Kamis, 17 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

NUYANG JAIMEE: Doa & Rindu Lima Nama di Selat Sunda

Redaksi Suara Anak Negeri

Kekuatan utama puisi Lima Nama di Selat Sunda karya Nuyang Jaimee yang dibacakan Senin malam 14 September 2026 di Plaza Taman Ismail Marzuki dibacara “Malam Doa dan Rindu, Menanti Kabar 5 Wartawan yang Hilang Di Krakatau” ini terletak pada pergeseran sudut pandang: dari sebuah peristiwa jurnalistik menjadi persoalan kemanusiaan.

Pada awalnya, lima wartawan digambarkan sebagai orang-orang yang menjalankan profesinya—membawa kamera, catatan, dan keinginan untuk melihat lebih dekat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tetapi setelah komunikasi terputus, mereka tidak lagi sekadar menjadi subjek berita.

Baca juga: Polres Kepulauan Tanimbar Serahkan Tersangka Dugaan Penganiayaan kepada Jaksa

 

Mereka berubah menjadi lima manusia yang sedang ditunggu kepulangannya.
Kalimat:

Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Poem Collection: "THE BIRD THAT FLIES CARRYING YOUR NAME"

“Krakatau,
hari ini kami tidak sedang menulis
tentang letusan
Kami sedang menunggu
lima manusia pulang”

menjadi titik emosional penting dalam puisi. Di sini Nuyang membalik fungsi jurnalistik. Biasanya wartawan membawa berita kepada masyarakat. Kini justru masyarakat, keluarga, dan sesama wartawan menunggu berita tentang mereka.

Puisi kemudian membangun pertentangan antara keberanian dan ketidakberdayaan. Lima wartawan pergi mendekati bencana agar masyarakat dapat mengetahui apa yang terjadi. Mereka “menulis ketika yang lain memilih diam”, “bertanya ketika kekuasaan ingin pertanyaan hilang”, dan “membawa suara ketika seringkali suara tak terdengar dan dibungkam.” Bagian ini memperluas makna profesi wartawan: bukan hanya pekerjaan mengambil gambar atau menulis berita, tetapi bagian dari upaya menghadirkan kesaksian kepada publik.

Namun paradoks terbesar muncul dalam bait:

“Dan kini
suara mereka sendiri
yang sedang kami tunggu”

Inilah salah satu pusat kekuatan puisi. Orang-orang yang selama ini merekam suara orang lain, kini justru menjadi suara yang hilang. Kamera yang biasanya menghasilkan gambar, kini menjadi simbol penantian.

Diksi “lima nama” juga sengaja lebih kuat daripada sekadar menyebut “lima wartawan”. Nama menunjukkan identitas manusia. Mereka bukan angka dalam laporan kehilangan. Karena itu, bagian akhir bergerak dari profesi menuju keluarga:

“Sebab di balik setiap kamera
ada mata
di balik setiap berita
ada keberanian
di balik lima nama
yang malam ini
kami sebut dalam doa
ada lima keluarga
yang sedang menunggu”

Penutup ini mengembalikan seluruh persoalan kepada manusia. Wartawan tidak hanya memiliki kamera, profesi, dan tugas. Mereka memiliki keluarga, orang-orang yang mencintai, dan rumah untuk pulang.

Secara struktur, puisi ini juga mengikuti perjalanan emosional sebuah malam doa: dimulai dari fakta dan kronologi, bergerak menuju kecemasan, kemudian menjadi doa, lalu ditutup dengan harapan. Pengulangan “Kami masih hidup!” tiga kali menjadi semacam suara imajiner dari mereka yang sedang dicari. Repetisi tersebut bukan sekadar penegasan, tetapi menjadi mantra harapan agar pencarian tidak berakhir pada kabar duka.

Ada pula personifikasi terhadap Krakatau dan laut. Krakatau diajak berbicara:

“Krakatau,
kalau kau masih menyimpan mereka
jangan sakiti mereka”

Laut yang dalam berita menjadi ruang pencarian, dalam puisi berubah menjadi kemungkinan jalan pulang: “Biarkan laut menjadi jalan pulang.” Dengan demikian, alam tidak hanya tampil sebagai ancaman, tetapi juga sebagai ruang yang masih mungkin mengembalikan mereka.
Pada akhirnya, “Lima Nama di Selat Sunda” bukan puisi tentang kematian. Ia justru menolak mendahului takdir. Puisi ini berdiri di wilayah antara kehilangan dan harapan—antara kabar yang belum datang dan doa agar kabar itu membawa keselamatan.

Karena itu, baris:

“Dan Indonesia,
jika esok mereka kembali,
jangan hanya sambut mereka
sebagai berita
Sambut mereka
sebagai manusia”

menjadi penutup yang sangat penting. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap berita selalu ada manusia yang menjalankan tugas dengan risiko nyata.
Untuk malam “Doa dan Rindu”, puisi ini berfungsi bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai kesaksian emosional dari komunitas pers dan masyarakat yang sedang menunggu.

Lima nama belum selesai menjadi berita. Lima nama masih dipanggil dalam doa. Dan selama harapan belum padam, laut Selat Sunda masih menyimpan kemungkinan: membawa mereka pulang!. [PM]

Kategori:
Tags:

Terkini