Oleh: Paulus Laratmase
–
Terbitnya buku antologi puisi tunggal L-Beaumanity (Love, Beauty, and Humanity) karya Leni Marlina selain menambah khazanah sastra Indonesia, tetapi juga menghadirkan sebuah karya yang menempatkan puisi sebagai ruang dialog kemanusiaan lintas budaya, lintas bangsa, dan lintas generasi. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi konflik, polarisasi sosial, krisis lingkungan, dan lunturnya empati, kehadiran buku ini menjadi penanda bahwa sastra masih memiliki daya transformasi yang kuat.
Baca juga: MALEM MINGGU
Sebagai Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia sekaligus pimpinan suaraanaknegerinews.com dan negerinews.com, saya menyampaikan penghargaan dan rasa hormat kepada Leni Marlina atas dedikasinya yang konsisten menjadikan puisi sebagai karya estetis dan instrumen pendidikan perdamaian (peace education), diplomasi budaya, dan pemberdayaan literasi masyarakat.
Buku ini memperlihatkan bahwa sastra mampu berbicara ketika diplomasi politik menemui jalan buntu, dan puisi mampu menyentuh ruang yang tidak dapat dijangkau oleh bahasa kekuasaan.
- Leni Marlina: Penyair yang Menjadikan Sastra Sebagai Gerakan Perdamaian
Dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer, Leni Marlina tampil sebagai salah satu penyair Indonesia yang tidak memandang puisi sebagai ruang individual semata. Ia membawa puisi keluar dari ruang-ruang akademik menuju ruang sosial yang lebih luas.
Melalui berbagai karya, komunitas sastra, forum internasional, hingga aktivitas literasi digital, Leni Marlina terus memperlihatkan bahwa puisi memiliki fungsi sosial sebagaimana pernah dikemukakan oleh Terry Eagleton bahwa sastra merupakan praktik budaya yang memiliki kemampuan membentuk kesadaran masyarakat.
Dalam konteks ini, Leni Marlina menjadikan puisi sebagai media untuk:
- membangun dialog antarbudaya;
- memperkuat toleransi;
- menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan;
- menanamkan budaya damai;
- serta mengembangkan literasi generasi muda.
Pendekatan pada lima isu utama di atas, menjadikan karya-karyanya berkembang menjadi gerakan sosial berbasis kebudayaan.
- Puisi sebagai Diplomasi Perdamaian
Konsep peace through literature atau perdamaian melalui sastra semakin memperoleh perhatian dalam kajian sastra dunia.
Puisi memiliki kekuatan yang unik karena bekerja melalui empati.
Ketika seseorang membaca puisi, ia sedang belajar memasuki pengalaman orang lain.
Ia belajar memahami penderitaan.
Ia belajar menghargai perbedaan.
Ia belajar menjadi manusia.
Leni Marlina memahami kekuatan dimaksud.
Melalui L-Beaumanity, ia menunjukkan bahwa perdamaian tidak selalu lahir dari meja perundingan, tetapi dapat tumbuh dari hati manusia yang disentuh oleh keindahan bahasa.
Puisi-puisinya menjadi bentuk soft diplomacy, yakni diplomasi yang menggunakan budaya untuk memperkuat hubungan antarbangsa.
Tidak berlebihan apabila karya-karya Leni Marlina dapat dipandang sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia kepada dunia.
- L-Beaumanity: Pertemuan Antara Cinta, Keindahan, dan Kemanusiaan
Judul L-Beaumanity mengandung konsep yang menarik.
Love.
Beauty.
Humanity.
Ketiga konsep tersebut bukan disusun bukan tanpa makna.
Ketiganya merupakan fondasi utama dalam filsafat kemanusiaan.
Cinta menjadi sumber hubungan antarmanusia.
Keindahan menjadi bahasa yang memperhalus perasaan.
Sedangkan kemanusiaan menjadi tujuan akhir dari seluruh proses kehidupan.
Melalui puisi-puisinya, Leni Marlina menghadirkan ketiga unsur itu dalam narasi yang saling menguatkan.
Pembaca diajak melihat bahwa mencintai sesama adalah bentuk penghargaan terhadap kehidupan.
Keindahan adalah sesuatu yang dilihat dengan mata, dirasakan oleh nurani.
Sementara kemanusiaan hadir sebagai nilai universal yang melampaui batas agama, bangsa, maupun identitas budaya.
- Menghidupkan Literasi Melalui Gerakan Sastra
Di tengah rendahnya budaya membaca di berbagai daerah Indonesia, kehadiran Leni Marlina merupakan energi baru bagi gerakan literasi.
Ia tidak hanya menulis.
Ia membangun komunitas.
Ia membimbing penulis muda.
Ia membuka ruang publikasi.
Ia menghubungkan sastra Indonesia dengan jejaring internasional.
Dalam perspektif pembangunan manusia, aktivitasnya memiliki arti yang sangat strategis.
Literasi adalah kemampuan membaca.
Literasi adalah kemampuan memahami dunia.
Melalui puisi, seseorang belajar berpikir kritis.
Belajar merasakan.
Belajar menghargai keberagaman.
Belajar menjadi manusia yang lebih utuh.
Kontribusi semacam inilah yang membuat karya-karya Leni Marlina memiliki dampak sosial yang jauh melampaui halaman-halaman buku.
- Jejak Internasional dalam Menggaungkan Perdamaian
Salah satu kekuatan Leni Marlina adalah kemampuannya membangun jejaring sastra internasional.
Melalui berbagai forum, kolaborasi lintas negara, publikasi internasional, serta kegiatan sastra digital, ia memperkenalkan wajah Indonesia yang damai melalui bahasa puisi.
Di tengah meningkatnya konflik global, pendekatan budaya seperti ini menjadi sangat penting.
UNESCO berulang kali menekankan bahwa budaya dan pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan perdamaian yang berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Leni Marlina berjalan searah dengan gagasan dimaksud.
Ia tidak mengampanyekan perdamaian melalui slogan.
Ia menghidupkannya melalui karya.
- Inspirasi bagi Generasi Muda Indonesia
Generasi muda hari ini hidup di tengah derasnya arus media sosial yang sering kali dipenuhi ujaran kebencian.
Dalam situasi demikian, karya-karya seperti L-Beaumanity menjadi sangat relevan.
Puisi mengajarkan kesabaran.
Mengajarkan mendengar.
Mengajarkan memahami.
Mengajarkan menghargai.
Nilai-nilai ini, merupakan fondasi karakter yang dibutuhkan bangsa Indonesia.
Leni Marlina menunjukkan bahwa penyair memiliki tanggung jawab moral untuk membangun peradaban.
Ia memperlihatkan bahwa pena dapat menjadi instrumen perdamaian yang lebih kuat daripada berbagai bentuk kekerasan.
- Sastra, Media, dan Gerakan Kemanusiaan
Sebagai media yang mengusung semangat literasi dan pemberdayaan masyarakat, suaraanaknegerinews.com memandang bahwa karya-karya seperti L-Beaumanity memiliki nilai strategis.
Media tidak hanya bertugas memberitakan konflik.
Media juga memiliki tanggung jawab menghadirkan harapan.
Puisi adalah salah satu bentuk harapan bagi semua orang.
LSM Santa Lusia pun memiliki visi yang sama.
Pemberdayaan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui penguatan budaya literasi.
Karena itu, terbitnya buku ini menjadi bagian dari perjalanan bersama untuk membangun masyarakat yang lebih berbudaya, lebih damai, dan lebih manusiawi.
- Ucapan Terima Kasih kepada Leni Marlina
Atas nama LSM Santa Lusia, keluarga besar suaraanaknegerinews.com, negerinews.com, serta seluruh pegiat literasi yang percaya bahwa kata-kata mampu mengubah dunia, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Leni Marlina.
Terima kasih karena telah memilih jalan sastra sebagai jalan pengabdian.
Terima kasih karena terus menghidupkan budaya membaca dan menulis.
Terima kasih karena telah menjadikan puisi sebagai bahasa perdamaian.
Terima kasih karena telah memperlihatkan bahwa cinta, keindahan, dan kemanusiaan masih memiliki tempat yang kokoh di tengah dunia yang penuh tantangan.
Semoga L-Beaumanity menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak penyair yang menjadikan sastra sebagai gerakan sosial.
Semoga buku ini dibaca tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia sebagai representasi wajah Indonesia yang mencintai perdamaian.
Penutup
Perjalanan Leni Marlina menunjukkan bahwa seorang penyair sekaligus:
Ia adalah penjaga nilai.
Ia adalah pembangun peradaban.
Ia adalah diplomat budaya.
Ia adalah penggerak literasi.
Melalui L-Beaumanity, Leni Marlina telah memperlihatkan bahwa puisi tidak hanya hidup di dalam buku, tetapi juga hidup di dalam hati manusia. Di sanalah cinta bertumbuh, keindahan menemukan maknanya, dan kemanusiaan memperoleh ruang untuk terus menyala.
Sebagaimana ungkapan penyair Amerika Emily Dickinson, “If I can stop one heart from breaking, I shall not live in vain.” Dalam semangat yang sama, karya-karya Leni Marlina mengingatkan kita bahwa apabila puisi mampu melembutkan satu hati, menghapus satu prasangka, atau menumbuhkan satu benih perdamaian, maka puisi telah menjalankan tugas kemanusiaannya dengan sempurna.
Selamat atas terbitnya L-Beaumanity. Semoga setiap baitnya terus melintasi batas-batas geografis, menyentuh nurani pembaca, dan menjadi bagian dari gerakan global untuk membangun dunia yang lebih damai, lebih indah, dan lebih manusiawi.
_____

UTHOR’S BIOGRAPHY
Leni Marlina was born in Baso, Agam, West Sumatra, and is currently based in Padang, Indonesia. She is a poet, writer, and lecturer in the English Literature Study Program, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang (UNP), where she has been serving since 2006.
Since 2022, Leni has been an active member of the Indonesian Writers Association SATU PENA (West Sumatra Chapter) and has been deeply involved in numerous national and international literacy and literary communities. Her most recent publications include the single-author poetry collections The Beloved Teachers (2025) and L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), as well as the English Stories for Literacy trilogy (2024–2025). In addition to poetry, she actively writes short stories, essays, literary criticism, book reviews, and translates a wide range of literary and journalistic texts.
Beyond her academic work, Leni is active as a freelance writer, editor, and media contributor. She is entrusted as an Editor focusing on education, literacy, literature, culture, and humanitarian issues for two national media platforms: Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) and Negeri News (negerinews.com). Both media outlets uphold the principle of “voicing the voiceless” and are led by Paulus Laratmase.
In literary and academic events, Leni has served as Executive Secretary of Poetry-BLaD & ISoP (Poetry Book Launching and Discussion & International Seminar on Poetry, 31 May 2025) and as Chairperson of the Creative Writing Workshop organized by the Department of English Language and Literature, UNP (11 November 2025). She regularly participates in national and international workshops, seminars, and conferences in the fields of language, literacy, and literature as a participant, moderator, and invited speaker.
As part of her long-standing commitment to literacy advocacy, she founded and manages several digital literacy communities, including PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), EL4C (English Language Learning, Literacy, and Literature Community), and Trans_PC (Translation Practice Community).
In recognition of her contributions, Leni Marlina received the Outstanding Writer Award 2025 from SATU PENA West Sumatra at the 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3), the ACC International Literary Prize 2025 from the ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre, and an international literary award from The Rhythm of Vietnam Literary Community (2025).
In 2025, she was appointed Indonesian Poetry Ambassador for the ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) and simultaneously entrusted as ASEAN Director for ACC SHILA Poets. In the same year, she was appointed by the Capital Writers International Foundation as National Director (Indonesia) for the Panorama International Literary Festival (PILF), held in India from January to February 2026.
Leni has been writing thousands of poems since the year 2000, beginning during her undergraduate studies in English Literature at UNP and continuing through her Master of Writing and Literature (with concentrations in Literary Studies, Creative Writing, and Children’s Literature) in Australia (2011–2013), undertaken through a scholarship from the Indonesian government. Her literary productivity continues to this day. For her, writing is a space for sharing, reflection, and a conscious effort to cultivate meaning and inspire humanity through language and literature.
BIODATA PENULIS
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan berdomisili di Padang. Ia merupakan penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP), tempat ia mengabdi sejak tahun 2006.
Sejak 2022, Leni aktif sebagai anggota Persatuan Penulis SATU PENA Sumatera Barat serta terlibat dalam berbagai komunitas literasi dan sastra nasional maupun internasional. Karya-karya terbarunya meliputi buku kumpulan puisi tunggal The Beloved Teachers (2025), L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025). Selain menulis puisi, ia juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan jurnalistik.
Di samping aktivitas akademik, Leni aktif sebagai penulis lepas, editor, dan kontributor media. Ia dipercaya sebagai Redaktur yang berfokus pada isu edukasi, literasi, sastra, kebudayaan, dan kemanusiaan di dua media nasional, yakni Media Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com). Kedua media tersebut mengusung semangat “to voice the voiceless” dan dipimpin oleh Paulus Laratmase.
Dalam kegiatan kesusastraan dan akademik, Leni berperan sebagai Sekretaris Pelaksana Poetry-BLaD & ISoP (Poetry Book Launching and Discussion & International Seminar on Poetry, 31 Mei 2025) serta Ketua Pelaksana Creative Writing Workshop Departemen Bahasa dan Sastra Inggris UNP (11 November 2025). Ia juga kerap berpartisipasi dalam berbagai workshop, seminar, dan konferensi nasional maupun internasional di bidang bahasa, literasi, dan sastra sebagai peserta, moderator, maupun narasumber.
Sebagai wujud pengabdian pada literasi, ia mendirikan dan mengelola sejumlah komunitas literasi digital, antara lain PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), EL4C (English Language Learning, Literacy, and Literature Community), serta Trans_PC (Translation Practice Community).
Atas kiprahnya, Leni Marlina menerima penghargaan sebagai Penulis Berprestasi 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre, serta penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).
Pada tahun 2025, ia ditunjuk dan dipercayakan sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus menjabat sebagai ASEAN Director for ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia juga dipercaya oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan pada Januari–Februari 2026 di India.
Leni telah menulis ribuan puisi sejak tahun 2000, dimulai sejak masa studi Sarjana di Program Studi Sastra Inggris UNP dan berlanjut saat menempuh Master of Writing and Literature (konsentrasi Literary Studies, Creative Writing, dan Children’s Literature) di Australia (2011–2013) melalui beasiswa pemerintah Indonesia. Produktivitas kepenulisannya terus berlanjut hingga kini. Baginya, menulis adalah ruang berbagi, refleksi, dan ikhtiar merawat nilai-nilai kemanusiaan melalui bahasa dan sastra.
Biak, July 12nd 2026
Paulus Laratmase





