Heri Isnaini| Penulis
–
Ada sebuah pandangan Jawa yang terasa semakin penting untuk direnungkan ketika hubungan manusia dengan alam kian sering berada dalam ketegangan, yakni memayu hayuning bawana. Ungkapan ini tidak sekadar berarti memperindah dunia, tetapi mengandung kesadaran untuk menjaga keseimbangan, merawat kehidupan bersama, menghindari tindakan yang merusak kenyamanan orang lain, serta menempatkan manusia dalam hubungan yang selaras dengan alam dan Tuhan. Dengan demikian, memayu hayuning bawana bukan hanya ajaran tentang lingkungan, melainkan juga sebuah laku untuk menata keberadaan manusia di tengah jagat yang lebih luas.
Baca juga: Belajar dari Negara yang Berani Penjarakan Mantan Presidennya
Gagasan tersebut menemukan ruang tafsir yang menarik dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Selama ini Sapardi kerap dikenali melalui hujan, kesunyian, cinta, dan benda-benda sederhana yang tiba-tiba memperoleh kedalaman makna. Namun, alam dalam puisi Sapardi bukan sekadar latar untuk memperindah suasana. Angin, hujan, pohon, matahari, bunga, daun, dan langit hadir sebagai bagian dari hubungan kosmis yang mempertemukan manusia dengan dunia tempat ia hidup.
Sapardi tidak menulis puisi hanya dengan perasaan. Di dalam puisinya terdapat pergulatan estetis, pikiran, pengalaman, dan kualitas intelektual yang saling berkelindan. Sebab itu, kesederhanaan bahasa Sapardi tidak serta-merta menunjukkan kesederhanaan gagasan. Justru melalui kata-kata yang tampak biasa, ia membuka kemungkinan tafsir yang luas. Penelitian saya terhadap puisi-puisinya menunjukkan kecenderungan tersebut: pikiran, perasaan, dan emosi menyatu dalam struktur puisi, sehingga puisi Sapardi dapat dibaca dalam hubungan dengan gagasan dan pengalaman yang lebih luas di luar teks.
Dalam kerangka memayu hayuning bawana, alam tidak ditempatkan sebagai objek yang pasif. Ia menjadi bagian dari kehidupan manusia. Sebab itu, menjaga alam pada dasarnya juga berarti menjaga keseimbangan kehidupan. Dalam pandangan Jawa, keharmonisan tersebut berkaitan dengan hubungan antara jagad cilik dan jagad gedhe, antara mikrokosmos dan makrokosmos. Manusia merupakan bagian kecil dari semesta; ketika manusia mampu menata dirinya, ia turut membuka kemungkinan bagi terciptanya keteraturan yang lebih luas.
Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Collected Poems : "THE RAINBOW SWALLOWED BY HAZE"
Hal tersebut dapat dilihat dalam puisi “Angin Pagi”. Angin yang dingin dipertemukan dengan matahari yang tetap memijar. Dingin dan cahaya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling meniadakan, melainkan sebagai unsur yang membangun suasana secara bersama. Alam menjadi indah sebab terdapat komposisi di antara unsur-unsurnya. Keseimbangan, dalam konteks ini, bukan berarti semua harus sama, tetapi setiap unsur menemukan tempat dan fungsinya dalam keseluruhan.
Gagasan serupa hadir dalam “Layang-layang”. Layang-layang baru menjadi layang-layang ketika angin memainkannya. Ia terikat pada benang, tetapi justru melalui hubungan dengan angin itulah ia dapat melayang. Hubungan antara layang-layang dan angin menjadi gambaran kecil tentang kehidupan yang selalu berlangsung melalui relasi. Tidak ada keberadaan yang sepenuhnya berdiri sendiri. Dalam tafsir yang lebih luas, manusia pun demikian: keberadaannya selalu berkaitan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya.
Dari layang-layang kita dapat bergerak menuju hujan. Di tangan Sapardi, hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan sebuah peristiwa yang mengajarkan manusia untuk mendengarkan. Dalam “Hujan Dalam Komposisi”, hujan hadir melalui suara, tanah, daun, jendela, dan kesunyian. Manusia mendengar hujan dari balik jendela dan membayangkan hubungan antara tanah dan air, antara daun basah dan ketukan yang berulang. Hujan menjadi bahasa alam yang tidak memakai kata, tetapi tetap dapat dipahami melalui kepekaan.
Pada titik ini, puisi Sapardi terasa seperti mengajak kita keluar dari kebiasaan menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu. Alam memiliki ritmenya sendiri. Hujan datang dan pergi, daun bermunculan dan berguguran, angin bergerak tanpa meminta izin kepada manusia. Dalam “Ayat-Ayat Tokyo”, gerak alam tersebut hadir melalui daun yang tumbuh dan daun yang jatuh, sementara manusia hanya diam dan saling berpandangan. Kesederhanaan adegan itu justru menyimpan gagasan tentang keseimbangan: tumbuh dan gugur sama-sama merupakan bagian dari kehidupan.
Namun, simbol yang paling kuat dalam pembicaraan tentang memayu hayuning bawana barangkali adalah pohon. Pohon dalam puisi Sapardi bukan sekadar tumbuhan. Ia menjadi simbol keteguhan, kehidupan, keberlanjutan, dan kebermanfaatan. Dalam “Tentang Pohon, 1”, pohon digambarkan tidak pernah mengembara, tetapi justru menjadi rumah bagi burung-burung. Ia berhubungan dengan angin yang tidak terlihat, dengan udara, dan dengan makhluk lain yang bergantung kepadanya.
Sebab itu, ketika pohon ditebang, yang hilang bukan hanya sebatang pohon. Ada jejaring kehidupan yang ikut terganggu. Dalam “Tentang Pohon, 2” dan “Tentang Pohon, 3”, pentingnya pohon bagi keberlangsungan kehidupan ditegaskan melalui kesadaran bahwa manusia dan makhluk lain bergantung pada keberadaannya. Merawat pohon dengan demikian bukan tindakan sentimental, melainkan bagian dari menjaga keseimbangan kehidupan.
Kritik terhadap kerusakan alam menjadi lebih tajam dalam “Pokok Kayu”. Suara angin di rumpun bambu berhadapan dengan suara kapak di pokok kayu. Kemudian seekor tempua yang sedang mengerami telur berkata, “jangan mengganggu”. Alam seolah memperoleh suara untuk membela dirinya. Pohon, burung, angin, dan manusia berada dalam satu ruang kehidupan yang sama. Ketika satu unsur dirusak, keseimbangan yang lebih luas ikut terganggu.
Sapardi bahkan menyelipkan kritik terhadap kehidupan kota melalui “Pohon di Tepi Jalan”. Pohon dan tiang listrik dipertentangkan secara simbolik. Tiang listrik dapat berdiri tanpa disiram dan menjadi “teman” bagi asap kendaraan, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi pohon bagi kehidupan. Pohon tetap menjadi bagian penting dari ekosistem kota, terutama sebab keberadaannya berkaitan dengan udara yang dibutuhkan manusia.
Menariknya, pohon kemudian disebut seperti kekasih. Ia memberi tanpa meminta balasan. Dalam konteks ini, pohon dapat dibaca melalui gagasan sepi ing pamrih: kebermanfaatan yang tidak bertumpu pada imbalan. Pohon tidak menuntut manusia untuk membalas jasanya, tetapi keberadaannya justru memungkinkan manusia dan makhluk lain terus hidup. Di sinilah puisi Sapardi bersentuhan dengan inti memayu hayuning bawana: kehidupan menjadi baik ketika manusia mampu merawat sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.
Sebab itu, memayu hayuning bawana sesungguhnya tidak dimulai dari alam, tetapi dari manusia. Penelitian ini menunjukkan tiga strategi yang berkaitan dengannya, yaitu mengolah diri atau olah batin, membangun interaksi sosial, dan menjaga hubungan dengan Tuhan. Ketiganya diarahkan pada upaya menciptakan harmonisasi kosmos.
Maka, membaca Sapardi melalui konsep ini membawa kita pada pertanyaan yang sederhana tetapi tidak ringan, yakni bagaimana manusia hidup tanpa membuat kehidupan yang lain kehilangan ruangnya?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan sebab manusia sering kali menganggap dunia sebagai sesuatu yang tersedia untuk digunakan. Sapardi justru mengajak kita melihat kembali angin, hujan, daun, pohon, dan matahari sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki hubungan satu sama lain. Melalui benda-benda sederhana itulah sebuah pandangan tentang dunia perlahan mengejawantah: manusia bukan penguasa tunggal atas kehidupan, melainkan salah satu unsur di dalamnya.
Barangkali di situlah kekuatan memayu hayuning bawana ketika dibaca melalui puisi Sapardi. Ia bukan sekadar ajaran tentang membuat dunia menjadi indah, tetapi kesadaran untuk tidak menjadi penyebab dunia kehilangan keindahannya. Dunia sudah memiliki harmoni sebelum kita datang; tugas manusia bukan menguasainya, melainkan belajar membaca, menjaga, dan merawatnya.
Bandung, 26 September 2026
–
Penulis:
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com


