Oleh: johanis kopong
Refleksi Injil Mengajak Umat Mengutamakan Pertobatan Hati daripada Penilaian terhadap Orang Lain
suaraanaknegeri.com | Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Selasa, 4 Agustus 2026 – Di tengah kehidupan yang semakin mudah dipenuhi penilaian, kritik, bahkan penghakiman terhadap sesama, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengajak umat untuk kembali melihat ke dalam diri sendiri.
Baca juga: Pengawas SPBU: Kuota BBM Subsidi Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Masyarakat
Melalui refleksi Injil Matius 15:1-2, 10-14, Pastor Pius mengingatkan bahwa pembaruan hidup yang sejati tidak dimulai dari penampilan lahiriah, melainkan dari hati yang dibersihkan oleh kasih dan pertobatan.
Ketika Agama Berhenti pada Formalitas
Pastor Pius mengawali refleksinya dengan mengangkat peristiwa ketika orang-orang Farisi mempertanyakan kebiasaan para murid Yesus yang makan tanpa membasuh tangan sesuai adat istiadat nenek moyang. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi gambaran bahwa manusia sering kali lebih sibuk menilai tindakan lahiriah dibandingkan memperhatikan kondisi batin.
“Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang?” demikian pertanyaan yang dilontarkan orang Farisi kepada Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil Matius.
Baca juga: Ruma Kidabela Diresmikan, DPRD Harap Jadi Penggerak Ekonomi dan SDM
Bagi Pastor Pius, sikap itu menjadi cerminan kehidupan yang masih relevan hingga saat ini, ketika seseorang mudah menghakimi kesalahan orang lain, tetapi lupa membenahi dirinya sendiri.
Tuhan Memandang Hati, Bukan Sekadar Penampilan
Dalam refleksinya, Pastor Pius menegaskan bahwa Yesus tidak menolak nilai tradisi, tetapi mengecam kemunafikan yang menjadikan aturan hanya sebagai alat untuk memperoleh penghormatan dari manusia.
“Yesus mencela kemunafikan orang Farisi yang sibuk menata lahir demi hormat dan pujian. Yesus lebih mencintai dan menghargai orang yang memulihkan hati daripada sibuk memoles lahiriah,” ungkap Pastor Pius.
Ia menjelaskan bahwa Tuhan tidak menghendaki kesempurnaan yang hanya tampak dari luar. Sebaliknya, Allah menginginkan hati yang dipenuhi kejujuran, ketulusan, kerendahan hati, semangat mengampuni, serta kasih kepada sesama.
Membersihkan Hati Sebelum Menilai Sesama
Menurut Pastor Pius, akar dari banyak persoalan hidup bukan terletak pada apa yang tampak di luar, melainkan pada hati manusia yang masih dipenuhi kesombongan, kebencian, fitnah, dan kecenderungan menghakimi orang lain.
Karena itu, ia mengajak umat beriman untuk menjadikan Sabda Tuhan sebagai cermin kehidupan. Pertobatan sejati dimulai ketika seseorang berani mengoreksi dirinya sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain.
“Tuhan tidak menghendaki kesempurnaan palsu orang Farisi. Tuhan menghendaki kebersihan hati: jujur, tulus, rendah hati, memaafkan, bukan kesombongan, kebencian, fitnah dan menghakimi sesama. Benahi hatimu agar hidupmu dipulihkan Tuhan,” pesan Pastor Pius Heljanan, MSC.
Refleksi Menjadi Jalan Menuju Pembaruan Hidup
Refleksi ini menjadi undangan bagi setiap umat untuk tidak terjebak pada kehidupan iman yang hanya berorientasi pada simbol dan penampilan luar. Kehidupan rohani yang sejati lahir dari hati yang terus dibaharui oleh kasih Allah, sehingga mampu menghadirkan damai, kerendahan hati, dan semangat persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan Injil yang disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, mengingatkan bahwa ukuran utama kehidupan beriman bukanlah seberapa sering seseorang mengoreksi orang lain, melainkan seberapa besar kesediaannya membiarkan Tuhan membentuk dan memulihkan hatinya. (Editor: johanis kopong)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)






