/1/
SENJA (YANG SENGAJA) TERLUKA
Puisi: Edi S Febri
Baca juga: WAYAH AWAN
–
Senja tak lagi mau bercerita
Ada yang menghalang
Menabur jebakan pada diam
Menunggu kesempatan
Kemudian mencincang
Menghambur kata kata makian
Alur cerita yang sama
Mengancam perpisahan
Berharap bisa kembali merendahkan
Baca juga: NUYANG JAIMEE: Doa & Rindu Lima Nama di Selat Sunda
kita
memang berada di tempat yang tak seharusnya
tapi untuk mengakhiri
masih ada rasa yang tak bisa diingkari
Bertingkah semaunya
Memang seperti itulah tabiat senja
Tak ada yang mampu merubah arah
Daur mataharipun terkadang mengalah
Sembunyi di balik awan
Meski masih ada siang
Senja sedang tak ingin bercengkerama
Lupa janji semesta
Ingkari cerita
–
Grinsing, JATENG,
12 Agustus 2026
—
/2/
KEINGINAN YANG TERHEMPAS
Puisi: Edi S Febri
–
Menunggu hujan meluruh di lingkar kemarau itu seibarat menghapus masa lalu dari hidupmu
Tak mungkin mampu
Karena kenangan bersamanya masih kau simpan
Dan sesekali dihadirkan ketika ada kecewa melintas memupus harapan
Kau yang memulai prahara
Tapi kau juga mengaku sebagai yang terluka
Dua peran berbeda
Disatukan dalam cerita
Tak mengaku salah
Mengingkari yang terucap di lidah
kau
bukan peramu hujan
kau
bukan susunan huruf yang terbasahkan
kau
hanya selingan ketika hati sedang kesepian
Tak bisakah keluar dari jerat masa lalu yang memenjarakan langkahmu?
Kau masih bermimpi di pelukan embun
Tapi justru melupa jika saat ini sedang berpijak dikeringnya gurun
Kenangan itu menjadi pembatas
Keinginan dua hati yang terampas
–
Grinsing, JATENG,
12 Agustus 2026
—
/3/
IMAJI TAK MENEPATI JANJI
Puisi: Edi S Febri
–
Tidurlah
Matahari sedari tadi telah terlelap
Lepaskan sukma dari raga
Tidurlah
Pejamkan mata
Biarkan semua berlalu di garis semesta
Tak usah disesali
Atau mengingat kembali
Anggap saja dia telah mati
Membawa cerita yang selalu berganti
Tidurlah
Nikmati semua di malam ini
Sebelum menuju pagi
ada dingin
angin kemarau meniup matahari
memeluk
berbisik
raga tetaplah sunyi
tak ada yang menemani
Tidurlah
Imaji juga butuh waktu untuk tak menepati janji
–
Grinsing, JATENG
6 September 2026
—
/4/
PADA SEBUAH PERTEMUAN (02)
(teruntuk : Devita)
Puisi: Edi S Febri
–
Meski sekejap
Tapi membuat segalanya berbunga
Memecah kesunyian
Singkirkan beban
Lesap di pelukan
Pertemuan yang singkat
Kangenpun tak lagi menyesak
Seluas mata memandang
Hanya ada wajahmu di setiap ingatan
Kau
Seakan kembali membuatku hidup
Setelah sekian lama terkungkung laut kematian
–
Grinsing, JATENG
09 September 2026
—
/5/
SEPENGGAL CERITA DI HARI INI
(teruntuk : Farshell yang menjemputku pada dini hari)
Puisi: Edi S Febri
–
pulanglah
malam telah merangkak menuju dini hari
tak baik berada di sini
gemerlap lampu dan alkohol justru semakin membuatmu terpuruk
Ucapmu begitu lembut
Seibarat desau angin menyapu pucuk cemara
Aku diam
Tak mampu beranjak
Kepala terasa berat
aku antar ke rumah
jangan melangkah sendiri
jalanmu tak lagi tegak
Tanganmu melingkar di pundak
Setengah memaksa berdiri
Perut tiba tiba mual
Sedetik kemudian muntah
baguslah
buang minuman itu dari perutmu
nanti setelahnya akan lega
Langkah terhenti
Rasa enggan kembali menggoda untuk tak pergi
Hari ini
Terpaan badai terlalu kencang menghampiri
Tak bisa dihindari
ayo pulanglah
aku temani sampai kau ingat pada jati diri
aku tak akan pergi
meski dinding pemisah menghalangi
Kecupan lembut di kening membuatku tersadar
Aku sedang tidak bermimpi
–
Grinsing, JATENG
16 Juli 2026
———
Edi S Febri
Edi S Febri kembali berpuisi setelah beberapa lama menyepi dikeheningan. Masih dengan puisi romantis dan mendayu, menggambarkan sosoknya yang terlahir di bawah zodiak aquarius yang misterius dan sulit dipahami. Edi S Febri tinggal di Batang Jawa Tengah dan bekerja sebagai jurnalis.


