Mengapa Kita Gemar Menghakimi? Catatan Reflektif dari Kuasi Paroki Lauran
Oleh: Johanis Kopong
Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Rabu, 16 September 2026
Di tengah riuk-pikuk dinamika sosial yang kerap memicu gesekan, kecenderungan manusia untuk mengukur kebenaran orang lain dengan standar pribadi masih menjadi persoalan yang hangat. Ketidakmampuan menerima perbedaan sering kali melahirkan sikap kritis yang berlebihan hingga mengabaikan rasa empati terhadap sesama.
Penyakit Sosial dalam Relasi Pertumbuhan
Baca juga: Menemukan Makna Keselamatan di Bawah Kaki Salib
Latar belakang inilah yang menjadi sorotan penting dalam permenungan spiritual masyarakat. Kecenderungan menilai dan memvonis sesama secara sepihak dinilai sebagai hambatan utama dalam membangun kehidupan bersama yang harmonis dan penuh kedamaian.
Pastor Pius Heljanan, MSC, selaku Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, menegaskan pentingnya mengikis tabiat menghakimi tersebut. Beliau menyinggung bagaimana figur teladan dalam sejarah kerap kali disalahartikan hanya karena memiliki pendekatan yang berbeda.
”Yesus mencela cara hidup Farisi dan ahli Taurat. Yohanes Pembaptis hadir mewartakan pertobatan dan cara hidup benar dianggap kerasukan setan. Yesus hadir mewartakan kasih yang menyelamatkan dengan dekat pada orang berdosa disalahkan,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.
Tiga Akar Hambatan Kepekaan Hati
Dalam narasinya, terdapat tiga kendala utama yang menyebabkan tertutupnya pintu hati seseorang dari kebenaran dan kepekaan sosial:
Sikap Tidak Pernah Puas: Kecenderungan untuk selalu memandang aneh dan salah cara hidup atau pendekatan spiritual orang lain.
Gemar Menghakimi: Anggapan bahwa siapa saja yang tampil atau memilih jalan berbeda dari standar pribadi secara otomatis berada di pihak yang keliru.
Kondisi Mati Rasa: Kerusakan kepekaan sosial yang membuat seseorang acuh tak acuh terhadap suka maupun duka yang dialami oleh lingkungan sekitarnya.
Meneladani Kebijaksanaan Sejati
Mengandalkan kebiasaan menilai orang lain tanpa kepekaan hanya akan menyuburkan prasangka buruk dalam tatanan bermasyarakat. Oleh karena itu, ajakan untuk mentransformasi diri menjadi pribadi yang lebih bijaksana menjadi hal yang sangat krusial.
”Berhentilah jadi kritikus, wasit, juri, dan tukang fitnah dalam hidup bersama. Belajarlah hikmat dari Yesus, guru kebijaksanaan sejati. Jangan cari alasan untuk tidak menghargai sesama yang hidup baiknya berbeda denganmu,” tegas Pastor Pius Heljanan, MSC, merujuk pada permenungan Kitab Suci Injil Lukas 7:31-35.
(Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku)


