Oleh:Reiner Emyot Ointoe & Terry Heesye SIGAR
Sebagai suami dari istri saya bermarga SIGAR, saya juga telah meriset semua buku-buku yang dipakai tiga penulis artikel di atas untuk novel fiksi sejarah saya, Manado 1830: Tiga Tahun Pangeran Diponegoro di Manado(Serat Manado 2017).
Dari semua deskripsi versi tiga penulis yang dirujuk para penulisnya, tak satupun kata atau kalimat yang menjelaskan Londo Ireng asal Minahasa.
Bukankah dalam Java Oorlog(1825-1830), apakah tidak ada Londo Ireng asal Jawa yang tidak berpihak pada perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa — yang menurut Peter Carey menelan kas kolonial Hindia Belanda di Era Gubernur Jendral Batavia, Johanes van den Bosch, sebesar 20.000.000 gulden — alias „berkhianat.“*
Misal, Sentot Alipasha(kelak ikut Perang Aceh) dan juga Kiyai Modjo yang dibuang(exile) di Ambon dan kelak — pada 1831 dipindahkan ke Minahasa(Tondano) dengan 62 pengikutnya — membentuk masyarakat asimilasi kultural, Jawa-Minahasa Tondano(Jaton)**
Bahkan kepesertaan Raden Saleh dan lukisannya yang ditafsir pengamat sejarah dan lukisan versi Belanda, Nicolaas Pieneman, Diponegoro ketika ditangkap bersikap tunduk dan pasrah.
Akan tetapi, versi Raden Saleh, lukisab ini menampilkan Diponegoro dengan wajah marah dan tegak, berbeda dari versi Belanda yang menggambarkannya pasrah.
Sikap ini mencerminkan solidaritas Raden Saleh sebagai kerabat keraton terhadap martabat keraton dan perlawanan Diponegoro terhadap kolonialisme.
Dengan kata lain, versi tafsir tulisan itu sangat subyektif terhadap — cuma marga Ibu Prabowo Subianto, Dora Marie SIGAR(1921-2008) — yang terlalu berlebihan.
Dan tentu, menurut subyektif saya, ke biogenetik dari ayah menantu saya, Wim SIGAR(1940-1992) asal Tondano.
Kendati, terlalu memamerkan data „berkelas“ kualitatif sebagai artikel pdeudo-ilmiah dan buru-buru untuk menyimpulkan bahwa Thomas Benyamin SIGAR(BTS) adalah Londo Ireng asal Minahasa, tesis itu peyoratif.
Akibatnya, buyut(Dotu/Leluri) Ibu Presiden Prabowo Subianto, Dora Marie SIGAR sebagai „cicit“ turunannya(biogenetik) — determinan historisnya mencapai kurang lebih lima generasi(1791-1888) — bahwa marga SIGAR di bawah nama Benyamin Thomas merupakan satu-satunya „pengkhianat“ hanya pada bangsa Jawa.
Tanggapan saya, karena ide bangsa Indonesia sama sekali belum ada dan bukan rujukan konstruktif sejarah lahirnya bangsa Indonesia!!!
Namanya saja: Java Oorlog(Perang Jawa, 1825-1830). Sebuah local history yang tak sepenuhnya bisa diurut hingga ke Majapahit maupun awal berdirinya kerajaan Mataram(Lihat De Graaf 5-6, Terjemahan Grafiti 1987)
Akhirnya, tesis Londo Ireng yang dialamatkan kepada Thomas Benyamin SIGAR, sepenuhnya „batal“ alias tidak obyektif!!!
Celakanya lagi, Prof. Dr. Mahfud MD sebagai orang Madura, ahli hukum tata negara, ikut membenarkan tesis Londo Ireng ditujukan yang kepada Benyamin Thomas Sigar sebagai „pengkhianat“ bangsa Jawa!(lihat MAHFUD MD: PAK PRABOWO, SAYA BUKAN LONDO IRENG
Mahfud MD Official).
Bahkan tesis itu pun, menurut acuan saya, juga telah dibatalkan oleh 30 tahun riset Peter Carey tentang sejarah hidup Pangeran Diponegoro.
Menurut tafsir heuristik dan hermeneutik sejarah(historiografi) yang dilakukan Carey, tak ada pencantuman dari yang mereka sebut „Tentara Londo“(Belanda: Hulptroepen; atau „Pasukan Tulungan“/Bantuan) asal Minahasa.
Atau, sepanjang masa hidup Pangeran Diponegoro dari Tegalrejo, Semarang, Batavia, Manado(bukan Minahasa) dan berakhir di Fort Rotterdam, Somba Opu sekarang, di Makassar dari 1833 hingga wafatnya 1850, tak ditemukan julukan itu.***
Manado 30 Juli 2026, ReO Bibliothek Kokima Hill.
*Periksa Raden Adipati Ario Joyodiningrat(Penyunting Peter Carey & Aditia Gunawan). 2025. Perang Jawa(1825-1830) dari naskah Sketsa Perang Jawa Tahun 1825: Kesaksian Pelaku Sejarah(Buku Kompas).
**Periksa Tesis Master, Sejarawan Lulusan UGM, Roger Kembuan SS.MHum(Terbit BRI, 2016) atau Roger Allan Christian Kembuan wrote a master’s thesis at UGM entitledSocial and Cultural Exile Communities in the Javanese Village of Tondano(1830–1908)” — „Happiness in Exile: The Social and Cultural Life of Exiles in the Javanese Village of Tondano (1830–1908)” at the Postgraduate Program in History, Faculty of Cultural Sciences Gadjah Mada University, completed in 2016 in the Postgraduate Program in History, Faculty of Cultural Sciences, Gadjah Mada University.
Tim G. Babcock. 1989. Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity(Gadjah Mada University Press).
***Periksa Peter Carey, Ramalan Kuasa, Tiga Jilid(KPG, 2011).
——-. 2014(Buku Kompas). Takdir: Sejarah Pangeran Diponegoro (1785–1855).
#coverlagu:
Album Duo Kolintang: The Sounds from Minahasa adalah kolaborasi antara pianis jazz Dwiki Dharmawan dan pemain kulintang asal Minahasa Ferdinand Soputan, dirilis pada 21 Desember 2021. Album ini berisi 8 lagu yang menggabungkan piano modern dengan kulintang(sebutan yang benar) tradisional Minahasa.
#credit foto meme arti marga SIGAR(1791) dan cover artikel.






