Oleh: johanis kopong
Baca juga: Wamen Ossy: ATR/BPN Harus Jadi Solusi Pembangunan Kaltim
http://suara anak negeri.com | Manila, Filipina – Di tengah ritme kehidupan akademik dan pembinaan calon imam di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, Rabu (17/6/2026), sebuah refleksi sederhana namun sarat makna disampaikan oleh RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di UST Manila.
Melalui renungan bertajuk Sejenak Sabda, ia mengajak umat untuk kembali melihat ke dalam diri, sebab ukuran sejati kehidupan beriman bukanlah apa yang tampak di hadapan manusia, melainkan ketulusan hati yang hanya diketahui oleh Tuhan.
Berpijak pada bacaan liturgi Hari Biasa Pekan XI, yakni Kitab 2 Raja-raja 2:1, 6–14 dan Injil Matius 6:1–6, 16–18, RD. Domincs mengingatkan bahwa setiap tindakan baik selalu berawal dari sebuah niat. Karena itu, seseorang tidak cukup dinilai hanya dari apa yang dikerjakan, tetapi juga dari alasan mengapa ia melakukannya.
Baca juga: Menteri Nusron Usulkan Pagu ATR/BPN 2027 Rp10,6 Triliun
“Kita diajak untuk selalu memeriksa ‘mengapa’ kita melakukan sebuah kebaikan. Nilai moral suatu tindakan tidak hanya ditentukan oleh bentuk fisiknya (apa yang kita lakukan), tetapi sangat bergantung pada niat di dalam hati (mengapa kita melakukannya). Keutamaan moral menuntut kita untuk jujur pada diri sendiri dan menjauhi motif terselubung demi keuntungan egois,” ungkap RD. Domincs Baldawins Masriat.
Menurutnya, ketulusan merupakan fondasi utama dari setiap tindakan kasih. Pertolongan yang diberikan kepada sesama akan kehilangan makna ketika dilakukan demi membangun citra diri atau mencari pengakuan publik.
Di tengah perkembangan media sosial yang memberi ruang luas bagi setiap orang untuk menampilkan dirinya, RD. Domincs mengajak umat agar tidak menjadikan kebaikan sebagai sarana memperoleh validasi.
“Kebaikan yang sejati dicirikan oleh kerendahan hati dan ketulusan tanpa pamrih (altruisme). Ketika kita menolong orang yang kesusahan atau berdonasi, lakukanlah demi meringankan beban orang tersebut, bukan demi membangun reputasi, mencari validasi sosial, atau menjadikannya konten demi pujian publik. Kehilangan kerahasiaan sering kali merusak kemurnian dari sebuah pertolongan,” pesannya.
Lebih jauh, ia mengajak setiap orang untuk berani melakukan evaluasi diri. Menurutnya, karakter seseorang tidak diuji ketika berada di hadapan banyak orang, melainkan ketika ia berada dalam kesendirian tanpa sorotan siapa pun.
“Siapa diri kita saat sedang sendirian dan tidak dilihat oleh siapa pun, itulah karakter kita yang sesungguhnya. Jangan sampai kita menampilkan diri sebagai pribadi yang sangat bijak, suci, atau bermoral di panggung publik, sementara kehidupan pribadi dan keluarga kita berantakan atau penuh kepalsuan. Milikilah ruang privasi yang sehat untuk berefleksi dan menjaga hubungan batin yang jujur dengan Tuhan,” katanya.
Bagi RD. Domincs, kehidupan rohani juga menuntut kedewasaan batin. Ia mengingatkan agar setiap pengorbanan, kesulitan, maupun laku pantang tidak dijadikan sarana untuk menarik perhatian atau memperoleh belas kasihan dari orang lain.
“Kita diajak untuk memiliki keteguhan batin dan tidak menjadi pribadi yang ‘haus perhatian’ (attention seeker). Ketika kita sedang berkorban, mengalami kesulitan, atau melakukan pantang demi sebuah tujuan yang mulia, janganlah kita mengeluh secara dramatis atau sengaja memperlihatkan penderitaan kita agar dikasihani atau dikagumi orang lain. Lakukan pengorbanan itu dengan sukacita, keanggunan, dan martabat yang tenang,” tegasnya.
Menutup refleksinya, RD. Domincs mengajak seluruh umat menyerahkan hidup kepada penyelenggaraan Tuhan melalui doa yang sederhana namun mendalam.
“Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu hidup dalam ketulusan hati.”
Di tengah dunia yang semakin memberi ruang bagi pencitraan dan pengakuan publik, refleksi RD. Domincs Baldawins Masriat menjadi pengingat bahwa kualitas iman tidak diukur dari banyaknya perhatian yang diterima, melainkan dari kejujuran hati ketika berbuat baik.
Sebab, di balik setiap tindakan, Tuhan tidak hanya melihat apa yang dilakukan manusia, tetapi juga mengenal motivasi terdalam yang tersembunyi di dalam hati.





