Rabu, 29 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

 Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina “Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut”

Ilustrasi Kumpulan Puisi "Ketika Namamu Meluruh Menjadi Batu" Karya Leni Marlina. Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Cover No. 928.28072026-LM

 Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut

Puisi: Leni Marlina

Baca juga: BPJS Tanimbar: Pasien Kini Bisa Dilayani pada Hari yang Sama

Engkau batu
Kau tidak menjadi tua,
lumutlah yang perlahan menghafal bentuk tulangmu.
Embun mengapur urat daun hingga hijau kehilangan pekerjaannya sebagai warna.

Mengapa manusia tergesa menjadi musim,
sedangkan batu rela menunggu seribu hujan untuk memperoleh satu pori?
Kau menyentuh granit,
telapakmu dipenuhi serbuk waktu yang belum selesai menjadi abad.

Seekor siput menyalin lengkung bukit ke dalam rumah yang dipikulnya sendiri.
Retakan mengandung akar,
akar mengandung hujan,
hujan mengandung batu yang akan lahir.
Tak cukup keteguhan di sini,
hanya mineral yang terlalu sabar untuk disebut bergerak.

Baca juga: Dari Tanimbar, dr. Elna Menagih Layanan Kesehatan yang Merata

Jika suatu hari namamu meluruh menjadi lumut,
barangkali gunung akhirnya menemukan cara baru untuk bernapas bersamamu.

Monash, Australia, 2012

—–

/2/

Udara yang Menemukan Bentuk Tubuhnya

Puisi: Leni Marlina

Kau potong bambu,
kau keluarkan seruling dari kesunyian ruas-ruasnya.
Angin bertiup,
ia berlatih menjadi napas pada rongga yang kau kosongkan.

Mengapa suara selalu dicari di mulut,
padahal hutan telah lama bernyanyi melalui batang yang berlubang?
Daun-daun menggesek udara,
hijau berubah menjadi irama yang tak dapat dipungut telinga.
Seekor elang meminum gema,
paruhnya mengeluarkan pagi yang belum selesai menjadi cahaya.

Kau mengangkat seruling,
bambu mengangkat paru-parumu menjadi hutan kecil.
Kau tak lagi mendengar lagu,
tapi menikmati udara yang akhirnya menemukan bentuk tubuhnya.

Monash, Australia, 2012

—–

/3/

Bayangan Air

Puisi: Leni Marlina

Kau menurunkan ember ke sumur,
air justru menaikkan wajah yang belum pernah kau miliki. Pantulan mengelupas dari permukaan,
ikan mengenakan sisiknya sebagai langit yang basah.

Mengapa mata selalu percaya cahaya,
sedangkan air berkali-kali membuktikan bahwa kedalaman tidak memerlukan mata?
Kau menjahit riak dengan jemari,
lingkaran-lingkaran kecil memelihara bentuk bulan yang lupa malam.

Lumut mengarsipkan dingin pada dinding sumur;
batu mengeluarkan aroma yang dapat diminum.

Tak ada dasar,
hanya langit yang perlahan tenggelam ke dalam bumi.
Jika haus mempunyai bayangan,
barangkali ia memilih tinggal di pelupuk matamu.

Monash, Australia, 2012

—–

/4/

Memasak Waktu

Puisi: Leni Marlina

Kau menyalakan tungku,
kayu mengeluarkan usia yang berbau damar.
Periuk tidak mendidihkan air,
ia melunakkan keras kepala musim.

Mengapa lapar selalu datang ke perut,
padahal aroma lebih dahulu memberi makan ingatan?
Asap menggantung di kasau,
jelaga menulis silsilah keluarga tanpa satu huruf pun.

Garam mengerami kuah,
mineral belajar menjadi kasih tanpa meminta nama.
Sendok mengaduk diam,
bunyi berubah menjadi kaldu yang menghangatkan tulang.

Tak ada masakan sempurna,
hanya bumi yang perlahan menghidangkan dirinya kepada kehidupan.
Kau menyantap hari tanpa pernah menyadari bahwa waktu pun ikut matang.

Monash, Australia, 2012

—-

/5/

Langit Biru di Matamu

Puisi: Leni Marlina

Langit biru memilih
rongga matamu
sebagai alamat terakhir,
teluk mencabut kompasnya
dari dada ombak.
Kami menyaksikan
lumbung menyimpan musim
di balik alfabet besi.

Seekor camar mengeluarkan jarum dari paruh angin,
Lalu sebutir bulir menyelinap melewati engsel yang lupa sedang menjadi penjara.
Tak ada bunyi.
Hanya logam menggerogoti
bayangannya sendiri.

Hijau lebih dahulu mewarisi permukaan sebelum karat sempat menamai usia.
Neraca membuang pusatnya.
Batu kehilangan tata bahasa untuk mengucapkan berat.

Di balik kelopakmu,
kerang-kerang mengembunkan aroma yang belum pernah
ditempati roti.
Mangkuk-mangkuk membalik mulutnya ke arah tanah,
seolah bumi menyimpan lidah lain yang tak dikenal langit.

Seekor gurita merajut robekan arus dengan benang
yang dipintal dari garam
yang menolak asin.

Satu demi satu simpul
berubah menjadi celah
tempat ikan kecil menukar ketakutan dengan sisik.
Gudang menghitung gema,
sementara gerimis menyelundupkan bau gandum
ke dalam akar ilalang,
tanpa saksi selain tanah
yang diam-diam menyimpan ingatan lebih panjang daripada kalender.
Karang menggeser tubuhnya
setebal sehelai lumut.
Itu saja cukup agar benih melintas tanpa mengganggu
denyut pertama kecambah.

Burung-burung kembali dengan paruh yang dipenuhi udara.
Namun bulu-bulunya diam-diam mengarsipkan arah musim yang belum terjadi.

Dari pori batu cairan kecil sedang menciptakan
huruf pertamanya.
Engkau membuka mata.
Tak ada peristiwa.
Hanya langut biru berpindah dari retina
ke telapak-telapak yang datang,
tanpa membawa keinginan memiliki.
Kami melihat di bawah daun hijau,
bulir sedang menyusun
tubuhnya sendiri.

Lumbung tetap berdiri dan logam tetap dingin.
Tetapi kunci tak lagi mengerti
ke mana seharusnya menutup.

Dan langit biru di matamu
terus memperluas garis pantainya
di dalam tangan-tangan
yang belajar menjadi ruang,
bukan genggaman.

Monash, Australia, 2012

——

/6/

Rantau yang Membawa Tanah Asal

Puisi: Leni Marlina

Kau berangkat sebelum ayam menyelesaikan mimpinya,
pematang sawah masih menyimpan hangat telapak kakimu.
Rangkiang menyimpan padi,
dadamu menahan kampung dengan cara yang sama.

Mengapa orang mengira rantau berada di ujung jalan, sedangkan ia diam-diam tumbuh di sela kuku yang bekerja?

Kau memikul rotan,
seratnya menganyam jarak hingga kampung berhenti menjadi arah.
Sungai mengirim batu-batu kecil ke kakimu,
kerikil menghafal nama yang tak pernah kau ucapkan.
Surau mengembunkan doa pada papan lantai,
aromanya mengikuti bajumu ke kota-kota asing.

Tak ada kepulangan,
hanya benih yang terus membawa tanah asalnya tanpa pernah terlihat.
Ketika tanganmu menghitam oleh pekerjaan,
kampung halaman diam-diam bersemi kembali di dalam sidik jarimu.

Monash, Australia, 2012

—–

Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina merupakan seorang penyair, penulis, penerjemah, dan dosen asal Indonesia di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.

Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2026), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.

Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis, kontributor, editor dan redaktur di beberapa platform media digital seperti SAN Media Group (Suara Anak Negeri News, Suara Anak Negeri, dan Negeri News), tempat ia menerbitkan karya sastra, esai, artikel dan berit tentang pendidikan, literasi, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Semu platform SAN Media Group tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”

Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.

Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia & sejak tahun 2024 juga bergabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).

Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam

Kategori:
Tags:

Terkini