Selasa, 02 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD. Domincs Baldawins Masriat: Setia pada Tuhan, Taat pada Negara

http://suaraanaknegeri.com | Manila, Filipina, Selasa, 2 Juni 2026 – Di tengah dunia yang semakin kompleks, ketika kepentingan politik, ekonomi, dan kehidupan spiritual kerap saling beririsan, umat beriman ditantang untuk tetap mampu menempatkan diri secara bijaksana. Tidak larut dalam ekstremitas, tetapi juga tidak kehilangan arah moral dan iman.

Pesan tersebut disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, dalam refleksi harian Sejenak Sabda yang bersumber dari Bacaan Injil Markus 12:13-17 dan Bacaan Pertama 2 Petrus 3:12-15a,17-18.

Melalui perikop Injil tentang pertanyaan jebakan kepada Yesus mengenai kewajiban membayar pajak kepada Kaisar, RD. Domincs mengajak umat untuk melihat kebijaksanaan Kristus dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan dan kepentingan tersembunyi.

Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu: Api Iman Sifnane Jangan Padam di Tengah Zaman

Menurutnya, para lawan Yesus datang bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menjebak-Nya melalui pujian yang tampak manis di permukaan. “Para lawan Yesus datang dengan pujian palsu untuk menjebak-Nya dalam dilema politik yang berbahaya. Namun Dia tidak terkecoh oleh jebakan mereka.”

Bagi RD. Domincs, sikap Yesus menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan modern yang sarat dengan berbagai bentuk manipulasi, pengaruh, dan kepentingan.

Di tengah situasi yang membingungkan, seseorang tidak boleh mudah terbawa emosi ataupun terlena oleh sanjungan yang menyesatkan. “Oleh karena itu, belajar dari Yesus, kita diajarkan untuk tidak mudah terkecoh oleh sanjungan yang manipulatif. Saat dihadapkan pada situasi yang serba salah atau konflik kepentingan, kita harus bersikap tenang, cerdik, dan menggunakan hikmat (kebijaksanaan), bukan emosi,” tegasnya.

Baca juga: Pdt Daniel Batmanlussy: Gereja Tidak Akan Bertumbuh Tanpa Karunia Roh

Namun refleksi tersebut tidak berhenti pada kebijaksanaan pribadi. RD. Domincs juga menyoroti pentingnya tanggung jawab sosial sebagai bagian dari panggilan hidup orang beriman.

Menurutnya, menjadi Katolik yang baik bukan hanya soal kesetiaan pada ajaran Gereja, tetapi juga kesadaran untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Ketaatan terhadap hukum, kontribusi positif bagi masyarakat, serta kesediaan menjalankan kewajiban sipil merupakan bagian dari kesaksian iman dalam kehidupan sehari-hari. “Kita harus taat juga pada hukum yang berlaku, berkontribusi positif bagi lingkungan, dan memenuhi kewajiban kita demi ketertiban umum.”

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kesibukan mengejar berbagai pencapaian duniawi tidak boleh membuat manusia kehilangan orientasi hidup yang sejati.

Harta, jabatan, kekuasaan, dan status sosial hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. “Jangan sampai kesibukan kita mengejar hal-hal duniawi, seperti uang, kekuasaan, dan status, membuat kita lupa memberikan hati, waktu, kesetiaan, dan hidup kita kepada Sang Pencipta,” pesannya.

Lebih jauh, RD. Domincs menilai bahwa Yesus menunjukkan jalan tengah yang bijaksana. Ia tidak terjebak dalam pola pikir yang mempertentangkan urusan dunia dan urusan rohani.

Sebaliknya, keduanya harus ditempatkan secara proporsional dan bertanggung jawab. “Kita dipanggil untuk hidup seimbang. Kita harus menjadi warga negara yang baik di bumi, sekaligus menjaga kerohanian dan moralitas kita tetap luhur di hadapan Tuhan.”

Menurutnya, manusia perlu memahami batas dan tanggung jawabnya. Negara memiliki hak atas kewajiban-kewajiban sipil warga, tetapi hati, jiwa, moralitas, dan kesetiaan tertinggi tetap menjadi milik Tuhan.

“Dengan kata lain, kita harus tahu diri dan tahu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Silakan penuhi tanggung jawabmu terhadap dunia dan negara, tetapi ingatlah bahwa jiwa, moralitas, dan kesetiaan tertinggimu hanya milik Tuhan,” ujar RD. Domincs.

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan yang utuh tidak dibangun melalui pilihan ekstrem antara dunia dan Tuhan. Sebaliknya, kehidupan yang matang lahir dari kemampuan menjalankan tanggung jawab sebagai warga masyarakat sekaligus memelihara kesetiaan kepada nilai-nilai ilahi.

Sebab pada akhirnya, hukum manusia mengatur kehidupan di dunia, sementara Tuhan tetap menjadi tujuan tertinggi dari seluruh perjalanan hidup manusia.
Mengakhiri refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak umat memanjatkan doa agar senantiasa diberi kebijaksanaan dalam menjalani kedua tanggung jawab tersebut.

“Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu bertanggung jawab terhadap hukum duniawi, tetapi selalu ingat bahwa jiwa, moralitas, dan kesetiaan tertinggi hanya ada pada-Mu.”

Salam kasih dan doa,
RD. Domincs Baldawins Masriat Pastor Mahasiswa UST Manila, Filipina
Kutipan Utama (Pull Quote) “Kita harus tahu diri dan tahu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Silakan penuhi tanggung jawabmu terhadap dunia dan negara, tetapi ingatlah bahwa jiwa, moralitas, dan kesetiaan tertinggimu hanya milik Tuhan.” (Jk)

Kategori:
Tags:

Terkini