Minggu, 13 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ketika Padel Mempertemukan dua Generasi

Elza Peldi Taher

CIPUTAT – SUARA ANAK NEGERI| Minggu, 13 September 2026, ada pemandangan berbeda di Padel District Ciputat. Pagi itu Padel District mengadakan Mabar Famili. Yang bermain bukan pasangan seperti biasanya, melainkan orang tua yang berpasangan dengan anak. Ada orang tua yang sudah berusia 60, bahkan 70 tahun, bermain bersama anaknya yang berusia 20 atau 30 tahun. Ada pula orang tua yang turun ke lapangan bersama anak yang baru berusia 13 tahun. Saya sendiri ikut bermain bersama anak saya. Melihat mereka berdiri berdampingan di dalam lapangan, memegang raket, saling menyemangati dan sesekali tertawa karena bola yang gagal dikembalikan, saya merasa pagi itu padel sedang menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar olahraga.

Baca juga: PUISI ESAI DI MEJA BEDAH

Sebab tidak selalu mudah menemukan kegiatan yang bisa mempertemukan dua generasi. Ketika anak masih kecil, hampir seluruh dunianya berada di sekitar orang tua. Kita mengantarnya sekolah, menemaninya bermain, mengajarinya naik sepeda, atau sekadar menggandeng tangannya ketika berjalan. Tetapi waktu bergerak. Anak tumbuh dewasa dan mempunyai dunianya sendiri. Kesibukannya berbeda, pergaulannya berbeda, bahkan kegemarannya belum tentu sama dengan orang tuanya. Tanpa kita sadari, percakapan antara orang tua dan anak pun bisa semakin pendek. Mereka tetap saling menyayangi, tetapi kesempatan melakukan sesuatu bersama menjadi semakin jarang. Karena itulah ketika orang tua dan anak mempunyai hobi yang sama, sesungguhnya mereka sedang memiliki sebuah kemewahan yang tidak semua keluarga mendapatkannya.

Bermain sebagai pasangan bahkan mempunyai makna yang lebih dalam. Dalam padel, dua orang tidak mungkin bermain sendiri-sendiri. Kita harus mengetahui kapan maju, kapan bertahan, kapan mengambil bola, dan kapan membiarkan pasangan mengambilnya. Kita harus saling percaya. Kesalahan pasangan tidak bisa terus disalahkan karena beberapa detik kemudian mungkin justru kita sendiri yang melakukan kesalahan. Menariknya, pelajaran sederhana di lapangan itu seperti gambaran kecil tentang keluarga. Orang tua tidak selalu benar dan anak pun tidak selalu salah. Ada saatnya orang tua memimpin, tetapi ada pula saatnya kita harus percaya kepada anak. Ada saatnya anak mendengarkan, tetapi ada pula saatnya orang tua belajar mendengarkan anaknya.

Ada satu pengalaman kecil yang sangat membekas bagi saya pagi itu. Ketika bermain bersama anak, beberapa kali saya melakukan kesalahan. Bola yang seharusnya bisa dikembalikan malah lepas. Saya spontan meminta maaf. Anak saya tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum. Mungkin ia memahami bahwa kekuatan fisik orang tuanya tidak lagi seperti dahulu. Anehnya, senyum sederhana itu justru terasa sangat dalam. Tidak ada keluhan, tidak ada wajah kecewa. Yang ada hanyalah penerimaan.

Baca juga: Lampaui Kewenangan, Bubarkan AJ Mengemuka dalam Diskusi Terbuka FKSTIM

Saya kemudian berpikir, bukankah perjalanan keluarga memang seperti itu? Ketika anak masih kecil, orang tualah yang berkali-kali memaklumi keterbatasannya. Kita menunggu ketika langkahnya lambat, memegang tangannya ketika ia takut jatuh, dan tersenyum ketika ia melakukan kesalahan. Tahun-tahun berlalu, usia orang tua bertambah, dan perlahan keadaan berbalik. Kini mungkin anaklah yang mulai memperlambat langkahnya untuk menunggu kita. Anaklah yang mulai memaklumi keterbatasan kita. Di lapangan pagi itu, saya seperti melihat perubahan peran tersebut dalam bentuk yang sangat sederhana: saya melakukan kesalahan, meminta maaf, dan anak saya hanya tersenyum.

Dari sisi psikologis, kegiatan bersama antara orang tua dan anak mempunyai arti penting karena menciptakan pengalaman positif yang mereka miliki bersama. Apalagi dalam olahraga berpasangan seperti padel, keduanya harus berkomunikasi, saling percaya, menerima kesalahan, dan memberi dukungan. Hubungan orang tua dan anak untuk sesaat menjadi lebih setara: bukan lagi seseorang yang selalu mengajari dan seseorang yang selalu diajari, tetapi dua manusia yang menjadi partner dan berusaha mencapai sesuatu bersama-sama. Perbedaan usia puluhan tahun seakan menghilang. Anak menyemangati orang tua, orang tua memberi tepukan kepada anak. Ketika menang, mereka bergembira bersama. Ketika kalah, mereka menerimanya bersama.

Barangkali inilah salah satu bentuk sederhana dari kerukunan keluarga. Keluarga yang rukun bukan berarti keluarga yang selalu sepakat dalam segala hal. Di dalamnya tetap ada perbedaan pikiran, pilihan hidup, bahkan mungkin pertengkaran. Tetapi di balik semua itu ada kesediaan untuk tetap berdiri di sisi yang sama, saling memahami kekurangan dan menikmati perjalanan bersama. Keluarga memang tidak dibangun hanya oleh hubungan darah. Ia dipelihara oleh waktu yang kita berikan satu sama lain.

Banyak orang tua bekerja keras sepanjang hidup untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Kita menyediakan rumah, pendidikan, dan bekal bagi masa depan mereka. Tetapi ketika usia semakin bertambah, mungkin yang paling berharga bukan lagi apa yang dapat kita berikan kepada anak, melainkan berapa banyak waktu yang masih dapat kita nikmati bersama mereka. Makan bersama, berjalan bersama, bercakap tanpa tergesa-gesa, bepergian, atau seperti pagi itu: memegang raket dan bermain di lapangan yang sama. Padel hanyalah medianya. Yang sesungguhnya sedang dirawat adalah kedekatan.

Saya pulang dari Mabar Famili dengan perasaan berbeda. Saya ikut bermain bersama anak saya dan tiba-tiba menyadari bahwa kesempatan seperti ini pun tidak akan tersedia selamanya. Suatu hari tenaga orang tua akan semakin berkurang. Kaki mungkin tak lagi cukup cepat mengejar bola. Anak-anak pun akan semakin sibuk dengan keluarga dan kehidupannya sendiri. Karena itu, selagi kesempatan masih ada, nikmatilah kebersamaan itu. Tidak harus di lapangan padel. Bisa di meja makan, di taman, dalam perjalanan, atau di ruang keluarga. Tempatnya tidak terlalu penting. Yang penting adalah kita masih mempunyai waktu untuk berdiri, berjalan, bercakap, tertawa, dan membuat kenangan bersama.

Mungkin bertahun-tahun kemudian tidak ada yang ingat siapa yang menang atau kalah dalam Mabar Famili di Padel District pagi itu. Skor pertandingan pun akan segera terlupakan. Tetapi anak-anak kita mungkin masih mengingat suatu pagi ketika ayah atau ibunya masih cukup kuat berdiri di sampingnya, memegang raket, mengejar bola, melakukan kesalahan, lalu tertawa bersama. Saya pun mungkin akan mengingat senyum anak saya ketika saya meminta maaf karena gagal mengembalikan bola.

Pada akhirnya, keluarga barangkali memang seperti permainan berpasangan. Kita tidak harus selalu menjadi pemain terbaik. Ada masa kita kuat dan menjadi tempat pasangan bergantung. Ada pula masa ketika langkah mulai melambat dan kitalah yang membutuhkan pengertian. Yang terpenting bukan selalu memenangkan pertandingan, melainkan tetap menjadi partner yang baik bagi orang-orang yang kita cintai, sampai permainan itu berakhir.

Pondok Cabe Udik 13 September 2026

Elza Peldi Taher

Kategori:
Tags:

Terkini