Rabu, 08 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Sepatu yang Mengelupas

Karya: Ilhamdi Sulaiman

Sepatu itu sudah terlalu lama menemani langkah Rahman.
Kulit hitamnya retak-retak seperti tanah yang menunggu hujan. Sol bagian depan menganga. Setiap kali ia melangkah, mulut sepatu itu membuka dan menutup, seolah sedang mengucapkan sesuatu yang tak pernah didengar siapa pun.
Setiap subuh, Rahman mengoleskan lem pada bagian yang mengelupas. Ia menekannya kuat-kuat dengan kedua telapak tangan, lalu mendiamkannya beberapa menit sebelum dipakai kembali.
“Masih bisa dipakai?” tanya istrinya.
Rahman tersenyum.
“Kalau masih bisa berjalan, berarti masih pantas dipakai.”
Ia adalah seorang tenaga kesehatan PPPK di sebuah puskesmas kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Ketika surat keputusan pengangkatannya turun, seluruh kampung datang mengucapkan selamat.
“Sekarang hidupmu aman.”
“Sebentar lagi kalian sejahtera.”
“Anakmu pasti bisa kuliah.”
Ucapan-ucapan itu beterbangan

pernah kembali.
Yang tinggal hanya kenyataan.
Gaji yang dijanjikan belum juga tiba.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Rahman tetap datang ke puskesmas.
Ia memeriksa balita yang demam. Membersihkan luka petani yang tersayat parang. Menenangkan seorang ibu yang menangis karena anaknya kejang.
Semua dilakukan dengan tangan yang sama—tangan yang setiap malam menghitung uang receh di atas meja makan.
Suatu malam anak bungsunya berkata pelan.
“Ayah… besok di sekolah bayar uang kegiatan.”
Rahman terdiam.
Ia membuka dompet.
Isinya hanya kartu identitas, selembar foto keluarga, dan beberapa lembar uang yang bahkan tak cukup untuk membeli kebutuhan sehari.
“Ayah usahakan.”
Kalimat itu keluar seperti batu yang dipaksa melewati tenggorokan.
Di puskesmas, orang-orang memanggilnya “Pak Rahman”.
Mereka tidak tahu bahwa lelaki yang memasang infus dengan tenang itu sering pulang tanpa membawa apa pun.
Ia tak pernah mengeluh kepada pasien.
Baginya, orang sakit tidak pantas ikut menanggung kesedihan orang yang mengobati.
Namun setiap kali berjalan di lorong puskesmas, sepatu tuanya mengeluarkan bunyi kecil.
Cek… cek…
Bunyi yang hanya ia dengar sendiri.
Seperti suara harga diri yang perlahan terkikis.
Suatu sore hujan turun deras.
Rahman mengantar seorang ibu hamil yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Jalan berlumpur.
Air masuk melalui sela-sela sepatu yang robek.
Kakinya basah.
Tetapi perempuan yang ditolongnya selamat.
Malam itu ia pulang dengan pakaian penuh lumpur.
Istrinya bertanya,
“Kapan terakhir Abang membeli sepatu?”
Rahman tertawa kecil.
“Aku sudah lupa.”
Hari-hari terus berjalan.
Di ruang pelayanan terpajang slogan besar:
“Melayani dengan Sepenuh Hati.”
Rahman membacanya setiap pagi.
Lalu ia tersenyum getir.
Ia memang melayani dengan sepenuh hati.
Tetapi perut tidak pernah kenyang oleh slogan.
Anak-anak tidak bisa membayar sekolah dengan pengabdian.
Sepatu tidak akan utuh hanya karena kesetiaan.
Suatu pagi, sebelum berangkat bekerja, sol sepatu itu akhirnya terlepas seluruhnya.
Rahman memungutnya.
Membersihkannya.
Lalu mengikatnya dengan tali rafia.
Ia memandang dirinya di cermin.
Seragamnya rapi.
Lencana di dada berkilau.
Hanya sepatunya yang seolah berkata jujur tentang hidup yang sedang dijalani.
Ia menarik napas panjang.
Lalu berangkat.
Di sepanjang jalan, orang-orang tetap menyapanya hormat.
“Selamat pagi, Pak!”
Rahman membalas dengan senyum.
Tak seorang pun tahu bahwa di balik langkah yang tegak itu, ada lelaki yang sedang berusaha mempertahankan martabatnya agar tidak ikut mengelupas bersama sepatunya.
Dan ketika ia memasuki halaman puskesmas, matahari baru saja terbit.
Cahayanya menyentuh sepatu yang robek itu.
Untuk sesaat, Rahman merasa, mungkin harapan memang seperti matahari.
Selalu datang.
Meski kadang terlalu lama dinanti.
Tetapi ia juga sadar, harapan yang terus-menerus ditunda dapat berubah menjadi luka.
Dan luka yang paling sunyi bukanlah luka di kaki akibat sepatu yang rusak.
Melainkan luka di hati seseorang yang tetap mengabdi, sementara hidupnya sendiri perlahan runtuh dalam diam.
7 Juli 2026

Baca juga: Pertumbuhan dan Keadilan yang Masih Tertinggal

Catatan : cerpen ini terinspirasi setelah menonton berita tentang Gaji P3K di Kepulauan Tidore tak dapat dibayarkan karena tak tersedia lagi anggarannya

Kategori:
Tags:

Terkini