Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR
–
SATUPENA Bondowoso – Tidak semua gunung hanya untuk didaki. Ada gunung yang harus didengarkan. Itulah semangat yang diusung dalam Bengkel Kurasi dan Penulisan Kreatif bertema “Telusur Jejak Kosmis: Mitologi Taman Bumi Ijen” yang digelar pada 18-19 September 2026 di Taman Literasi SMADA Bondowoso.
Baca juga: MEMATIKAN EGO SENTRIS
Kegiatan ini diinisiasi sebagai upaya merawat Taman Bumi (Geopark) Ijen tidak hanya dari sisi geologi, tetapi juga dari sisi mitologi, ekologi, dan kemanusiaan. Jika selama ini Ijen dikenal lewat blue fire dan kawah belerangnya, bengkel ini mengajak peserta untuk melihat Ijen sebagai teks kebudayaan yang hidup.
Dua pemateri dihadirkan untuk memandu penelusuran ini.
Pertama, Fitri Nura Murti, S.Pd.,,M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember. Beliau akan membedah bagaimana mitologi lokal dapat dikurasi menjadi karya sastra dan pengetahuan yang memiliki struktur akademik yang kuat, tanpa kehilangan rasa lokalnya.
Baca juga: Konstitusi di Bawah Bayang-bayang Dinasti
Kedua, Sulung Lukman, S.S., Pegiat Sastra Tapal Kuda Jember. Mas Sulung dikenal sebagai penjaga cerita-cerita lisan Tapal Kuda. Ia akan mengajak peserta untuk menggali cerita rakyat, mantra, dan pantangan masyarakat di sekitar Ijen yang selama ini hanya hidup dari mulut ke mulut.
> “Kita ingin penulis tidak hanya datang sebagai turis literasi. Tapi sebagai kurator ingatan. Ijen itu bukan objek foto, dia subjek yang punya ingatan panjang. Tugas kita adalah menyalin ingatan itu dengan jujur,” ujar Taufan S. Chandranegara, inisiator kegiatan.
Bengkel ini didukung penuh oleh Balairw Institute, Komunitas Srawung Sastra, Jhajung, dan berbagai komunitas literasi lainnya. Peserta yang terlibat adalah guru, siswa SMADA, pegiat literasi, dan penulis dari wilayah Tapal Kuda.
Selama dua hari, peserta tidak hanya akan mendapat materi di kelas, tetapi juga diajak melakukan praktik kurasi — memilah cerita, memverifikasi sumber lisan, dan menulis kreatif berbasis riset lapangan.
Diharapkan dari bengkel ini lahir antologi tulisan kuratorial tentang Ijen yang tidak hanya indah secara sastra, tapi juga sahih secara budaya. Sebuah upaya kecil agar Geopark Ijen tetap menjadi Taman Bumi, bukan hanya menjadi taman wisata.
Kota Batu, 18 September 2026
Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR


