Senin, 27 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR”

Gambar Ilustrasi Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina "AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR". Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Cover No. 923.23072026-LM.

/1/

AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR

Puisi: Leni Marlina

Baca juga: Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: "PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN"

Kami mengenali negeri ini bukan dari garis yang membelah kertas,
melainkan dari telapak seorang perempuan
yang setiap pagi mengadoni sagu
hingga embun berubah
menjadi sarapan.
Di sela kukunya,
hutan masih menyimpan serbuk yang belum mengenal harga.

Saksikanlah!
Bayangan pohon memanjangkan kalimatnya sendiri
di atas tanah yang tidak memerlukan pidato.
Cendrawasih hinggap
tanpa membawa nyanyian.
Getah naik perlahan
melewati tubuh batang,
seakan akar sedang mengirim
surat yang tak memerlukan huruf.
Mula-mula
ulat berhenti mengunyah.
Kemudian ilalang
kehilangan arah condongnya.

Baca juga: FANCY 2026 Resmi Dibuka: UKBA Universitas Negeri Padang Undang Pelajar dan Mahasiswa Tampilkan Talenta Bahasa dan Sastra di Ajang Nasional

Bukit mengembuskan bau yang tidak pernah lahir dari hujan.
Kami menemukan sebutir benih.
Kulitnya hangat,
seolah baru terlepas
dari tidur seekor burung.

Kami tidak menyerahkannya
kepada pot atau pagar.
Kami menyelipkannya
ke dalam lidah anak-anak,
agar setiap nama
tetap mengandung tanah
meski tanah sendiri
kelak berganti alamat.

Seorang bocah memungut matoa
di tepi luka yang belum mengering.
Ia menciumnya lama.
“Semalam tanah ini
berbau hujan.”

Tak ada yang bicara.
Pegunungan hanya memindahkan kesunyiannya
ke punggung burung-burung.

Maka pohon-pohon kami tanam bukan untuk mengalahkan kapak,
melainkan agar damar,
pala, cengkeh,
masih mempunyai seseorang
yang dapat mengenali aromanya,
ketika jauh di bawahnya,
sesuatu
yang yang disebut akar tidak pernah tersasar,
terus berjalan menuju cahaya.

Padang, Sumbar, 2026

—-

/2/

KETIKA MINERAL MENOLAK MENJADI ANGKA

Puisi: Leni Marlina

Kami memungut pagi dari serbuk kuarsa yang semalaman berdenyut di bawah kuku akar.
Paku-pakuan mengeja embun dengan aksara yang hanya dipahami lumut kerak.

Lihatlah!
kasuari mematuk gema hingga batu mengeluarkan aroma pala yang belum dipetik musim.

Siapa menyisipkan sempoa ke dalam urat bukit sampai granit lupa cara mengandung mata air?
Siapa mengajari nikel mengenakan wajah cermin hingga hutan tak lagi mengenali bayang daunnya?

Sungai menggulung lidahnya,
rasa besi merambat ke sisik ikan seperti doa yang salah alamat.

Kami mengecap angin:
ada getir ulin, damar liar, dan serbuk waktu yang belum menua.

Tebing memelihara jamur merah,
setiap tudungnya menyembunyikan musim yang lolos dari lelang.

Wahai negeri,
adakah rotan pernah mengikat hujan agar tumbuh hanya di satu halaman?
adakah cengkih memilih telapak tangan sebelum mengharumkan dunia?

Lihatlah!
Buah matoa memadamkan bunyi mesin hanya dengan sebutir biji yang sabar.

Dengarlah akar mengumpulkan kembali denyut bumi yang tercerai oleh hitungan laba.

Kami tidak datang membawa peta, melainkan bau tanah yang menolak diperdagangkan.
Sebab negeri bukan laci logam tempat segelintir tangan menimbun musim.

Negeri ini adalah denyut yang berpindah dari benih ke benih tanpa mengenal pemilik.
Dan kami memilih menjadi ingatan tanah, bukan angka yang tumbuh di buku kas.

Padang, Sumbar, 2026

/3/

GARAM YANG MENGHAFAL NAMA

Puisi: Leni Marlina

Kami tidak mewarisi negeri ini dari peta.
Kami mewarisinya dari bau jaring yang dijemur matahari
di bahu nelayan tua.
Maka garam lebih dahulu
mengenali lidah kami
daripada undang-undang
yang sibuk mengukur pantai.

Lihatlah!
Elang menjatuhkan bayangannya ke teluk.
Air mendadak berasa logam.
Kerang-kerang mengatup
seperti mulut yang dipaksa menelan rahasia.
Siapa mengajari ombak
mengembalikan kilau minyak ke pasir?
Siapa menyusupkan
bunyi bor ke dalam
insang ikan,
hingga kawanan tuna
berbelok mengikuti arah luka?

Kami memungut sejumput garam.
Di setiap kristalnya berdenyut wajah-wajah
yang tak pernah tertulis
di lembar saham.
Seorang perempuan mengibas tikar di tepi laut.
Dari anyamannya terbang
bau cengkih, pala,
kelapa yang diperas hingga matahari berwarna santan.

Tetapi di kejauhan,
bukit-bukit mengeluarkan
asap hitam.
Bukan karena hujan.
Melainkan karena perutnya
dipaksa melahirkan angka.

Apakah bukit pernah meminta
harga kepada hujan?
Apakah bakau pernah menggadaikan pasang
kepada dermaga?
Mengapa hanya kau
mengajari laut cara
menghitung dirinya sendiri?

Kami mencium garam.
Aromanya bukan lagi air laut.
Melainkan kening
para ibu yang menunggu
perahu kembali
tanpa membawa utang.

Kami mengecap angin.
Di lidah kami,
ia berubah menjadi
nyanyian burung camar
yang kehilangan cakrawala.

Kami tidak ingin gunung dipindahkan ke rekening.
Kami tidak ingin sungai dibungkus menjadi kontrak.
Kami tidak ingin
hutan diterjemahkan
ke bahasa neraca.

Sebab kami percaya,
negeri tidak tumbuh
dari brankas,
melainkan dari tangan
yang menanam,
dari perahu yang kembali,
dari benih yang sabar,
dari garam yang menghafal nama kami,
meski laut berulang kali
dipaksa melupakan dirinya.

Padang, Sumbar, 2026

/4/

NEGERI YANG KAMI CINTAI

Puisi: Leni Marlina

Wahai negeri yang kami cintai,
kami memungut
pagi dari kulit rotan
yang masih berembun
di punggung bukit.

Siapa memasukkan
rasa logam ke dalam pati sagu,
hingga lidah musim mendadak berkarat?

Kami melihat burung elang berputar-putar
di atas cekungan tambang,
seolah mencari hutan,
yang dipindahkan ke halaman neraca.

Kami mendengar sungai
batuk pasir.
Insangnya mengunyah
bau solar.
Udang-udang menyimpan matahari
di balik cangkang lumpur.

Siapa mengajari
pohon gaharu mengeluarkan aroma ketakutan?
Siapa menggembok
mata air dengan angka-angka,
hingga hujan harus
membayar
langitnya sendiri?

Wahai negeri yang kami cintai,
kami tidak datang
membawa sertifikat.
Kami membawa
bau cengkeh di tangah ibu,
bekas damar di kuku ayah,
serta serbuk padi
yang belum sempat menjadi roti
di mulut anak-anak.

Apakah fauna
pernah menagih sewa
kepada angin?
Apakah bakau
pernah menjual pasang
kepada laut?
Mengapa hanya manusia
menimbang rimba
dengan bunyi mesin hitung?

Kami mencicipi
angin.
Rasanya seperti buah hutanyang dipetik
sebelum matang.
Kami menghirup
senja.
Baunya seperti damar
yang dipaksa
bersaksi di hadapan bor.

Kami menyentuh
tanah.
Nadinya berdegup
di sela akar ilalang,
memanggil kami
bukan untuk memiliki,
melainkan untuk menjaga.

Wahai negeri yang kami cintai,
biarkan burung-burung mewariskan
arah mata angin,
biarkan sungai-sungai menghafal nama ikan,
biarkan pepohonan menuliskan hijau
di kelopak hujan,

Sebab kami mencintaimu
bukan agar segelintir tangan menimbun gunung ke dalam brankas,
melainkan agar setiap anak masih dapat
mengenali bau tanah
sebagai nama pertama bagi masa depan.


Padang, Sumbar, 2026

———

Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina adalah seorang penyair, penulis, penerjemah, dan dosen asal Indonesia di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.

Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.

Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis, kontributor, editor dan redaktur di beberapa platform media digital seperti SAN Media Group (Suara Anak Negeri News, Suara Anak Negeri, dan Negeri News), tempat ia menerbitkan karya sastra, esai, artikel dan berit tentang pendidikan, literasi, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Semu platform SAN Media Group tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”

Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.

Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia & sejak tahun 2024 juga bergabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).

Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam.Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR”

Kategori:
Tags:

Terkini