Nuyang Jaimee | Penulis
Kemerdekaan Berkarya, Kemerdekaan Finansial, dan Dilema Seniman di Tengah Realitas Hidup
Kemerdekaan sering kali kita pahami sebagai keadaan ketika seseorang terbebas dari penjajahan, tekanan, atau kekuasaan yang membatasi kehendaknya. Dalam konteks sebuah bangsa, kemerdekaan berarti terbebas dari kolonialisme dan memiliki hak untuk menentukan masa depan sendiri. Namun ketika kemerdekaan dibawa ke dalam kehidupan seorang seniman, persoalannya menjadi jauh lebih rumit. Sebab seorang seniman tidak hanya membutuhkan kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berekspresi, kemerdekaan mencipta, dan yang sering dilupakan kemerdekaan secara ekonomi.
Di sinilah paradoks kehidupan seniman muncul. Bagaimana mungkin seorang seniman dapat sepenuhnya merdeka berkarya apabila kehidupannya masih bergantung pada kebutuhan ekonomi yang mendesak? Bagaimana seorang pekerja seni dapat mempertahankan idealisme ketika biaya produksi, kebutuhan keluarga, tempat tinggal, transportasi, pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari terus berjalan? Dan bagaimana mungkin kita meminta seniman terus menjaga kebebasan kreatif apabila masyarakat masih menganggap karya seni sebagai sesuatu yang seharusnya murah, bahkan gratis?
Baca juga: DIDING BONENG: NASIB AKTOR TEATER DI INDONESIA (Bagian 3)
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada satu kesimpulan sederhana: bahwa kemerdekaan berkarya harusnya tidak dipisahkan dari kemerdekaan finansial.
Seorang seniman mungkin secara hukum bebas membuat karya apa pun. Ia tidak dilarang menulis puisi, membuat teater, melukis, menari, membuat film, bermusik atau melakukan eksperimen artistik. Tetapi kebebasan formal belum tentu menghasilkan kebebasan yang nyata. Ketika seseorang harus terus-menerus memikirkan bagaimana membayar kontrakan, membeli makanan, membiayai keluarga, atau membayar utang, ruang batinnya untuk mencipta bisa menyempit.
Bukan karena ia kehilangan idealisme. Melainkan karena kehidupan memiliki tagihan.
Baca juga: George Matus: Anak yang Menyentuh Langit, Menjadi Obor Semangat Wirausaha Generasi Muda
Kemerdekaan Berkarya dan Realitas Perut
Ada romantisme yang terlalu lama melekat dalam pandangan terhadap seniman: seniman dianggap sebagai manusia yang harus hidup demi seni, bukan demi uang. Seolah-olah berbicara mengenai honor, kontrak, bayaran pertunjukan, royalti, atau keuntungan dari karya merupakan sesuatu yang mengurangi kemurnian seni. Pandangan semacam ini justru berbahaya.
Seniman memang membutuhkan idealisme, tetapi seniman juga manusia. Ia membutuhkan makan, rumah, pakaian, kesehatan, pendidikan, dan keamanan ekonomi. Pekerja seni juga memiliki waktu, tenaga, keahlian, dan profesionalitas yang layak dihargai.
Kita tidak pernah mengatakan seorang dokter kehilangan kemanusiaannya karena menerima bayaran. Kita tidak menganggap guru kehilangan idealismenya karena memperoleh gaji. Kita tidak menuduh arsitek tidak mencintai profesinya hanya karena menerima honor. Lalu mengapa seniman sering dituntut bekerja dengan semangat pengabdian semata? Di titik inilah masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap seni. Seni bukan sekadar ekspresi. Seni adalah pekerjaan
Di balik sebuah pertunjukan terdapat latihan berbulan-bulan. Di balik sebuah film terdapat proses panjang yang melibatkan banyak pekerja. Di balik sebuah buku terdapat proses penelitian, penulisan, penyuntingan, desain, produksi, hingga distribusi. Di balik sebuah pameran terdapat tenaga kurator, seniman, teknisi, pekerja produksi, dokumentasi, publikasi, dan berbagai profesi lainnya.
Karya seni mungkin lahir dari kebebasan imajinasi, tetapi proses melahirkannya membutuhkan tenaga dan sumber daya. Karena itu, memperjuangkan kemerdekaan berkarya berarti pula memperjuangkan penghargaan yang layak terhadap kerja seni.
Idealisme Bertemu Kebutuhan Ekonomi
Dilema terbesar seorang seniman sering kali bukan antara seni dan bukan seni, melainkan antara karya yang ingin dibuat dan pekerjaan yang harus dilakukan untuk bertahan hidup.
Seorang aktor mungkin ingin bermain dalam pertunjukan eksperimental, tetapi pada saat yang sama ia menerima pekerjaan komersial karena bayarannya lebih baik. Seorang penulis mungkin ingin menulis novel yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, tetapi ia harus mengambil pekerjaan menulis konten karena pekerjaan itu memberikan pemasukan lebih cepat.
Seorang musisi mungkin membuat mahakarya namun tidak populer secara pasar, tetapi ia harus memainkan pertunjukan yang sesuai permintaan pasar agar dapurnya tetap menyala. Apakah mereka kemudian tidak idealis? Tidak. Mereka sedang bernegosiasi dengan kenyataan.
Kehidupan seniman tidak selalu berada dalam garis lurus antara idealisme dan pengkhianatan. Ada wilayah abu-abu yang sangat manusiawi: bertahan hidup sambil berusaha mempertahankan sesuatu yang diyakini.
Tidak semua pekerjaan komersial merupakan pengkhianatan terhadap seni. Tidak semua karya idealis otomatis bermutu. Dan tidak semua karya yang menghasilkan uang berarti kehilangan nilai artistiknya. Persoalannya bukan apakah seniman mendapatkan uang dari seni. Persoalannya adalah siapa yang menentukan arah karya tersebut: kesadaran kreatif seniman atau tekanan ekonomi sepenuhnya?
Jika seorang seniman dapat memilih kapan menerima pekerjaan komersial dan kapan mengerjakan karya personal, ia memiliki ruang kebebasan yang lebih besar. Tetapi jika seluruh keputusan kreatifnya ditentukan oleh kebutuhan ekonomi, kemerdekaan berkaryanya perlahan berubah menjadi kemerdekaan yang semu.
Kemerdekaan Finansial Bukan Berarti Menjadi Kaya Raya
Kemerdekaan finansial sering disalahpahami sebagai kekayaan. Padahal bagi seorang seniman, kemerdekaan finansial tidak selalu berarti memiliki rumah besar, kendaraan mewah, atau rekening yang berlimpah. Kemerdekaan finansial dapat berarti sesuatu yang lebih sederhana: Memiliki cukup ruang untuk mengatakan “tidak”. Tidak pada pekerjaan yang merendahkan profesinya. Tidak pada eksploitasi. Tidak pada bayaran yang tidak masuk akal. Tidak pada karya yang bertentangan dengan prinsipnya.
Tidak pada tekanan politik atau kekuasaan yang memaksanya mengubah gagasan. Kemampuan mengatakan “tidak” adalah salah satu bentuk kemerdekaan paling penting dalam kehidupan kreatif. Seorang seniman yang tidak memiliki cadangan ekonomi sering kali berada dalam posisi tawar yang lemah. Ia mudah menerima pekerjaan apa saja karena tidak memiliki pilihan. Dalam kondisi seperti itu, kebebasan kreatif menjadi rapuh.
Karena itu, membangun ekosistem seni yang sehat seharusnya tidak hanya berbicara tentang festival, gedung pertunjukan, pameran, penghargaan, atau program kebudayaan. Kita juga harus berbicara mengenai kesejahteraan pekerja seni, sistem honorarium yang adil, perlindungan hak cipta, royalti, akses produksi, ruang berkarya, dan keberlanjutan profesi.
Negara dan Masyarakat Memiliki Tanggung Jawab
Kemerdekaan berkarya tidak seharusnya dibebankan seluruhnya kepada seniman. Negara memiliki tanggung jawab menciptakan ekosistem yang memungkinkan seni tumbuh tanpa kehilangan kebebasan. Pemerintah dapat menyediakan ruang berkesenian yang terjangkau, dana kebudayaan yang transparan, program residensi, hibah produksi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kebijakan yang memastikan pekerja seni mendapatkan penghargaan yang layak.
Tetapi dukungan negara juga harus berhati-hati. Ketika bantuan kebudayaan berubah menjadi alat kontrol, kemerdekaan berkarya kembali terancam. Seniman tidak boleh dipaksa menghasilkan karya sesuai selera kekuasaan hanya karena negara menyediakan anggaran. Di sinilah prinsip penting harus dijaga: dukungan tidak boleh berubah menjadi kendali.
Begitu pula dengan sponsor dan pasar. Seni membutuhkan industri dan pasar, tetapi pasar tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran nilai sebuah karya. Jika semua karya hanya dinilai berdasarkan jumlah penonton, jumlah klik, jumlah penjualan, atau kemampuan mendatangkan keuntungan, maka karya yang kritis, eksperimental, dan tidak populer akan semakin tersingkir. Padahal sejarah seni sering kali membuktikan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari selera mayoritas pada zamannya.
Panggung yang Merdeka Bukan Panggung yang Mahal
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara mengenai ruang seni. Sebuah kota mungkin memiliki gedung kesenian yang megah, tetapi jika biaya penggunaan ruangnya terlalu mahal bagi komunitas, apakah ruang tersebut benar-benar merdeka? Sebuah pusat kebudayaan mungkin dibangun dengan tujuan memajukan seni, tetapi jika seniman lokal tidak mampu menggunakannya, siapa sebenarnya yang menikmati ruang itu?
Ruang kebudayaan tidak cukup hanya tersedia secara fisik. Ia harus terjangkau, terbuka, inklusif, dan dapat diakses oleh pekerja seni. Panggung yang indah tetapi tidak dapat digunakan oleh seniman karena mahal hanyalah arsitektur.
Pusat kesenian yang jauh dari komunitas hanya akan menjadi bangunan. Kemerdekaan kebudayaan membutuhkan ruang yang memungkinkan seniman bertemu, bereksperimen, gagal, mencoba lagi, berdiskusi, mempertunjukkan karya, dan berinteraksi dengan publik. Sebab seni tidak hidup dari gedung. Seni hidup dari manusia yang menghidupkan gedung itu.
Seniman Tidak Boleh Miskin untuk Disebut Idealis
Ada mitos lain yang perlu dibongkar: bahwa penderitaan adalah syarat bagi lahirnya karya besar. Seolah-olah seniman yang hidup berkecukupan akan kehilangan daya kritisnya. Seolah-olah kemiskinan membuat karya menjadi lebih otentik. Seolah-olah kesulitan hidup adalah semacam sertifikat keaslian seorang seniman.
Pandangan ini romantis, tetapi tidak adil. Seniman tidak perlu miskin untuk menghasilkan karya yang kuat. Seniman membutuhkan waktu. Membutuhkan ruang. Membutuhkan ketenangan. Membutuhkan akses terhadap pengetahuan. Membutuhkan peralatan. Membutuhkan kesempatan. Dan semua itu membutuhkan biaya.
Karena itu, memperjuangkan kesejahteraan seniman bukan berarti menjadikan seni kehilangan idealisme. Justru sebaliknya: seniman yang lebih aman secara ekonomi memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kebebasan kreatifnya. Ia tidak mudah dibungkam oleh kebutuhan. Ia tidak mudah dibeli oleh kekuasaan. Ia tidak mudah dipaksa oleh pasar.
Merdeka dari Kemiskinan Kreatif
Kemerdekaan yang sesungguhnya mungkin bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari kondisi yang memaksa manusia meninggalkan panggilan hidupnya. Dalam konteks seniman, kemiskinan bukan hanya persoalan tidak memiliki uang. Ada pula bentuk kemiskinan yang lain: kemiskinan waktu, kemiskinan ruang, kemiskinan kesempatan, kemiskinan akses, dan kemiskinan penghargaan.
Seorang seniman yang sepanjang hari bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mungkin masih memiliki gagasan, tetapi tidak memiliki waktu untuk mengolahnya. Seorang penulis mungkin memiliki buku yang ingin ditulis, tetapi tidak memiliki waktu karena harus bekerja dari pagi hingga malam. Seorang aktor mungkin memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki akses ke ruang latihan.
Seorang di komunitas seni mungkin memiliki gagasan besar, tetapi tidak memiliki dana produksi. Mereka secara formal merdeka. Tetapi secara praktis belum sepenuhnya merdeka.
Kemerdekaan Harus Membuat Seniman Berani Berkarya
Pada akhirnya, kemerdekaan berkarya bukanlah kemewahan. Ia merupakan bagian dari kehidupan kebudayaan yang sehat. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang mampu membangun jalan, gedung, teknologi, dan ekonomi. Bangsa yang merdeka juga harus mampu memberi ruang bagi warganya untuk berpikir, mempertanyakan, mengkritik, berimajinasi, dan menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.
Seniman berada di salah satu garis terdepan dalam wilayah itu. Mereka membaca zaman melalui kepekaan. Mereka mempertanyakan kenyataan melalui karya. Mereka menyimpan ingatan masyarakat melalui cerita. Mereka membuka kemungkinan masa depan melalui imajinasi.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, jangan hanya bertanya apakah seniman bebas berkarya. Tanyakan pula: Apakah ia memiliki waktu untuk berkarya? Apakah ia memiliki ruang untuk berkarya? Apakah ia memperoleh bayaran yang layak dari pekerjaannya? Apakah ia memiliki kebebasan untuk menolak intervensi Apakah negara memberi dukungan tanpa mengambil alih kebebasan kreatifnya?
Dan yang paling penting: Apakah masyarakat menghargai seni sebagai kerja, bukan sekadar hiburan? Kemerdekaan sejatinya bukan keadaan tanpa batas. Kemerdekaan adalah kemampuan manusia menentukan pilihan tanpa dipaksa oleh keadaan yang tidak adil.
Maka bagi seniman, kemerdekaan berkarya dan kemerdekaan finansial bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling menopang. Seniman membutuhkan uang agar dapat hidup, tetapi uang tidak boleh menentukan seluruh isi pikirannya. Seniman membutuhkan pasar, tetapi pasar tidak boleh menjadi satu-satunya hakim atas nilai karya.
Seniman membutuhkan negara, tetapi negara tidak boleh menjadi pemilik kebebasan kreatifnya. Seniman membutuhkan panggung, tetapi panggung tidak boleh menjadi ruang yang hanya dapat dimasuki mereka yang mampu membayar.
Pada akhirnya, kemerdekaan yang paling penting bagi seorang seniman adalah kemampuan untuk tetap menjadi dirinya sendiri di tengah berbagai tekanan kehidupan. Sebab karya yang benar-benar merdeka bukanlah karya yang tidak mengenal uang, pasar, negara, atau kebutuhan hidup.
Karya yang merdeka adalah karya yang tidak menyerahkan seluruh kebebasan jiwanya kepada semua itu. Dan mungkin di situlah makna kemerdekaan yang paling dalam: bukan sekadar memiliki hak untuk berkarya, tetapi memiliki cukup ruang kehidupan untuk memilih apa yang hendak kita katakan melalui karya.
Karena seorang seniman yang terus-menerus dipaksa memilih antara berkarya atau bertahan hidup sesungguhnya belum sepenuhnya menikmati kemerdekaan. Ia baru bebas secara hukum. Tetapi belum tentu bebas dalam kehidupan.
Tentang Penulis:
Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.


