Oleh: Sastri Bakry*
–
JAKARTA – SUARA ANAK NEGERI| Bayangkan lebih 90 penyair dari seluruh dunia duduk dalam satu ruangan. Ada yang dari Afrika, Timur Tengah, Eropa, Amerika, Asia. Bahasanya beda-beda, agamanya beda-beda, budayanya beda-beda.
Tapi mereka punya satu bahasa yang sama: puisi.
Baca juga: TRIO SRIKANDI KOTA BATU

Itulah isi buku Anthology: Contemporary World Poetry terbitan Penerbit Kathak. Antologi ini menghimpun suara-suara penting dunia hari ini. Ada nama Wole Soyinka, peraih Nobel dari Nigeria, Adonis dari Suriah, Rita Dove, dari Amerika, dan puluhan nama besar lainnya.
Ada Suara Indonesia di Sana
Baca juga: Semesta Berkata
Yang membanggakan kita, di tengah keragaman itu, ada juga suara dari Indonesia. Puisi dari negeri kita duduk sejajar dengan karya para maestro dunia.
Melalui buku ini, “raso jo pareso” orang Minang dan nilai-nilai ABS SBK turut diperdengarkan kepada pembaca internasional. Ini bukti bahwa kata-kata dari nagari kita ternyata relevan dan layak didengar dunia.
Ini bukan soal menang-menangan. Ini soal pengakuan bahwa sastra Indonesia punya tempat di percakapan global.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada Aminur Rahman yang telah mengapresiasi dan memilih puisi saya sejajar dengan penyair dunia. Terima kasih juga kepada Penerbit Kathak yang telah memberi penghargaan Kathak Literary Award tahun 2024.
Puisi: Obat untuk Dunia yang Lagi Gaduh
Kenapa buku ini penting sekarang? Karena kita hidup di zaman yang serba cepat, serba viral, serba gaduh, serba marah. Banyak orang kehilangan arah. Banyak anak muda mengalami krisis identitas.
Nah, puisi-puisi di buku ini hadir seperti jeda. Mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya: “Sebenarnya kita ini siapa?”

Ada puisi tentang perang yang mengingatkan kita pada kemanusiaan. Ada puisi tentang ibu yang menguatkan. Ada puisi tentang alam yang membuat kita rindu kampuang. Ada juga puisi tentang ketidakadilan dan kesedihan perang.
Semuanya beda cerita, tapi tujuannya satu: mengingatkan kita pada fitrah sebagai manusia dan menjaga nilai-nilai luhur.
Buku Ini untuk Siapa?
Jangan bayangkan buku puisi itu berat dan susah. Buku ini cocok untuk:
1. Guru dan Dosen – sebagai bahan ajar sastra dunia
2. Anak Muda – yang sedang mencari jati diri lewat kata
3. Pecinta Budaya – yang rindu bacaan dalam tapi indah
4. Kita semua – yang butuh jeda dari guliran HP
Menjaga Marwah Lewat Kata
Forum “Menjaga Marwah Ranah ABS SBK” beberapa waktu lalu mengingatkan kita tentang pentingnya membentengi generasi. Salah satu caranya adalah lewat sastra.
Selama masih ada orang yang menulis, selama masih ada orang yang membaca puisi, maka marwah sebuah bangsa tidak akan mati.
Karena bangsa yang besar bukan hanya yang ekonominya kuat. Tapi juga yang puisinya hidup.
Buku Anthology: Contemporary World Poetry layak ada di rak buku kita
Padang, Agustus 2026
—

Tentang Penulis – Sastri Bakry
Sastri Yunizarti Bakry lahir bulan Juni 1958. Ia merupakan seorang birokrat, penulis, penyair, seniman, aktivis literasi dan budaya asal Padang, Sumatera Barat. Ia juga merupakan ketua organisasi penulis SatuPena Sumbar, Founder dan Ketua IMLF (International Minangkabau Literacy Festival)


