http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Iman yang sejati tidak hanya tumbuh dalam doa dan perayaan liturgi, tetapi juga diwujudkan melalui kesetiaan dalam pelayanan, kepedulian terhadap sesama, serta ketulusan mempersembahkan talenta bagi kemuliaan Tuhan. Pesan itulah yang mengemuka dalam refleksi yang disampaikan Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, pada Misa Harian dan Novena Santo Barnabas Rasul hari ke-8, Rabu (10/6/2026).
Melalui dua kisah sederhana namun sarat makna, yakni ketulusan Andrea Futunanembun, siswa kelas 1 SD Negeri 1 Saumlaki, dan kesaksian hidup Bapa Frets Bwarleli, Koster Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, RD Ponsianus mengajak umat melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui berbagai usia, pengalaman, dan talenta yang dimiliki umat-Nya.
Suasana penuh sukacita terlihat ketika Andrea, utusan Rukun Santa Cecilia, menyampaikan ungkapan syukur setelah dipercaya membawakan Mazmur dalam perayaan Ekaristi. Dengan polos, ia mengungkapkan kebahagiaannya atas kesempatan melayani Tuhan sekaligus perhatian yang diterimanya dari Pastor Paroki.
Baca juga: BRI Saumlaki Bangun Spiritualitas di Tengah Dunia Kerja
“Tuhan Yesus, terima kasih karena hari ini saya bisa menyanyikan Mazmur dengan baik untuk Tuhan. Andrea senang sekali dan tidak menyangka kalau Pastor Paroki akan memberikan kejutan berupa buku tulis, buku gambar Tuhan Yesus, dan uang transportasi.”
Bagi Andrea, perhatian sederhana tersebut menjadi motivasi untuk terus bertumbuh dalam iman dan pendidikan.
“Buku gambar ini membuat Andrea semakin semangat melihat wajah Tuhan Yesus yang baik, dan buku tulisnya akan Andrea pakai untuk belajar rajin di sekolah. Terima kasih Pastor, terima kasih untuk Rukun Santa Cecilia yang sudah mendukung Andrea. Andrea janji akan terus rajin latihan menyanyi untuk memuji nama Tuhan.”
Baca juga: BRI Saumlaki Menyatukan Iman dan Pengabdian Melalui Pelayanan Pujian
Di sisi lain, kesaksian Bapa Frets Bwarleli menghadirkan refleksi mendalam tentang makna syukur dan pengabdian. Pria yang setiap hari membunyikan lonceng gereja itu mengenang pengalaman ketika dirinya berada dalam kondisi sakit dan hampir kehilangan harapan untuk sembuh.
“Pelayanan saya sebagai Koster di gereja ini bukan sekadar tugas, melainkan sebuah mukjizat hidup. Saya pernah berada di titik paling gelap, terbaring sakit tanpa ada harapan lagi untuk sembuh. Namun, Tuhan tidak meninggalkan saya.”
Menurut Frets, kunjungan Pastor Paroki bersama pengurus rukun dan anggota Baperus menjadi momen yang mengubah hidupnya.
“Ketika Pastor menumpangkan tangan dan memberkati saya dalam doa yang tulus, kuasa Tuhan bekerja nyata—saya langsung sembuh seketika itu juga.”
Sejak saat itu, setiap dentang lonceng yang dibunyikannya menjadi simbol rasa syukur atas kehidupan yang kembali dianugerahkan Tuhan.
“Setiap dentang lonceng yang saya bunyikan adalah ungkapan terima kasih saya kepada Tuhan yang telah menyelamatkan hidup saya.”
Menyikapi kedua kesaksian tersebut, RD Ponsianus Ongirwalu menegaskan bahwa Tuhan senantiasa hadir dan bekerja melalui siapa saja yang membuka hati untuk melayani.
“Umat Allah yang dikasihi oleh Hati Kudus Yesus, peristiwa pagi ini adalah bukti nyata bagaimana Tuhan bekerja melalui berbagai usia dan talenta di tengah paroki kita.”
Kepada Andrea, ia memberikan apresiasi atas keberanian dan talenta yang dimiliki di usia yang masih sangat muda.
“Pastor sangat bangga melihat keberanian dan talenta indahmu di usia yang masih sangat muda. Engkau adalah masa depan gereja. Teruslah bernyanyi bagi Tuhan, karena seperti kata Santo Agustinus, ‘Bernyanyi dengan baik adalah berdoa dua kali.'”
Sementara kepada Bapa Frets, Pastor menyampaikan penghargaan atas kesetiaan yang terus dijaga dalam pelayanan sehari-hari.
“Lonceng yang Bapa bunyikan empat kali sehari bukan sekadar penanda waktu, melainkan ‘Suara Tuhan’ yang memanggil umat-Nya untuk berhenti sejenak dan berdoa. Kesembuhan Bapa adalah kesaksian hidup bahwa mukjizat itu nyata ketika kita berserah.”
Melalui refleksi pada hari ke-8 Novena Santo Barnabas Rasul, RD Ponsianus Ongirwalu mengajak seluruh umat untuk meneladani ketulusan seorang anak dan kesetiaan seorang pelayan. Menurutnya, kehidupan menggereja yang sehat bertumbuh dari semangat saling mendukung, saling menguatkan, serta kesediaan hadir bagi sesama, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan.
“Mari kita belajar dari ketulusan anak kecil seperti Andrea dan kesetiaan seorang pelayan seperti Bapa Frets. Di hari ke-8 Novena Santo Barnabas ini, mari kita berjalan bersama di dalam rukun-rukun kita untuk saling mendukung, mengunjungi yang sakit, dan mempersembahkan yang terbaik bagi kemuliaan nama Tuhan.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang berdoa, tetapi juga dari kesediaannya untuk melayani dengan tulus, bersyukur dalam segala keadaan, dan menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: johanis kopong





