Sabtu, 01 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menguji Workshop untuk Deep Learning*

Oleh:Rahman Arif

SUARA ANAK NEGERI- Pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) sedang menjadi salah satu kata kunci dalam transformasi pendidikan Indonesia. Istilah ini menjanjikan pembelajaran yang lebih bermakna (meaningful), sadar (mindful), dan menggembirakan (joyful).

Gagasan tersebut tentu menarik karena selama bertahun-tahun dunia pendidikan dikritik terlalu berorientasi pada hafalan, nilai ujian, dan penyelesaian materi.

Baca juga: KETIKA DOKUMEN ADAT DIJADIKAN ALAT KEKUASAAN: MENIMBANG KEMBALI "SUMPAH TRISAKTI" DALAM PERSPEKTIF KONSTITUSI DAN NEGARA HUKUM

Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah deep learning merupakan konsep yang baik, melainkan: dalam kondisi apa ia benar-benar menghasilkan pembelajaran yang bermakna, dan dalam kondisi apa ia hanya berubah menjadi slogan kebijakan?

Sejarah pendidikan menunjukkan bahwa hampir setiap dekade selalu muncul istilah baru yang menjanjikan perubahan besar. Pernah ada active learning, student-centered learning, contextual teaching and learning, higher order thinking skills (HOTS), project-based learning, hingga 21st century skills.

Sebagian berhasil mengubah praktik pembelajaran, tetapi tidak sedikit yang akhirnya berhenti sebagai jargon administratif karena implementasinya tidak diikuti perubahan kapasitas maupun budaya sekolah. Oleh sebab itu, deep learning sebaiknya tidak dipandang sebagai “obat ajaib”, tetapi sebagai pendekatan yang hanya akan berhasil jika didukung oleh ekosistem pendidikan yang tepat.

Baca juga: MELURUSKAN NARASI ORYOIN: CATATAN KRITIS ATAS ARTIKEL "MENGALIRKAN KEDAMAIAN DARI WEYE ORYOIN" Membedakan Fakta, Interpretasi, dan Konsekuensi Hukum dalam Sengketa Sumber Daya Alam

Namun, pemahaman konsep demikian tidak cukup. Tantangan terbesar justru berada pada implementasinya. Di sinilah muncul pertanyaan lagi, apakah guru perlu mengikuti diklat atau workshop? Jawabannya adalah ya, tetapi bukan sembarang diklat atau workshop. Dari sini workshop mulai diuji efektivitasnya.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pelatihan guru memang dapat meningkatkan kompetensi profesional, tetapi efeknya sangat bergantung pada desain pelatihan.

Fakta tersebut mengandung pelajaran penting. Yang dibutuhkan bukan sekadar workshop, melainkan transformasi kompetensi apa yang didapat guru dari desain pelatihan.

Sejatinya, workshop hanya menjadi pintu masuk. Perubahan sesungguhnya terjadi ketika guru memperoleh kesempatan mencoba, gagal, memperbaiki, berdiskusi dengan sejawat, menerima umpan balik, kemudian mencoba kembali. Dalam ilmu pembelajaran orang dewasa, proses seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mendengarkan materi selama beberapa jam.

Di sisi lain, ada beberapa kondisi yang membuat deep learning berpotensi berubah menjadi slogan kebijakan.

Pertama, ketika perubahan hanya berhenti pada istilah. Guru diminta mengganti nama RPP menjadi modul ajar, menambahkan istilah mindful, meaningful, dan joyful, tetapi praktik mengajarnya tetap sama. Akibatnya yang berubah hanya dokumen administrasi.

Kedua, ketika evaluasi keberhasilan masih berorientasi pada penyelesaian materi dan nilai ujian semata. Sulit mengharapkan guru memberi ruang eksplorasi, diskusi, dan refleksi apabila ukuran keberhasilan sekolah tetap ditentukan oleh seberapa cepat seluruh materi selesai diajarkan.

Ketiga, ketika beban administrasi guru tetap tinggi. Pembelajaran mendalam membutuhkan waktu untuk merancang aktivitas, membuat asesmen autentik, memberikan umpan balik individual, dan melakukan refleksi. Jika sebagian besar energi guru masih tersita untuk pekerjaan administratif, maka konsep deep learning akan sulit diwujudkan.

Keempat, ketika pemangku kepentingan sekolah hanya berperan sebagai pengawas administrasi, bukan pendamping pembelajaran. Berbagai penelitian tentang pengembangan profesional guru menunjukkan bahwa pemangku kepentingan sekolah merupakan salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan perubahan praktik pembelajaran.

Kelima, ketika pelatihan tidak berkelanjutan. Banyak sekolah merasa telah selesai melaksanakan inovasi hanya karena guru telah mengikuti satu kali workshop. Padahal, meta-analisis menunjukkan bahwa perubahan perilaku mengajar memerlukan latihan yang berulang, praktik nyata, refleksi, serta komunitas belajar profesional (professional learning community).

Dengan demikian, pertanyaan mendasarnya bukan “perlukah diklat atau workshop?”, melainkan “Apakah diklat atau workshop tersebut benar-benar mengubah praktik mengajar?”

Jika pelatihan hanya menghasilkan sertifikat atau foto selebrasi, maka ia hanya menambah arsip.

Namun jika pelatihan mampu mengubah cara guru merancang pembelajaran, mengajukan pertanyaan, memberi umpan balik, dan membangun budaya berpikir kritis di kelas, maka pelatihan tersebut merupakan investasi pendidikan yang bernilai tinggi.

Pada akhirnya, deep learning bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna. Konsep ini akan berhasil apabila didukung oleh guru yang kompeten, kepala sekolah yang visioner, budaya sekolah yang kolaboratif, asesmen yang selaras, serta kebijakan yang memberi ruang bagi guru untuk terus belajar. Tanpa itu semua, deep learning berisiko menjadi istilah baru yang menggantikan istilah lama tanpa membawa perubahan nyata di ruang kelas.

Kategori:
Tags:

Terkini