Oleh: joko
http://suaraanaknegeri.com | Manila, Filipina, Senin, 15 Juni 2026 – Di tengah dunia yang masih diwarnai konflik, balas dendam, dan sikap saling menyakiti, RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, mengajak umat Kristiani untuk menghadirkan semangat kasih yang melampaui naluri membalas kejahatan dengan kejahatan.
Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu: Ketika Kasih Mengetuk Pintu Para Lansia
Melalui renungan harian bertajuk “Sejenak Sabda”, yang berpedoman pada Bacaan Pertama Kitab Pertama Raja-Raja 21:1–16 dan Injil menurut Matius 5:38–42, RD. Domincs menegaskan bahwa damai tidak akan pernah lahir apabila manusia terus memelihara lingkaran kekerasan.
“Hendaklah kita berani untuk memutus lingkaran setan kekerasan. Jika kejahatan dibalas kejahatan, dunia tidak akan pernah damai. Sehingga hendaklah kita berani untuk memaafkan. Ingat bahwa memaafkan dan menahan diri adalah tanda kekuatan mental dan spiritual yang sejati, bukan kelemahan,” ungkapnya.
Menurut RD. Domincs, ajaran Yesus dalam Injil mengajak setiap orang untuk memiliki keberanian moral dalam menghadapi konflik. Mengampuni bukan berarti menyerah kepada kejahatan, melainkan menunjukkan kedewasaan iman yang mampu mengalahkan dorongan balas dendam.
Baca juga: Pdt. Haris Boritnaban: Kenali Tanda Manusia Lama, Hidupilah Manusia Baru
Selain itu, ia mengingatkan agar setiap orang tidak terjebak pada sikap keras kepala dan egoisme yang sering memperuncing persoalan-persoalan kecil dalam kehidupan.
“Kita diajak untuk tidak menjadi pribadi yang keras kepala, kaku, dan egois dalam mempertahankan hak milik atau harga diri dalam konflik kecil. Kadang-kadang, mengalah dan melepaskan sesuatu yang kita miliki jauh lebih mulia demi menjaga kedamaian dan memenangkan hati orang lain, daripada bersikeras mempertahankan ego yang justru memperpanjang permusuhan,” katanya.
RD. Domincs juga mengajak umat untuk menjalani hidup dengan semangat memberi yang tulus, bukan sekadar memenuhi kewajiban atau melakukan sesuatu karena terpaksa.
“Jangan hidup dengan mentalitas minimalis atau terpaksa. Ketika kita bekerja, menolong orang, atau melakukan kewajiban, lakukanlah dengan kerelaan hati dan berikanlah yang terbaik melebihi apa yang diharapkan atau dituntut dari kita. Mengubah kewajiban yang dipaksakan menjadi tindakan kasih yang sukarela mengubah posisi kita dari ‘korban’ menjadi ‘pemenang’,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa kemenangan sejati tidak diukur dari kemampuan membalas perlakuan orang lain, melainkan dari keberanian mengalahkan kejahatan dengan kasih, kemurahan hati, dan pengampunan.
Menutup renungannya, RD. Domincs mengajak umat memohon pertolongan Tuhan agar mampu menghidupi ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
“Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu mengalahkan kejahatan bukan dengan senjata yang sama, yakni kekerasan atau balas dendam, melainkan menaklukkan kejahatan dengan kelimpahan kebaikan, kemurahan hati, dan kasih yang radikal.”
Pesan Injil menurut Matius 5:38–42 menegaskan bahwa kasih memiliki daya yang jauh lebih kuat daripada kebencian.
Ketika seseorang memilih mengampuni, mengalah demi damai, dan memberi lebih dari yang dituntut, pada saat itulah nilai-nilai Kerajaan Allah hadir secara nyata di tengah kehidupan.





