Minggu, 27 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RUMAH YANG TAK BOLEH ROBOH

Catatan Budaya: Pinto Janir

–

Rumah di atas tanah boleh saja rebah. Tiangnya patah. Patahlah…Dindingnya retak.Retaklah ! Atapnya runtuh.Runtuhlah…!

Baca juga: Belajar dari Negara yang Berani Penjarakan Mantan Presidennya

Tetapi ada satu rumah yang tak boleh kita biarkan roboh: yakni rumah di dalam hati.

Bangun dan dirikanlah ia dengan kalimah Ilahi.

Laa ilaaha illallah!

Baca juga: Membangun Negeri Jujur dan Sejahtera Demi Kemakmuran Rakyat

Harta, pangkat, dan pujian datang, lalu pergi silih berganti. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Kelak pergi pun juga tanpa membawa apa yang selama ini kita sangka milik kita.

Maka jangan habiskan umur hanya untuk membesarkan rumah yang akan ditinggalkan, sementara rumah di dalam hati dibiarkan hampa dan sepi.

Jika suatu hari segala-galanya direnggut pergi, sisakan dua perkara: harapan dan iman.

Jagalah iman agar kita tidak kehilangan Tuhan. Sisakan harapan agar kita tidak kehilangan hari esok.

Manusia boleh saja kehilangan rumah, harta, dan pangkat. Tetapi jangan sampai kehilangan martabat jiwa.

Jangan sampai iman tanggal dari dada dan harapan padam dari kehidupan.

Banyak orang mau mati-matian mengejar harta dan pangkat. Seolah olah, tanpa pangkat ia kekurangan daya hormat dan kehormatan. Tanpa pangkat, ia melata.

Ia tunduk kepada dunia. Ia menyembah harta. Ia bertuan pada pitih. Asal sesuatu dapat menjadi uang, apa pun ia keramatkan.

Yang paling ditakutkannya bukan kehilangan iman, tetapi kehilangan pangkat dan harta.

Ketika kantongnya tipis, datanglah segala penyakit menyerang badan dan pikirannya. Mulai dari menggacar hingga kehilangan selera. Layur segala yang biasa tegak, pudur segala yang biasanya menyala.

Bahkan ia “jahadkan” dirinya demi harta. Iman digadaikan, harga diri dijual.

Begitu mendengar pangkatnya akan bergeser atau direbut orang, ia kasak-kusuk dalam kegamangan.

Segala cara dan jalan ditempuhnya. Mau jalan mendaki, menurun, mendatar, melereng, menikung…ia sikat!

Segala makan didaram. Mau masak, mau mentah, ia lukap. Yang penting pangkat jangan dibabat.

Sombongnya minta ampun. Di mana-mana ingin selalu minta disanjung, dipuja, dan dihormati.

Gila!

Kini ia telah kehilangan segalanya.

Rumah di atas tanahnya rebah. Harta di dalam rumahnya lenyap. Dan ia lupa menyisakan harapan dan iman.

Imannya telah lama tak tegak gagah berdiri. Harapannya telah lama padam.

Kini ia benar-benar sudah merasakan kehilangan segalanya…

Ia telanjur lalai bahwa yang fana dirikanlah dengan tangan, sementara yang abadi tegakkanlah dengan hati.

Pada akhirnya, manusia akan sampai juga pada batas ketika pangkat tak lagi berguna, pitih tak lagi berbicara, pujian tak lagi terdengar, dan rumah tak lagi menjadi tempat berteduh nan indah dan damai.

Di sana, kematian datang menjemput batang diri.

Dan barangkali pada saat itulah manusia baru mengerti, ternyata selama hidup ia sibuk membangun rumah di atas tanah, tetapi lupa membangun rumah di dalam hati.

Yang fana kita dirikan dengan tangan. Yang abadi kita tegakkan dengan hati.

Gunung Pangilun,
27 September 2026.
Salam Budaya: Pinto Janir

Kategori:
Tags:

Terkini