Kamis, 28 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

BPI dan Lembaga Adat Tanimbar: Menjaga Negeri di Tengah Arus Investasi

Ketika Tanimbar Menyambut Industri dengan Hati dan Adat
http:suaraanaknegerinews.com | Saumlaki – Arus investasi besar yang mulai bergerak menuju Kabupaten Kepulauan Tanimbar, khususnya melalui proyek strategis nasional Blok Masela, memunculkan satu kesadaran penting di tengah masyarakat adat: pembangunan tidak boleh meminggirkan akar budaya dan identitas lokal. Di tengah dinamika itu, pertemuan antara perwakilan manajemen PT Bangkit Prestasi Insani (BPI) dan para tokoh adat Tanimbar menjadi penanda lahirnya semangat kolaborasi untuk menjaga negeri di tengah perubahan zaman.

Pertemuan yang berlangsung di kediaman Ketua Lembaga Adat Desa Sifnana, Kecamatan Tanimbar Selatan, Rabu (27/5/2026), mempertemukan perwakilan manajemen PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), F. Noya, dengan Ketua Lembaga Adat Kecamatan Tanimbar Selatan, Liberatus Fenanlampir atau yang akrab disapa Bung Oce, bersama sejumlah tokoh adat dan masyarakat.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, F. Noya menyampaikan kegelisahan sekaligus harapannya terhadap masa depan Tanimbar. Dengan latar belakang panjang di sektor minyak dan gas, ia mengaku memahami betul dampak besar yang akan terjadi ketika industri energi masuk ke sebuah wilayah kepulauan. “Saya background-nya memang orang migas, jadi saya sangat memahami ini,” ujar F. Noya.

Baca juga: SIAPA YANG MELEDAKKAN MINYAK DI LAUT?

Ia menuturkan, selama bertahun-tahun dirinya melihat daerah kepulauan di Maluku sering diposisikan sebagai wilayah pinggiran dalam pembangunan.

Menurutnya, pola pembangunan yang terlalu berpusat di kota justru membuat daerah penghasil sumber daya tetap tertinggal. “Kenapa pembangunan harus selalu dimulai dari kota? Pulau harus dibangun supaya bisa menopang kota. Kalau tidak, Maluku akan terus tertinggal,” katanya.

Keresahan itu, lanjutnya, menjadi alasan kuat dirinya memilih terlibat langsung dalam pengembangan sumber daya manusia di Tanimbar. Ia mengaku datang bukan sekadar membawa program, melainkan juga membawa panggilan hati. “Saya datang membawa iman dan hati untuk Tanimbar ini. Dengan pengalaman 35 tahun di migas, saya total habis untuk melayani di sini,” ungkapnya.

Baca juga: Ziarah Kubur 'Apa Pentingnya Chairil Anwar Bagi Indonesia' Bersama TISI ke TPU Karet Bivak

Menurut F. Noya, masuknya investasi besar ke Tanimbar harus diantisipasi sejak dini, terutama dari sisi sosial dan budaya. Ia mengingatkan potensi gesekan akibat masuknya tenaga kerja dan pendatang dari luar daerah.

Karena itu, ia menilai masyarakat adat harus menjadi bagian utama dalam sistem pengamanan sosial di Tanimbar. “Lapisan pertama itu adat, lapisan kedua kepolisian, dan lapisan ketiga TNI. Kalau lapisan adat tidak diperkuat, aparat keamanan akan kewalahan,” tegasnya.

F. Noya menjelaskan, konsep pengembangan yang dibawa pihaknya tidak dimaksudkan mengambil alih kewenangan adat. Sebaliknya, BPI dan Lembaga Adat ingin berjalan bersama masyarakat adat agar proses pembangunan berlangsung harmonis. “BPI datang bukan untuk mengatur adat. Adat itu harga mati. Kami hanya ingin mendukung apa yang dibutuhkan masyarakat adat,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut pihaknya telah melakukan pemetaan bersama akademisi untuk mengantisipasi benturan budaya di masa depan. Salah satu gagasan yang disampaikan ialah penguatan perangkat adat melalui pelatihan sosial, hukum adat, hingga pemahaman tentang ancaman narkotika dan dampak sosial lainnya.

Menurutnya, masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama di tanah sendiri, terutama ketika industri besar mulai beroperasi. “Industri itu ada di Tanimbar. Jadi masyarakat Tanimbar yang harus menjadi leader,” katanya.

Dalam pemaparannya, F. Noya juga memperkenalkan konsep lima klaster pengembangan Tanimbar yang meliputi sektor pendidikan, layanan maritim, ketahanan pangan, kawasan industri strategis, hingga pusat bisnis terpadu.
Ia menilai, jika lima sektor tersebut dibangun secara serius, Tanimbar tidak perlu hanya bergantung pada dana pemerintah atau pembagian hasil migas semata.

Adat Tidak Boleh Dipinggirkan
Ketua Lembaga Adat Kecamatan Tanimbar Selatan, Liberatus Fenanlampir, menyambut baik gagasan kolaborasi tersebut. Menurutnya, kehadiran investasi memang penting untuk masa depan daerah, namun adat dan budaya tidak boleh diabaikan.
“Ini momen langka. Silaturahmi yang sangat baik bagi kami,” kata Bung Oce.

Ia mengakui, selama ini perhatian terhadap kelembagaan adat masih minim, padahal adat merupakan fondasi utama dalam menjaga keseimbangan sosial masyarakat Tanimbar. “Adat belum diberi perhatian serius, padahal ini landasan utama dalam proses-proses selanjutnya,” ujarnya.

Bung Oce menegaskan, masyarakat adat mendukung investasi dan pembangunan, termasuk kehadiran proyek Blok Masela. Namun dukungan itu harus dibarengi penghormatan terhadap budaya lokal.
“Kami siap menjaga investasi ini tetap kondusif, asalkan semua pihak juga menghormati adat dan masyarakat di sini,” katanya.

Ia juga menyinggung potensi eksodus besar-besaran pendatang yang harus diantisipasi secara bijak agar tidak menggerus identitas budaya masyarakat setempat. “Orang tahu adat itu orang beradab. Orang tidak tahu adat berarti orang biadab,” tegasnya.

Bung Oce memastikan pihaknya akan mulai mengonsolidasikan lembaga-lembaga adat di Tanimbar untuk merespons perkembangan investasi dan perubahan sosial yang akan datang.

Jangan Ubah Tatanan Adat”
Sementara itu, tokoh adat sekaligus purnawirawan AKBP Polri, Lazarus Laratmasse, menegaskan bahwa hukum adat memiliki posisi yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. “Polri punya kemampuan seperti apa pun, TNI punya kemampuan seperti apa pun, tetapi tidak bisa mengalahkan adat,” ujarnya.

Menurut Lazarus, tatanan adat yang diwariskan leluhur telah hidup ratusan tahun dan tidak boleh diubah oleh kepentingan luar. “Jangan orang luar datang lalu mengubah tatanan adat. Itu salah besar,” katanya.

Ia menilai, penguatan hukum adat justru akan membantu menciptakan stabilitas keamanan daerah. “Kalau hukum adat sudah kami pegang, seluruh penegak hukum bisa tidur lebih nyenyak,” ucapnya.

Bagi Lazarus, proyek strategis nasional seperti Blok Masela harus menjadi berkah bagi masyarakat Tanimbar, bukan sebaliknya. “Inpex harus membawa berkat, bukan membawa kutuk untuk Tanimbar,” tegasnya.

Menyambut Masa Depan dengan Identitas Sendiri
Pertemuan antara BPI dan lembaga adat Tanimbar itu menjadi cermin bahwa pembangunan tidak selalu harus berhadapan dengan adat. Di tengah arus investasi dan industrialisasi, masyarakat Tanimbar justru ingin memastikan bahwa kemajuan tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai budaya dan warisan leluhur.

Di negeri kepulauan yang sedang bersiap menghadapi perubahan besar itu, adat dipandang bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan fondasi utama untuk menjaga masa depan.(jk)

Kategori:
Tags:

Terkini