Laporan Paulus Laratmase
–
Biak, 14 April 2026 — SANNews| Suasana haru menyelimuti halaman Gereja Katolik Santa Maria Biak pada Selasa pagi. Sebagian Umat Paroki Santa Maria hadir untuk mengantar kepergian Pastor Laurensius Purwanto, SCJ, yang akan melanjutkan tugas baru sebagai Rektor Seminari Menengah di pusat Keuskupan Timika.
Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Poetry Collection "Never Surrender and the Road that Remembers You"

Setelah dua tahun melayani di Biak, Pastor Laurensius meninggalkan kesan mendalam bagi umat. Dalam ungkapan perpisahannya, ia menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. “Pengalaman yang hebat di sini, bisa bekerja sama dengan umat. Semua, baik yang positif maupun yang tidak menyenangkan, adalah bagian dari dinamika pelayanan yang kita persembahkan kepada Tuhan,” ujarnya dengan penuh ketenangan.
Menurutnya, pengalaman suka dan duka selama pelayanan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan proses yang mendewasakan iman. “Tidak menyenangkan dan menyenangkan itu relatif. Semua adalah proses untuk membentuk iman kita menjadi lebih matang,” tambahnya.
Sejak pagi hari, umat tampak datang ke gereja untuk memberikan penghormatan, wujud empati mereka bagi pastor paroki yang sudah dua tahun melayani. Setelah doa bersama dan pelepasan sederhana oleh Pastor Paroki yang baru, rombongan kemudian bergerak menuju bandara untuk mengantar Pastor Laurensius. Meski jadwal penerbangan sempat mengalami penundaan dari pukul 10.00 WIT, pesawat akhirnya lepas landas sekitar pukul 11.45 WIT menuju Jayapura, sebelum melanjutkan perjalanan ke Timika.
Baca juga: Kinerja Fiskal Biak Numfor 2025 Dinilai Stabil, Namun Kemandirian Daerah Masih Lemah
Dalam pesan terakhirnya, Pastor Laurensius mengajak umat untuk terus memperdalam iman dan memperkuat kebersamaan. “Marilah kita semakin dekat dengan Tuhan. Semoga Yesus sebagai Sang Juru Selamat senantiasa menguatkan kita dalam hidup, keluarga, dan pekerjaan kita,” pesannya.
Secara khusus kepada umat Paroki Santa Maria, ia menekankan pentingnya semangat pelayanan yang dilandasi kasih. “Mari kita saling melayani, saling mengampuni, dan saling menerima. Dalam pelayanan, harus ada kekompakan dan kerja sama,” tuturnya.
Kepergian Pastor Laurensius bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian baru dalam membina calon imam di Timika. Bagi umat Biak, kenangan akan kesederhanaan, ketulusan, dan dedikasinya akan tetap hidup dalam perjalanan iman bersama.
Selamat jalan, Romo. Terima kasih atas pengabdian dan kasih yang telah ditanamkan di tanah Biak.

