Selasa, 09 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ketika Kesetiaan Menjadi Jalan Pulang: Belajar dari Henokh dan Kehidupan Joel Lololuan

Refleksi Pelepasan Jenazah Almarhum Joel Lololuan, BA

Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga, kerabat, dan jemaat yang mengasihi almarhum Bapak Joel Lololuan, firman Tuhan dari Kejadian 5:21–24 menghadirkan sebuah penghiburan sekaligus perenungan yang mendalam. Bagian Alkitab ini berbicara tentang Henokh, seorang tokoh yang hidupnya berbeda dari orang-orang lain dalam silsilah panjang keturunan Adam. Jika nama-nama lain dicatat dengan pola yang hampir sama—lahir, memiliki keturunan, lalu meninggal—maka Henokh memperoleh catatan yang istimewa. Alkitab menyatakan bahwa “Henokh hidup bergaul dengan Allah” dan karena itu “ia tidak ada lagi, sebab Allah telah mengangkatnya.”

Keistimewaan Henokh bukan terletak pada panjang usianya, kekayaannya, kedudukannya, atau pencapaiannya di dunia. Justru yang membuatnya dikenang sepanjang zaman adalah kualitas hubungannya dengan Allah. Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan harta, jabatan, popularitas, dan pengaruh, kisah Henokh mengingatkan bahwa ukuran terbesar dalam pandangan Tuhan adalah kesetiaan dalam berjalan bersama-Nya.

Baca juga: MENDENGAR PIDATO PRABOWO DAN MACRON DI JAMUAN MAKAN MALAM

Refleksi ini menjadi sangat relevan ketika kita mengenang kehidupan almarhum Bapak Joel Lololuan. Selama 83 tahun menjalani kehidupan di dunia, beliau tidak hanya mengumpulkan usia, tetapi juga mengisi perjalanan hidupnya dengan iman, pengabdian, dan kesetiaan kepada Tuhan. Kesaksian yang disampaikan dalam ibadah pelepasan menunjukkan bahwa beliau pernah melayani sebagai majelis jemaat, terlibat dalam kehidupan gereja, dan menjalani panggilan hidupnya sebagai seorang percaya yang setia. Dalam perjalanan panjang itu, beliau tentu mengalami berbagai dinamika kehidupan: sukacita dan kesedihan, keberhasilan dan kegagalan, kenyamanan dan pergumulan. Namun sebagaimana setiap orang beriman yang berjalan bersama Tuhan, beliau terus melangkah dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai setiap musim kehidupan.

Kisah Henokh mengajarkan bahwa bergaul dengan Allah bukanlah tindakan sesaat, melainkan perjalanan seumur hidup. Bergaul dengan Allah berarti berjalan bersama-Nya setiap hari, menjadikan kehendak-Nya sebagai arah hidup, serta tetap setia bahkan ketika jalan terasa berat. Kesetiaan seperti inilah yang menjadi inti dari kehidupan Kristen. Kesetiaan tidak selalu tampak dalam hal-hal besar dan spektakuler. Sering kali kesetiaan justru hadir dalam tindakan sederhana: beribadah dengan tekun, melayani tanpa pamrih, mengasihi keluarga, menjaga integritas, dan tetap percaya kepada Tuhan di tengah kesulitan.

Dalam terang pemahaman ini, kehidupan Bapak Joel Lololuan dapat dipandang sebagai sebuah kesaksian iman. Mungkin tidak semua orang mengenal seluruh perjalanan hidupnya, tetapi mereka yang hidup dekat dengannya dapat melihat jejak-jejak kesetiaan yang ditinggalkannya. Kesetiaan itu bukan hanya terlihat dalam hubungan dengan gereja, tetapi juga dalam cara beliau menjalani tanggung jawab sebagai anggota keluarga dan bagian dari komunitas. Warisan terbesar yang ditinggalkan seseorang bukanlah harta benda, melainkan teladan hidup yang menginspirasi generasi berikutnya.

Baca juga: TIGA MALAM, TIGA DOA, TIGA DOSA

Kematian sering kali menghadirkan kesedihan karena perpisahan. Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kematian dari perspektif yang berbeda. Bagi orang yang percaya kepada Kristus, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Kematian adalah gerbang menuju persekutuan yang lebih sempurna dengan Allah. Itulah sebabnya khotbah tentang Henokh memiliki makna yang begitu mendalam. Henokh diangkat oleh Allah karena hidupnya berkenan kepada-Nya. Kisah itu menjadi gambaran tentang pengharapan yang dimiliki oleh setiap orang percaya: suatu hari nanti, perjalanan di dunia akan berakhir dan kita akan dipanggil pulang ke rumah Bapa.

Judul refleksi ini, “Ketika Kesetiaan Menjadi Jalan Pulang,” mengandung pesan yang sangat kuat. Jalan pulang menuju hadirat Allah tidak dibangun oleh kekayaan, kehormatan, atau kemegahan duniawi. Jalan pulang itu dibangun oleh kesetiaan yang terus dipelihara sepanjang hidup. Kesetiaan kepada Tuhan dalam setiap langkah kehidupan menjadi bukti iman yang nyata. Ketika perjalanan dunia selesai, kesetiaan itulah yang menjadi kesaksian di hadapan Allah.

Karena itu, kepergian Bapak Joel Lololuan tidak hanya mengundang kesedihan, tetapi juga menghadirkan panggilan reflektif bagi setiap orang yang masih melanjutkan perjalanan hidup. Jika almarhum telah menyelesaikan perlombaannya, maka kita masih berada di tengah perjalanan. Waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali, tetapi waktu yang masih diberikan Tuhan kepada kita merupakan kesempatan untuk membangun kehidupan yang bermakna. Pertanyaannya bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita hidup. Apakah kita hidup dekat dengan Tuhan? Apakah kita berjalan setia bersama-Nya? Apakah hidup kita menjadi berkat bagi sesama?

Akhirnya, kehidupan Henokh dan kehidupan Bapak Joel Lololuan mengajarkan satu kebenaran sederhana namun mendalam: manusia akan dikenang bukan terutama karena apa yang dimilikinya, melainkan karena bagaimana ia menjalani hidupnya di hadapan Tuhan. Kesetiaan yang dijalani setiap hari akan menjadi warisan yang tidak lekang oleh waktu. Dan ketika tiba saatnya Tuhan memanggil pulang, kesetiaan itu akan menjadi jalan yang mengantar seseorang memasuki sukacita kekal bersama-Nya.

Selamat jalan, Bapak Joel Lololuan. Jejak hidup dan kesetiaan yang telah ditinggalkan akan tetap berbicara kepada keluarga, jemaat, dan setiap orang yang pernah mengenalmu. Kiranya pengharapan di dalam Kristus menjadi kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan, dan kiranya teladan kehidupan almarhum terus menginspirasi banyak orang untuk berjalan setia bersama Tuhan hingga akhir perjalanan hidup mereka.

Kategori:
Tags:

Terkini