Lombok, mengungkapkan bahwa minatnya ke Biak awalnya dipicu oleh informasi mengenai FBMW 2026.

Di lokasi, peserta melakukan napak tilas sejarah dengan melihat landasan pacu peninggalan Perang Dunia II yang dibangun oleh Pasukan Amerika Serikat di bawah komando Jenderal MacArthur. Menyaksikan langsung situs bersejarah tersebut, para wisatawan menegaskan nilai edukatif dari destinasi ini.
“Hari ini kami bisa menyaksikan sendiri landasan pacu yang dikerjakan Pasukan Amerika. Ini adalah bukti sejarah,” ungkap mereka. Temuan ini menegaskan bahwa Biak Numfor memiliki paket wisata holistik yang menggabungkan atraksi bahari, budaya, dan sejarah perang (war tourism), yang potensinya masih belum sepenuhnya dieksplorasi untuk pasar global.
Harapan untuk Keberlanjutan dan Transformasi Digital
Menanggapi antusiasme wisatawan internasional ini, muncul harapan besar agar Pemkab Biak Numfor dapat mempertahankan keaslian budaya dan alam melalui regulasi yang ketat, sekaligus mempercepat transformasi digital dalam pemasaran pariwisata. Narasi unik seperti sejarah landasan pacu Amerika dan keindahan bawah laut Padaido perlu dikemas dalam pusat informasi terpadu (one-stop information center) yang multibahasa.
Harapan utamanya adalah harmonisasi antara pelestarian identitas lokal “Elok Alamku, Pesona Budayaku” dengan modernisasi infrastruktur informasi. Hal ini akan memastikan bahwa kekayaan alam dan sejarah Biak tidak hanya dinikmati oleh segelintir penjelajah, tetapi dapat diakses dan dikenal secara luas oleh komunitas global, sehingga Biak Numfor benar-benar bertransformasi menjadi destinasi wisata kelas dunia yang berkelanjutan.
Penulis: Anis Rumaropen





