Minggu, 16 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Mimbar Gereja, Uskup Timika Serukan Kebenaran dan Keadilan: “Kita Harus Bertindak, Membawa Pembebasan bagi Sesama”

“Suara Gereja di Tanah Papua: Iman Tidak Boleh Diam Ketika Hutan Dihancurkan, Demokrasi Terancam dan Rakyat Menghadapi Krisis”

BIAK – SUARA ANAK NEGERI| Dari mimbar Gereja Katolik Paroki Santa Maria Biak, Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Dr. Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, tidak hanya mengajak umat merenungkan iman, tetapi juga menyuarakan kegelisahan gereja terhadap berbagai persoalan yang sedang membelenggu kehidupan manusia dan masyarakat di Tanah Papua.

Baca juga: Di Tengah Derap Langkah HUT RI, SMK Negeri 1 Pariwisata Biak Berpacu dengan Waktu

Dalam khotbahnya pada Misa Penerimaan Sakramen Krisma, Minggu (16/8/2026), Uskup Bernardus menegaskan bahwa iman kepada Tuhan harus diwujudkan melalui keberanian untuk hadir dan bertindak di tengah persoalan nyata masyarakat.

Baca juga: Amor Fati, Fatum, dan Pengharapan di Seberang Kepergian

Ia mengajak umat belajar dari Santa Perawan Maria yang, setelah menerima kabar dari Malaikat Gabriel, tidak memilih tinggal diam. Maria justru segera bergegas mengunjungi Elisabet. Bagi Uskup Bernardus, sikap Maria merupakan teladan bahwa orang beriman harus bergerak ketika melihat penderitaan dan persoalan yang terjadi di sekitarnya.

“Kita harus bertindak. Kita harus bersama Tuhan menjadi aktor seperti Bunda Maria, membawa kebebasan bagi sesama kita dalam situasi krisis sekarang ini,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi semakin kuat ketika Uskup menghubungkannya dengan situasi ekologis di Tanah Papua. Ia mengingatkan bahwa kerusakan alam bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan bentuk kejahatan terhadap ciptaan Tuhan.

“Kalau ekologi hancur, manusia juga akan hancur.”

Karena itu, ia menyerukan pertobatan ekologis kepada umat Katolik. Hutan harus dijaga, sungai harus dibersihkan, pantai harus dilindungi dan alam tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi.

Secara khusus, Uskup mengingatkan umat Papua agar tidak tinggal diam melihat hutan yang terus mengalami tekanan.

“Kita orang Katolik harus kampanye supaya menjaga hutan di Tanah Papua,” serunya.

Ketika Tanah Papua Terluka, Gereja Tidak Boleh Membisu

Seruan menjaga lingkungan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Gereja, membela alam berarti sekaligus membela kehidupan manusia. Hutan Papua bukan hanya kumpulan pepohonan, tetapi ruang hidup masyarakat, sumber penghidupan, warisan leluhur dan bagian dari ciptaan Tuhan.

Karena itu, kerusakan hutan dan lingkungan harus dibaca sebagai persoalan keadilan. Ketika alam dirusak, masyarakat yang hidup bergantung pada alam akan menjadi pihak yang pertama kali merasakan dampaknya.

Dalam konteks inilah, suara Uskup Bernardus terasa sebagai sebuah panggilan moral: gereja tidak boleh hanya berbicara tentang keselamatan manusia di dalam gereja, tetapi juga harus berani menyuarakan keselamatan manusia di tengah kehidupan sosial, politik dan ekologis.

Uskup Soroti Krisis Demokrasi dan Menyempitnya Ruang Sipil

Lebih jauh, Uskup Bernardus juga menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi demokrasi di Indonesia. Ia secara terbuka menyebut adanya kekhawatiran terhadap berkembangnya praktik otoritarianisme dan semakin kuatnya dominasi militer dalam ruang-ruang sipil.

Menurutnya, kehidupan demokrasi membutuhkan keseimbangan dan partisipasi berbagai kelompok masyarakat.

“Ruang sipil ada, ruang militer ada, ruang para ilmuwan ada, ruang para peneliti, ruang untuk orang-orang religius, gereja, agama dan seterusnya. Tidak boleh didominasi oleh satu dominasi.”

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuasaan negara harus tetap berjalan dalam koridor demokrasi dan penghormatan terhadap ruang sipil.

Gereja, menurut semangat khotbah tersebut, tidak dipanggil untuk menjadi alat kekuasaan. Gereja justru harus berdiri bersama mereka yang membutuhkan suara, perlindungan dan pengharapan.

Dalam konteks Tanah Papua, pesan tersebut memperoleh makna yang sangat kuat. Ketika masyarakat menghadapi persoalan ketidakadilan, konflik, kerusakan lingkungan, kemiskinan, pengungsian dan berbagai persoalan sosial lainnya, gereja ditantang untuk tidak kehilangan keberpihakan kepada martabat manusia.

“Kita Tidak Sendirian”

Di tengah berbagai persoalan itu, Uskup Bernardus tidak mengajak umat tenggelam dalam ketakutan. Sebaliknya, ia menyerukan keberanian yang berakar pada iman.

“Kita tidak sendirian. Kita bersama Allah Sang Penyelamat.”

Bagi Uskup, keyakinan tersebut harus melahirkan keberanian untuk menjadi aktor perubahan. Umat tidak boleh menjadi penonton terhadap penderitaan orang lain.

Sebagaimana Maria meninggalkan kenyamanan dirinya dan bergegas mendatangi Elisabet, demikian pula umat Katolik dipanggil untuk keluar dari kenyamanan gereja dan hadir di tengah masyarakat.

Kehadiran itu berarti membela kehidupan, menjaga alam, menyuarakan kebenaran, memperjuangkan keadilan dan memberikan harapan kepada mereka yang tertindas serta tersisih.

Kepada 97 Krismawan: Jangan Hanya Menjadi Umat yang Saleh, Jadilah Pembawa Perubahan

Pesan Uskup tersebut menjadi sangat penting bagi 97 Krismawan dan Krismawati yang menerima Sakramen Krisma.

Sakramen Krisma bukan sekadar sebuah ritus untuk menandai kedewasaan iman. Ia harus menjadi momentum untuk melahirkan generasi Katolik yang berani mengambil tanggung jawab sosial.

Generasi muda Papua tidak cukup hanya menjadi generasi yang rajin berdoa. Mereka juga harus menjadi generasi yang berani mengatakan yang benar sebagai benar, yang salah sebagai salah, membela mereka yang lemah, menjaga tanah leluhur dan memperjuangkan kehidupan yang bermartabat.

Di tengah Tanah Papua yang kaya sumber daya alam tetapi masih menghadapi berbagai persoalan sosial, suara iman semacam ini menjadi penting.

Sebab gereja yang hidup bukan gereja yang hanya berbicara tentang surga, tetapi gereja yang juga berani bertanya: bagaimana manusia di bumi ini diperlakukan? Apakah keadilan hadir? Apakah alam dijaga? Apakah suara rakyat didengar?

Dari Paroki Santa Maria Biak, pesan itu menggema: iman harus menjadi keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan.

Dan bagi umat di Tanah Papua, seruan itu menemukan maknanya sendiri: jangan diam ketika tanah terluka, jangan bungkam ketika kebenaran dipinggirkan, dan jangan kehilangan harapan ketika keadilan terasa jauh.

Sebab, sebagaimana ditegaskan Uskup Bernardus dalam khotbahnya, “Kita tidak sendirian.”

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini