Rabu, 23 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Setetes Darah di Bumi Duan Lolat: Refleksi 40 Tahun Pelayanan Laki-Laki GPM Sejahtera

Oleh: Johanis Kopong

 

Baca juga: Menguntai Doa di Batas Negeri: Refleksi Kasih dan Pengabdian RD Ponsianus Ongirwalu pada HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71

Denyut Kemanusiaan dari Saumlaki: Kala Mimbar Ibadah dan Aksi Sosial Menyatu

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Rabu, 23 September 2026. Suasana di sekitar kompleks Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Sejahtera, Jalan Ki Hajar Dewantoro, Kelurahan Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, terasa berbeda dari biasanya. Gelak tawa hangat dan sapaan akrab khas warga Tanimbar berpadu harmonis dengan kesibukan tim medis yang sigap menata peralatan steril. Di tempat yang biasanya dipenuhi oleh keheningan liturgi dan untaian doa tersebut, makna ibadah kini diejawantahkan secara nyata melalui sebait aksi sosial: donor darah.

​Aksi kemanusiaan ini digelar khusus oleh Panitia Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-40 Wadah Pelayanan Laki-Laki GPM Jemaat Sejahtera. Perayaan empat dekade perjalanan wadah pelayanan pria gereja ini tidak sekadar diisi dengan ritual seremoni semata, melainkan diwujudkan dalam bentuk kepekaan sosial terhadap pergumulan nyata masyarakat setempat, khususnya terkait krisis ketersediaan stok darah di wilayah Kepulauan Tanimbar.

Baca juga: Menyemai Kasih di Bumi Tanimbar: Ketika Iman Berwujud Tidakan Nyata untuk 83 Anak Bangsa

Spiritualitas yang Berdampak dan Menghidupkan

​Ketua Majelis Jemaat GPM Sejahtera, Pendeta Erwin Mairuhu, S.Si., menegaskan bahwa spiritualitas yang sejati hendaknya tidak berhenti di dalam gedung gereja, melainkan harus mampu menyentuh dan berdampak langsung bagi kehidupan sesama manusia. Mengusung tema besar peringatan “Bersyukur dan Jangan Melupakan Tuhan”, persekutuan ini memandang aksi donor darah sebagai bentuk nyata dari ungkapan rasa syukur atas anugerah kehidupan.

​”Salah satu cara kita bersyukur dan menyatakan iman adalah dengan mengakui bahwa kehidupan ini adalah punya Tuhan, bukan hanya kepada seseorang secara personal laki-laki, tetapi kepada semua orang. Cara untuk memberikan kehidupan adalah dengan donor darah. Memang darah ini anugerah Tuhan yang melekat pada seseorang, tetapi darah itu juga adalah bagian daripada cara kita untuk memberikan kehidupan kepada orang lain yang sekiranya membutuhkan,” ujar Pendeta Erwin Mairuhu, S.Si., saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Menjawab Pergumulan dan Jerat Kepasrahan Warga

​Pendeta Erwin mengungkapkan bahwa langkah ini lahir dari kepekaan para pria gereja terhadap realitas sosial yang kerap dijumpai di Tanimbar. Pemenuhan kebutuhan darah di rumah sakit sering kali menjadi persoalan krusial yang menguji ketahanan mental maupun finansial dari keluarga pasien.

​”Dalam ruang pelayanan gereja, ada banyak saudara yang membutuhkan kehidupan, bukan soal material, tetapi bagaimana sekecil apa pun yang ada pada kita bisa kita bagikan. Banyak saudara-saudara kita bersikap pasrah karena untuk sekantong darah, memang ada hal-hal yang dilakukan keluarga dalam upaya mendapatkan berapapun nilainya demi menjaga kehidupan saudara yang sakit. Melalui tindakan ini, kami mau memastikan bahwa kita semua sama di mata Tuhan. Kami mau berbagi dengan mereka, mereka punya kurang, kami juga punya kurang,” tutur Pendeta Erwin penuh haru.

​GPM Jemaat Sejahtera berkomitmen untuk menjadikan aksi kepedulian seperti ini bukan sekadar agenda musiman saat perayaan ulang tahun belaka, melainkan gerakan sosial yang dapat berjalan secara berkelanjutan melalui sinergi bersama pemerintah, lembaga kesehatan, serta berbagai elemen masyarakat.

Melampaui Sekat Dogma Melalui Aksi Kemanusiaan

​Pemandangan di dalam ruangan donor memperlihatkan potret kebersamaan yang indah. Lengan-lengan baju digulung, dan jarum medis dengan lembut mengalirkan darah merah ke dalam kantong-kantong steril. Menariknya, para pendonor yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan jemaat lokal semata.

​Terlihat hadir dan mendonorkan darahnya Sekretaris Dewan Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat Saumlaki, Kepala Bappeda Kepulauan Tanimbar dari Jemaat Ebenhaezer Kota, hingga Bidan Jumi dari RSUD dr. P.P. Magretti Saumlaki. Kehadiran figur dari latar belakang keagamaan Katolik, Protestan, hingga unsur birokrasi ini mempertegas pesan kuat bahwa urusan menyelamatkan nyawa manusia melampaui sekat-sekat dogmatis maupun kelembagaan.

Tantangan Ketersediaan Darah di Ujung Selatan Maluku

​Dari kacamata medis, kondisi ketersediaan darah di Kabupaten Kepulauan Tanimbar memang menuntut perhatian serius dari seluruh pihak. Kepala Instalasi Laboratorium RSUD dr. P.P. Magretti Saumlaki, dr. Lambu Henderika Da Costa, Sp.PK., mengungkapkan bahwa kebutuhan darah di Tanimbar rata-rata mencapai 60 kantong setiap bulannya, dengan tingkat permintaan tertinggi pada golongan darah O.

​”Golongan darah O adalah yang paling sering kosong. Dua minggu lalu kami dapat 10 kantong, itu kurang lebih 2 sampai 3 hari sudah habis. Kebanyakan pasien dari kampung-kampung atas datang dengan HB 3 atau 4. Jadi kalau HB 3 atau 4, kami butuhkan sekitar 4 kantong, itu yang membuat kebutuhan golongan darah cepat habis,” terang dr. Lambu Henderika Da Costa, Sp.PK.

Inovasi Skema Bank Darah Hidup dan Standar Kualitas Medis

​Dokter Lambu juga menerangkan tantangan teknis dalam pengelolaan darah. Mengingat darah hasil donor memiliki batas masa simpan maksimal satu bulan pada suhu 2 hingga 8 derajat Celsius di dalam kulkas medis, pihak rumah sakit menerapkan mekanisme Bank Darah Hidup agar stok tidak terbuang sia-sia (overload). Skema ini mendata identitas serta nomor kontak calon pendonor yang sewaktu-waktu siap dipanggil saat terjadi kondisi darurat.

​Untuk menjamin keamanan, baik bagi pendonor maupun bagi pasien penerima (resipien), seluruh proses pemeriksaan dan skrining kesehatan dilakukan secara ketat dan tanpa dipungut biaya.

​”Persyaratan utama pendonor harus siap secara fisik dan jasmani, tensi darah aman dengan batas tertinggi 160/100 mmHg, serta kadar HB di atas 12,5 g/dL. Setelah itu masuk tahap skrining wajib untuk mendeteksi penyakit HIV, Sifilis, Hepatitis B, dan Hepatitis C. Jika semua aman dan layak, calon pendonor baru diperbolehkan mendonorkan darahnya. Semua kegiatan kolaborasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama Rumah Sakit ini gratis,” tegas dr. Lambu.

​Aksi sosial donor darah dalam rangka HUT Ke-40 Wadah Pelayanan Laki-Laki GPM Jemaat Sejahtera ini berhasil mengumpulkan puluhan kantong darah dengan variasi golongan darah yang beragam, yang selanjutnya diserahkan langsung ke RSUD dr. P.P. Magretti Saumlaki. Sebuah kontribusi sederhana namun bermakna dalam menjaga asa dan nyawa sesama di Bumi Duan Lolat.

​(Sumber: Wawancara Lapangan)

Kategori:
Tags:

Terkini