Laporan Paulus Laratmase
–
“Dari latihan karnaval hingga TKA, dari sertifikasi guru hingga Prakerinsekolah menjaga api pendidikan tetap menyala, pertemuan perdana membahas berbagai hal, terkait proses belajar mengajar setelah upacara 17 Agustus 2026. Berbagai informasi dari Kepala Sekolah, Drs. Maskur Bora, Wakasek Kurikulum, Alberto Simopiaref, S.Pd, Ambar Setyowati, A.Md.,SE., Josefina Irjanarti, S.E., Fatimatuz Zuhriyah, S.E., dan Pipit Setianingsih, S.Pd dirangkum dalam laporan berikut ini”.
Biak Numfor — SUARA ANAK NEGERI| Agustus selalu datang membawa suasana yang berbeda. Jalan-jalan mulai dipenuhi derap langkah, Merah Putih berkibar di berbagai sudut, dan semangat memperingati kemerdekaan terasa hingga ke ruang-ruang sekolah.
Namun, di balik riuh persiapan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada pekerjaan yang tak ikut berhenti.
Baca juga: 246 Calon Mahasiswa Ikuti PKKMB UNCRI 2026
Di SMK Negeri 1 Pariwisata Biak, Sabtu, 15 Agustus 2026, ruang guru menjadi saksi bagaimana sebuah sekolah sedang berpacu dengan waktu. Rapat perdana yang dihadiri para guru dan tenaga kependidikan bukan saja membicarakan perlombaan kemerdekaan, melainkan juga tentang pembelajaran, administrasi siswa, sertifikasi guru, TKA, Prakerin, hingga masa depan peserta didik.
Kepala SMK Negeri 1 Pariwisata Biak, Drs. Maskus Bora, menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga sekolah yang tetap bekerja meski persiapan kegiatan HUT Kemerdekaan dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.
Harapan untuk meraih prestasi pun mengemuka. Tim putri SMK mampu memperoleh predikat terbaik, sementara karnaval juga diharapkan memberikan hasil membanggakan.
“Semua harus kita support dengan persiapan yang sangat mepet,” demikian pesan yang mengemuka dalam rapat itu.
Ketika Kaki Lelah, Semangat Tak Boleh Berhenti
Persiapan HUT Kemerdekaan memang menyita tenaga.
Dalam beberapa pekan terakhir, para guru dan siswa harus berlatih dan berjalan beberapa kali dalam sepekan. Tubuh mulai mengenal lelah, tetapi kalender kemerdekaan terus bergerak menuju 17 Agustus.
Sebagian guru bahkan tidak dapat hadir penuh dalam rapat karena aktivitas persiapan menjelang HUT RI. Namun, kelelahan tidak menjadi alasan untuk menghentikan pekerjaan sekolah.
Di sinilah wajah lain pendidikan terlihat.
Kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan bendera dan perlombaan. Ia juga hadir dalam kesediaan untuk tetap menjalankan kewajiban meski tenaga mulai menipis.
Karena itu, sekolah tetap menjaga pembelajaran. Kesepakatan untuk melaksanakan proses belajar mengajar hingga pukul 10.00 menjadi penanda bahwa kemeriahan HUT Kemerdekaan tidak boleh mengorbankan hak siswa untuk belajar.
Data Siswa dan Tenggat yang Terus Mengejar
Di tengah latihan dan kegiatan kemerdekaan, pekerjaan administratif datang seperti jarum jam yang tidak pernah berhenti.
Sekolah harus memastikan data peserta didik, khususnya siswa kelas X, lengkap sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Data berhubungan dengan pendataan siswa dan kemungkinan penerima manfaat anggaran BOSP Kinerja.
Bagi sebagian orang, data mungkin hanya terlihat sebagai deretan angka dan huruf.
Tetapi bagi sekolah, satu angka dapat menentukan hak seorang anak.
Satu huruf yang keliru dalam dokumen kependudukan pun dapat menjadi persoalan ketika data itu digunakan untuk kebutuhan pendidikan siswa.
Karena itu, wali kelas kelas XII diminta lebih intensif memastikan seluruh data peserta didik lengkap dan benar.
Sertifikasi Guru, Sebuah Jalan yang Belum Selesai
Di balik papan tulis dan buku pelajaran, para guru juga menghadapi persoalan mereka sendiri.
Sertifikasi guru menjadi salah satu pekerjaan rumah yang masih harus diperjuangkan. Keterbatasan jumlah rombongan belajar berhadapan dengan jumlah guru yang cukup banyak sehingga pemenuhan beban mengajar menjadi tantangan tersendiri.
Ada angka 24 jam yang menjadi perhatian.
Di balik angka itu, ada guru yang sedang menunggu kepastian haknya. Ada kegelisahan tentang linearitas jam mengajar. Ada pula harapan agar kebijakan dapat memberikan ruang yang lebih manusiawi bagi guru.
Ruang rapat pun berubah menjadi tempat menyampaikan harapan.
Bukan soal administrasi, tetapi tentang bagaimana para pendidik dapat terus menjalankan pengabdiannya tanpa dibebani persoalan yang berada di luar kemampuan mereka.
TKA dan Tantangan Baru bagi Siswa Kelas XII
Perhatian rapat kemudian bergeser kepada Tes Kemampuan Akademik atau TKA.
TKA kini terintegrasi dengan Asesmen Nasional sehingga peserta didik diwajibkan mengikutinya. Pelaksanaan direncanakan berlangsung selama empat hari, dengan mata pelajaran yang disesuaikan dengan rangkaian asesmen, mulai dari Bahasa Indonesia dan literasi, Matematika dan numerasi, Bahasa Inggris, hingga mata pelajaran pilihan yang berkaitan dengan konsentrasi keahlian siswa SMK.
Perubahan ini membawa konsekuensi besar.
Sekolah tidak hanya dituntut memastikan siswa hadir dalam ujian. Lebih dari itu, sekolah harus mempersiapkan siswa agar benar-benar memiliki kemampuan akademik yang memadai.
Pengalaman tahun sebelumnya menjadi cermin. Hasil asesmen yang masih rendah menunjukkan bahwa persiapan tidak boleh dilakukan menjelang ujian saja.
TKA menjadi semacam kaca yang akan memantulkan wajah pendidikan sekolah.
Setiap nilai memiliki makna.
Apalagi hasil TKA akan berkaitan dengan rapor pendidikan sekolah.
Prakerin: Menyiapkan Anak-Anak Menatap Dunia Kerja
Di sisi lain, sekolah juga sedang membuka jalan bagi siswa kelas XII menuju dunia kerja melalui Praktik Kerja Lapangan.
Pertemuan dengan orang tua siswa mendapat respons positif. Puluhan orang tua hadir untuk membicarakan persiapan Prakerin, sebuah langkah penting sebelum anak-anak mereka meninggalkan ruang kelas untuk belajar dari dunia kerja yang sesungguhnya.
Sejumlah tempat praktik telah memberikan jawaban positif untuk menerima siswa. Namun, masih terdapat kebutuhan untuk memenuhi seluruh tempat praktik yang diperlukan.
Di sinilah kerja panitia kembali diuji.
Ada penghargaan terhadap mereka yang telah bekerja, tetapi juga muncul gagasan tentang penyegaran kepanitiaan. Pergantian bukan dimaknai sebagai meninggalkan tanggung jawab, melainkan sebagai bagian dari regenerasi agar pekerjaan dapat dilanjutkan dengan energi dan gagasan baru.
17 Agustus: Guru Hadir di Tengah Bangsa yang Merayakan Kemerdekaan
Senin, 17 Agustus 2026, para guru SMK Negeri 1 Pariwisata Biak juga dijadwalkan menghadiri detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Distrik Biak Timur.
Mereka sepakat mengenakan pakaian Korpri dan diharapkan telah berada di lokasi sekitar pukul 09.00, sebelum upacara dimulai.
Ada makna yang lebih dalam dari sekadar kehadiran dalam upacara.
Guru datang bukan hanya untuk berdiri di bawah tiang bendera.
Mereka datang sebagai orang-orang yang setiap hari mengajarkan arti Indonesia kepada anak-anak.
Di tangan guru, kemerdekaan tidak berhenti pada sejarah 17 Agustus 1945. Kemerdekaan diteruskan melalui pelajaran, keteladanan, kedisiplinan, dan keberanian untuk menatap masa depan.
Sekolah yang Tidak Berhenti Berjalan
Rapat itu akhirnya memperlihatkan satu kenyataan sederhana: sekolah tidak pernah benar-benar memiliki waktu untuk berhenti.
Ketika satu kegiatan selesai, pekerjaan lain telah menunggu.
Ketika latihan karnaval berakhir, data siswa harus diselesaikan.
Ketika urusan administrasi ditutup, sertifikasi guru masih menanti.
Ketika guru memikirkan sertifikasi, siswa kelas XII harus dipersiapkan menghadapi TKA.
Dan ketika TKA mulai mendekat, Prakerin sudah mengetuk pintu.
Semuanya berjalan bersamaan.
Seperti roda yang terus berputar, SMK Negeri 1 Pariwisata Biak sedang belajar menjaga keseimbangan antara prestasi, pembelajaran, administrasi, pengabdian dan masa depan anak-anak.
Di tengah segala kesibukan itu, ada satu pesan yang terasa sederhana namun dalam: pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan ketika dikerjakan bersama.
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang kibaran Merah Putih di tiang upacara.
Kemerdekaan juga hidup dalam seorang guru yang tetap mengajar ketika tubuhnya lelah.
Dalam seorang siswa yang tetap belajar ketika pesta kemerdekaan sedang berlangsung.
Dalam orang tua yang datang ke sekolah demi masa depan anaknya.
Dan dalam seluruh warga sekolah yang memilih untuk tetap berjalan, meski waktu terus berlari.
Di SMK Negeri 1 Pariwisata Biak, kemerdekaan menemukan wajahnya yang paling sederhana: guru yang mengabdi, siswa yang belajar, dan sebuah sekolah yang tidak berhenti menyalakan harapan.





